Ketum Golkar Bahlil Lahadalia dan Sekjen Golkar M. Sarmuji. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
Ketua Fraksi Partai Golkar, Muhammad Sarmuji, turut menanggapi polemik penerima LPDP yang viral karena mengaku 'cukup aku jadi WNI, anak jangan'. Dia menegaskan, persoalan ini bukan semata pilihan pribadi seseorang, melainkan desain kebijakan yang harus berpihak pada keadilan sosial.
Menurutnya, persoalan utama terkait LPDP adalah struktur persyaratan yang secara faktual lebih mudah dipenuhi oleh kelompok secara sosial-ekonomi sudah kuat.
"Kalau tidak ada afirmasi, yang akan menikmati hanya orang kaya, karena syarat-syarat itu berat sekali. TOEFL bahasa Inggrisnya sekian-sekian. Dan orang yang bisa memenuhi kriteria ini rata-rata pasti orang kaya," ujarnya kepada wartawan, Senin (23/2/2026).
Karena itu, Sarmuji juga secara khusus menyoroti akses alumni pondok pesantren terhadap beasiswa LPDP. Menurutnya, tanpa kebijakan afirmatif, peluang alumni pesantren untuk lolos LPDP akan sangat kecil.
"Misalkan pondok pesantren. Kalau tidak mendapatkan perhatian dari negara, alumni pondok pesantren akan sulit untuk memperoleh beasiswa LPDP. Pesantren-pesantren yang memang pelajarannya harus dibagi antara ilmu keagamaan dan umum, tanpa afirmasi ini akan sulit mendapatkan LPDP," ujarnya.