Jakarta, IDN Times - Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan menilai kondisi demokrasi Indonesia tengah mengalami kemunduran serius setelah 28 tahun Reformasi. Situasi itu disoroti dalam diskusi publik bertema “Refleksi 28 Tahun Reformasi: Menguatnya Militerisme, Menyempitnya Ruang Demokrasi dan Ancaman Krisis Ekonomi” yang digelar di Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (19/5/2026).
Diskusi tersebut menyoroti semakin luasnya keterlibatan militer dalam urusan sipil, meningkatnya pendekatan keamanan terhadap kritik publik, hingga maraknya intimidasi terhadap masyarakat sipil, akademisi, pembela HAM, dan kelompok kritis lainnya.
Ketua Centra Initiative sekaligus dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Al Araf, mengatakan demokrasi Indonesia bergerak menuju arah otoritarianisme. Ia menilai berbagai peristiwa belakangan menunjukkan negara semakin alergi terhadap kritik dan perbedaan pendapat. Ia mencontohkan teror terhadap aktivis HAM Andrie Yunus hingga pembubaran pemutaran film Pesta Babi oleh aparat militer.
"Berapa belakangan ini ada fenomena yang memperlihatkan kepada kita sebuah kekhawatiran terhadap realitas politik dan demokrasi. Fenomena itu dimulai dari serangan terhadap Andrie Yunus yang dilakukan oleh Badan Intelijen Strategis yang merupakan bagian dari anggota militer. Setelah itu, ada fenomena terbaru yaitu pelarangan tentang menonton film dalam Pesta Babi yang dilakukan oleh militer," kata Al Araf.
