Ilustrasi perang Iran Israel (IDN Times/Aditya Pratama)
Lebih jauh, SBY menduga kepentingan Israel tak hanya sebatas mencegah Iran memiliki senjata nuklir atau mendorong pergantian rezim. Ada faktor lain yang dinilai lebih mendesak bagi Israel, yakni keberadaan kelompok-kelompok yang dianggap sebagai proksi Iran.
"Tetapi kalau Israel dugaan saya, not only that. Tahu bahwa di Timur Tengah itu ada non-state actors yang dianggap proksinya Iran, yang selalu bermusuhan dengan Israel. Misalnya di Lebanon ada Hizbullah, di Palestina ada Hamas, di Yaman ada Houthi, dan ada elemen lain di negara lain. Mungkin bukan hanya pergantian rezim, bukan hanya jangan sampai Iran punya senjata nuklir, bagi Israel ya yang disebut Israel proksi-proksi itu harus tidak ada, harus dibubarkan," ucapnya.
Ia juga menyoroti ancaman rudal balistik Iran yang kini menjadi momok bagi Israel dan AS. Menurutnya, meski AS tidak menyukai situasi tersebut, dampak langsungnya lebih dirasakan oleh Israel.
"Amerika barangkali karena Iran juga punya kekuatan yang tangguh yaitu senjata balistik, peluru kendali ballistic missiles, itu yang paling ditakuti, imminent, terjadi betul sekarang ini dihujanilah Tel Aviv dan Israel oleh peluru kendali Iran itu. Mungkin meskipun Amerika juga tidak happy, tetapi yang lebih merasakan adalah Israel," jelas SBY.
SBY menekankan bahwa dalam setiap peperangan selalu ada tujuan politik (political objectives) dan tujuan militer (military objectives) yang berbeda, namun harus saling mendukung. Ia mengingatkan bahwa dinamika perang sangat cair dan bisa berubah sewaktu-waktu.
"Kalau saya simpulkan ada beberapa tujuan, dan kita lihat bareng-bareng nanti apakah berhenti cukup dengan pergantian rezim, kalau itu pun terjadi, belum tentu terjadi pergantian rezim. Apa juga sekaligus seperti yang diinginkan Israel? Kita lihat karena perang itu dinamis, bisa ada perubahan-perubahan menyangkut sasaran along the way, dan sekarang ini baru awal, belum seminggu. Jadi banyak hal yang harus kita lihat bersama-sama," kata SBY.