Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung meninjau pengelolaan sampah di TPS 3R Menteng Atas, Jakarta Selatan, Kamis (30/7/2026). (Dok. DLH DKI)
Pengembangan jaringan transportasi juga terus dilakukan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan jaringan MRT bertambah dari sekitar 15,7 kilometer menjadi 46,5 kilometer pada 2034. Sementara itu, jaringan LRT ditargetkan berkembang hingga 75 kilometer pada 2029.
Jakarta juga mulai memperkuat elektrifikasi transportasi publik. Hingga 2026, Transjakarta mengoperasikan sekitar 4.792 armada, termasuk 500 bus listrik. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan transportasi publik yang lebih ramah lingkungan.
Menurut Pramono, pembangunan transportasi publik tidak semata-mata untuk mengurangi kemacetan. Transportasi publik juga harus menjadi bagian dari solusi perubahan iklim sekaligus memperluas akses mobilitas masyarakat.
Selain transportasi, Jakarta memperkuat pengelolaan sampah. Dengan produksi sekitar 9.000 ton sampah per hari, Pemprov DKI mengubah pendekatan dari sekadar kumpul-angkut-buang menjadi pilah-angkut-olah.
Sejak 1 Agustus 2026, Bantargebang hanya menerima sampah residu. Sementara itu, pemilahan dan pengolahan sampah didorong dilakukan sejak dari sumber.
Jakarta juga mengembangkan fasilitas waste-to-energy (WTE) bersama pemerintah pusat. Dua fasilitas tersebut diarahkan untuk mengolah sampah menjadi energi sekaligus mengurangi beban sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir.
"Pemprov DKI turut memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui Gerakan Pilah Sampah dan kegiatan daur ulang," katanya.