Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin paparkan penurunan air tanah di Jakarta/dok PAM JAYA)
  • Riset Badan Geologi ESDM periode 2018–2025 menunjukkan laju penurunan muka tanah di sejumlah wilayah Jakarta melambat, seiring berkurangnya area dengan indikasi penurunan signifikan.
  • Perubahan pada peta riset terlihat dari meluasnya area hijau di selatan Jakarta dan pergeseran area merah di utara menjadi kuning, menandakan penurunan tanah menyusut.
  • Hingga September 2026, cakupan air perpipaan PAM Jaya mencapai 83,27 persen atau 1.222.484 sambungan; perusahaan menargetkan layanan 100 persen pada 2029.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2018 hingga 2025

Riset Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat laju penurunan muka tanah di sejumlah wilayah Jakarta mulai melambat. Area dengan indikasi penurunan signifikan berkurang, terutama di selatan dan utara Jakarta.

hingga September 2026

PAM Jaya mencatat 1.222.484 sambungan pelanggan dengan sekitar 9 juta penerima manfaat. Cakupan layanan air perpipaan mencapai 83,27 persen.

Selasa (3/11/2026)

Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin menyampaikan hasil riset ESDM yang menunjukkan Jakarta berhasil menahan laju penurunan muka tanah. Ia mengaitkannya dengan meningkatnya penggunaan air perpipaan.

2029

PAM Jaya menargetkan pelayanan air perpipaan 100 persen. Targetnya mencakup 2.016.011 sambungan pelanggan, kapasitas suplai 32.159 LPS, dan jaringan pipa sepanjang 16.234 kilometer.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Riset Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat laju penurunan muka tanah di sejumlah wilayah Jakarta melambat pada 2018–2025, seiring meningkatnya penggunaan air perpipaan.
  • Who?
    Badan Geologi Kementerian ESDM melakukan riset; PAM Jaya dan Pemprov DKI Jakarta mendorong penggunaan air perpipaan. Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin menyampaikan hasilnya.
  • Where?
    Sejumlah wilayah di Jakarta, dengan area selatan yang semakin hijau pada peta penelitian dan area utara yang sebelumnya merah mulai berubah kuning.
  • When?
    Penelitian mencakup periode 2018 hingga 2025. Data cakupan layanan PAM Jaya tercatat hingga September 2026, sementara pernyataan Arief disampaikan 3 November 2026.
  • Why?
    Penggunaan air tanah berlebihan menjadi salah satu faktor penurunan muka tanah. Peralihan masyarakat ke air perpipaan ditujukan mengurangi ketergantungan pada pengambilan air tanah.
  • How?
    PAM Jaya memperluas layanan jaringan pipa. Hingga September 2026, cakupan pelayanan mencapai 83,27 persen, dengan 1.222.484 sambungan dan kapasitas suplai 23.051 liter per detik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Tanah di Jakarta sekarang turun lebih pelan. Dulu banyak orang mengambil air dari tanah. Sekarang lebih banyak orang memakai air dari pipa PAM Jaya. Penelitian ESDM melihat daerah tanah yang turun banyak mulai berkurang. PAM Jaya sudah melayani 83,27 persen Jakarta dan ingin semua orang mendapat air pipa pada 2029.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Melambatnya penurunan tanah di sejumlah wilayah Jakarta memberi gambaran bahwa perluasan akses air perpipaan mulai berkaitan dengan perubahan nyata di lapangan. Dengan cakupan layanan telah mencapai 83,27 persen dan sekitar 9 juta penerima manfaat, upaya mengurangi ketergantungan pada air tanah memiliki landasan data dari riset Badan Geologi ESDM, bukan semata klaim penyedia layanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Penggunaan air tanah yang berlebihan selama ini menjadi salah satu faktor penyebab penurunan muka tanah di Jakarta. Untuk menekan dampak tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus mendorong masyarakat beralih menggunakan air perpipaan yang disediakan PAM Jaya.

Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Berdasarkan penelitian Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, laju penurunan muka tanah di sejumlah wilayah Jakarta mulai melambat dalam periode 2018 hingga 2025.

"Riset dari Kementerian ESDM, Jakarta berhasil menahan laju penurunan muka tanah. Ini menandakan bahwa masyarakat Jakarta sudah banyak mulai menggunakan air perpipaan," Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin dikutip Selasa (3/11/2026).

1. Indikasi penurunan muka tanah secara signifikan mulai berkurang

Pemkot Jakut perkuat mitigasi pesisir hadapi cuaca ekstrim dan bajir rob. (Dok. Kominfotik JU)

Dia menerangkan, dari hasil penelitian tersebut, area yang sebelumnya menunjukkan indikasi penurunan muka tanah secara signifikan mulai berkurang.

Perubahan itu ditandai dengan semakin meluasnya area berwarna hijau di sisi selatan Jakarta pada peta penelitian.

"Sementara area berwarna merah di sisi utara Jakarta mulai berubah menjadi warna kuning, menggambarkan kondisi penurunan muka tanah semakin menyusut," terangnya.

2. Meningkatnya pemanfaatan air perpipaan oleh masyarakat

Inovasi teknologi yang dihadirkan PAM Jaya untuk mengolah air baku menjadi air perpipaan berstandar air minum sudah sesuai dengan Permenkes No. 2 Tahun 2003 (jakarta.go.id)

Arief menjelaskan, perubahan tersebut sejalan dengan meningkatnya pemanfaatan air perpipaan oleh masyarakat. Dengan tersedianya layanan air bersih melalui jaringan pipa, ketergantungan warga terhadap pengambilan air tanah diharapkan semakin berkurang.

"Ini sesuatu yang secara fakta, bahwasannya layanan 83 persen ternyata terlihat dari riset yang dilakukan bukan oleh kami. Ini Badan Geologi yang melakukan riset," ujarnya.

3. Cakupan pelayanan air perpipaan di Jakarta sebesar 83,27 persen

Instalasi pengolahan air terbesar di Indonesia milik PAM Jaya. (Dokumentasi Pemprov Jakarta)

Arief menambahkan, hasil penelitian tersebut juga telah disampaikannya kepada Gubernur DKI Jakarta. Capaian itu menjadi penyemangat bagi PAM Jaya untuk terus memperluas cakupan pelayanan dan meningkatkan kapasitas distribusi air bersih.

Berdasarkan data PAM Jaya hingga September 2026, jumlah pelanggan telah mencapai 1.222.484 sambungan dengan total penerima manfaat sekitar 9 juta jiwa. Adapun cakupan pelayanan air perpipaan tercatat sebesar 83,27 persen.

Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, PAM Jaya saat ini memiliki kapasitas suplai air sebesar 23.051 liter per detik (LPS), didukung jaringan pipa sepanjang 13.094 kilometer.

Meski demikian, Arief menegaskan bahwa perusahaan masih memiliki pekerjaan besar untuk menuntaskan target pelayanan air perpipaan 100 persen pada 2029.

"PAM Jaya membidik jumlah pelanggan sebanyak 2.016.011 sambungan dengan kapasitas suplai mencapai 32.159 LPS. Panjang jaringan pipa juga ditargetkan meningkat menjadi 16.234 kilometer, dengan dukungan 28 Instalasi Pengolahan Air (IPA)," katanya

Editorial Team

Related Article