Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Musim Kemarau Sudah Datang dan Diprediksi Lebih Kering, Siapkan Hal Ini
Kendati sudah masuk musim kemarau, hujan diprediksi tetap akan turun di Balikpapan (IDN Times/Erik Alfian)
  • BMKG menyatakan musim kemarau 2026 sudah dimulai dan diprediksi lebih panjang serta kering akibat pengaruh fenomena El Nino.
  • Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus, dengan imbauan agar masyarakat mulai menghemat air dan melakukan antisipasi sejak dini.
  • Pemerintah bersama BMKG melakukan langkah pencegahan seperti rewetting lahan gambut melalui Operasi Modifikasi Cuaca untuk mengurangi risiko kebakaran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
awal April 2026

BMKG memperbarui prediksi bahwa fenomena El Nino akan terjadi pada semester kedua 2026 dengan intensitas lemah hingga sedang.

7 Juni 2026

BMKG mengumumkan melalui akun Instagram @infobmkg bahwa musim kemarau telah mulai di sejumlah wilayah Indonesia dan diperkirakan lebih kering serta panjang karena pengaruh El Nino. BMKG mengimbau masyarakat untuk siaga menghadapi potensi kekeringan.

Agustus

BMKG memprediksi puncak musim kemarau akan terjadi pada bulan ini, dengan curah hujan lebih sedikit dan durasi lebih panjang dibanding normalnya.

semester kedua 2026

Fenomena El Nino diperkirakan mulai berdampak di Indonesia, menyebabkan berkurangnya curah hujan dan memperpanjang musim kemarau.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    BMKG mengumumkan awal musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia dan memperingatkan bahwa tahun 2026 berpotensi mengalami kemarau lebih kering serta lebih panjang akibat pengaruh fenomena El Nino.
  • Who?
    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Kementerian Kehutanan yang melakukan langkah pencegahan seperti pembasahan lahan gambut melalui Operasi Modifikasi Cuaca.
  • Where?
    Kondisi ini terjadi di berbagai wilayah Indonesia, terutama daerah yang rawan kekeringan dan memiliki potensi kebakaran lahan gambut.
  • When?
    Peringatan disampaikan pada Minggu, 7 Juni 2026, dengan puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada bulan Agustus tahun yang sama.
  • Why?
    Kemarau diprediksi lebih kering karena adanya fenomena El Nino yang menyebabkan penurunan curah hujan dan memperpanjang durasi musim kering di Indonesia.
  • How?
    BMKG mengimbau masyarakat untuk hemat air, panen air hujan, menghentikan pembakaran lahan, menjaga kesehatan, serta memantau informasi cuaca secara berkala sebagai langkah antisipasi dini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Sekarang musim kemarau sudah datang dan katanya akan lebih kering dan lama. BMKG bilang ini karena ada El Nino. Puncaknya nanti di bulan Agustus. Orang-orang disuruh siap-siap, jangan boros air, bisa tampung air hujan, dan jangan bakar lahan. Pemerintah juga bantu supaya tanah tidak kering dan tidak mudah terbakar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Peringatan dini dari BMKG menunjukkan kesiapan dan kepedulian terhadap keselamatan masyarakat menghadapi musim kemarau yang lebih kering. Upaya kolaboratif antara BMKG dan pemerintah, seperti pemetaan wilayah rawan serta penggunaan teknologi Operasi Modifikasi Cuaca untuk menjaga kelembapan lahan gambut, mencerminkan langkah proaktif dalam melindungi lingkungan dan mengurangi risiko kekeringan maupun kebakaran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, musim kemarau sudah mulai datang di sejumlah wilayah di Indonesia. Menurut BMKG, musim kemarau tahun 2026 berpotensi lebih kering dari biasanya dan lebih panjang karena dipengaruhi oleh fenomena El Nino.

Karena itu, BMKG mengingatkan semua pihak siap siaga untuk meminimalisir dampak kekeringan.

"Kesiapsiagaan menjadi kunci agar dampak kekeringan dapat diminimalkan," demikian peringatan dari BMKG dikutip dari akun Instagram @infobmkg, Minggu (7/6/2026).

1. Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus

Air Bendungan Jenggik Lombok Timur menyusut akibat musim kemarau yang melanda NTB. (IDN Times/Muhammad Nasir)

BMKG memprediksi, musim kemarau tahun ini datang lebih cepat di sebagian besar wilayah Indonesia, dengan puncak kemarau terjadi pada Agustus.

"Dengan durasi yang lebih panjang dan curah hujan yang lebih sedikit dibanding normalnya. Masyarakat diimbau untuk mulai melakukan langkah antisipasi sejak dini, terutama di daerah rawan kekeringan," tulis BMKG.

2. Siaga musim kering dengan lakukan hal ini

Ilustrasi kemarau di Bali. (IDN Times/Yuko Utami)

Guna meminimalisir dampak kemarau yang lebih kering, BMKG mengingatkan untuk bersiap siaga dengan melakukan beberapa hal berikut ini:

  • Mulai dari pemetaan wilayah rawan kekeringan, penyediaan air bersih, hingga penguatan sistem peringatan dini

  • Hemat air dari sekarang

  • Panen air hujan

  • Stop pembakaran lahan

  • Jaga kesehatan, di antaranya menggunakan masker jika polusi debu meningkat dan mencukupi kebutuhan air minum.

"Siapkan langkah antisipasi dari sekarang, hemat penggunaan air, dan terus pantau informasi cuaca serta iklim dari BMKG," tulis BMKG.

Disebutkan, Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan telah bekerja sama dengan BMKG melakukan berbagai langkah pencegahan, salah satunya pembasahan kembali (rewetting) lahan gambut menggunakan teknologi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah ini dilakukan untuk menjaga kelembapan lahan gambut sehingga potensi kebakaran bisa dikurangi.

3. Dampak El Nino di Indonesia

Ilustrasi kekeringan akibat kemarau panjang. Cover Grafis IDN Times

Adapun El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang berdampak pada perubahan pola iklim global.

Di Indonesia, El Nino umumnya menyebabkan berkurangnya curah hujan, sehingga musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering.

"Hingga pembaruan awal April, El Nino yang diprediksi akan terjadi pada semester kedua 2026, kemungkinan terjadi dengan intensitas lemah hingga moderate," tulis BMKG.

Editorial Team

Related Article