Jakarta, IDN Times - Hubungan antara Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) dan Presiden ke-7 RI Joko "Jokowi" Widodo telah mewarnai landascape politik nasional, dan menjadi dinamika politik yang banyak mencuri perhatian publik. Relasi kedua tokoh tersebut tidak pernah surut dari sorotan publik, karena menggambarkan tarik-menarik antara loyalitas, kekuasaan, dan kepentingan politik nasional.
Dalam perjalanannya, hubungan Megawati dan Jokowi selama ini terus digambarkan sebagai relasi yang 'panas-dingin'. Di satu sisi, keduanya memiliki sejarah panjang sebagai mitra politik. Di sisi lain, sejumlah peristiwa menunjukkan adanya perbedaan pandangan, terutama menjelang dan sesudah Pilpres 2024.
Pakar politik dari Universitas Nasional Australia (ANU), Prof. Marcus Mietzner dalam sebuah acara bedah buku yang ia tulis bertajuk Ruling Indonesia: Jokowi's Presidency in an Age of Democratic Crisis and Great Power Competition yang difelar Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) pada Jumat, 12 Juni 2026, menggambarkan puncak panas dingin relasi Megawati dan Jokowi yang telah mewarnai landscape politik nasional pada akhir periode kedua kepemimpinan Jokowi.
Karier politik Jokowi tidak dapat dilepaskan dari PDIP. Melalui partai yang dipimpin Megawati, Jokowi menapaki jenjang politik mulai dari Wali Kota Surakarta, Gubernur DKI Jakarta setelah terpilih pada Pilkada DKI 2012, hingga akhirnya mencapai puncak karier sebagai Presiden ke-7 Republik Indonesia selama dua periode.
Selama bertahun-tahun, hubungan keduanya terlihat harmonis. Megawati menjadi figur sentral PDIP yang memberikan dukungan politik, sementara Jokowi menjadi simbol keberhasilan kaderisasi partai. Ia tahu betul bagaimana mencuri hati Megawati demi tiket pencalonannya pada Pilpres 2014.
"Dia harus menghabiskan waktu bersama Megawati, mendengarkan cerita-ceritanya, bahkan memakan nasi goreng buatannya. Hal ini sampai memunculkan meme yang mengejeknya sebagai 'petugas partai' atau pesuruh Mega, seperti meme Megawati yang seolah sedang menggendong Jokowi layaknya bayi," kata dia.
