Jakarta, IDN Times - Upaya pemulihan fasilitas pendidikan pascabencana di Sumatera Utara terus berjalan. Hingga 14 Oktober 2026, sebanyak 51 sekolah di provinsi tersebut telah selesai direhabilitasi, termasuk SD Negeri 065010 di Medan Belawan, Kota Medan.
Direhabilitasi Pascabencana, SD di Medan Jadi Tempat Nyaman Belajar

SD Negeri 065010 Medan Belawan kembali digunakan 75 siswa setelah rehabilitasi tiga bulan senilai Rp1,2 miliar, menyusul kerusakan akibat banjir rob dan hujan deras.
Perbaikan mencakup enam ruang kelas, ruang guru, perpustakaan, toilet, instalasi listrik, halaman, serta paving; kegiatan belajar, upacara, dan olahraga kini kembali berjalan.
Hingga 14 Oktober 2026, 51 sekolah di Sumatera Utara telah direhabilitasi; pemerintah menangani 4.922 sekolah di tiga provinsi dengan anggaran sekitar Rp5 triliun.
Sebelumnya, sekolah yang berada di Jalan Sentosa, Kelurahan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, itu berulang kali terdampak banjir rob dan hujan deras. Air dan lumpur sempat masuk ke ruang kelas, merusak sejumlah fasilitas, hingga membuat kegiatan belajar mengajar terhenti selama sekitar satu pekan.
Kini, setelah menjalani rehabilitasi selama tiga bulan dengan anggaran Rp1,2 miliar dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), sekolah tersebut kembali digunakan oleh 75 siswa. Perbaikan ini dikoordinasikan oleh Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).
1. Banjir rob berulang kali merusak fasilitas sekolah

Hingga 14 Oktober 2026, sebanyak 51 sekolah di provinsi tersebut telah selesai direhabilitasi, termasuk SD Negeri 065010 di Medan Belawan, Kota Medan. (dok. Tim Media Satgas PRR) Sebelum direhabilitasi, kondisi SD Negeri 065010 cukup memprihatinkan. Sejak 2024, banjir rob berulang kali menggenangi lingkungan sekolah. Situasi semakin parah pada Desember 2025 ketika banjir yang disertai hujan deras membawa air dan lumpur hingga masuk ke ruang kelas.
Sejumlah atap mengalami kebocoran, plafon runtuh, dan dinding menjadi miring serta berjamur. Bagian bawah meja dan kursi juga rusak akibat terendam air. Kerusakan turut terjadi pada pintu, kusen jendela, instalasi listrik, lampu, hingga toilet.
Kondisi tersebut sempat mengganggu kegiatan belajar mengajar selama sekitar satu pekan. Guru harus membersihkan lumpur yang masuk ke sekolah, sementara sejumlah fasilitas pembelajaran, termasuk proyektor, tidak dapat digunakan karena kerusakan instalasi listrik.
Perawati Banjarnahor (28), guru kelas VI yang telah mengajar sekitar lima tahun, mengatakan kondisi sekolah kini jauh lebih nyaman setelah diperbaiki.
“Lebih nyamanlah, Pak. Dindingnya ini juga kan terkelupas, takutnya berjamur dan jadi penyakit sama anak-anak, tapi sekarang tidak lagi,” kata Perawati.
Menurutnya, fasilitas listrik yang kembali berfungsi juga membantu proses pembelajaran. Guru kini dapat kembali menggunakan proyektor, sementara bagian lantai kelas yang sebelumnya miring telah diperbaiki sehingga lebih aman bagi siswa.
2. Perbaikan membuat ruang kelas dan halaman lebih layak

Ilustrasi sekolah (freepik.com/Odua) Rehabilitasi SD Negeri 065010 mencakup perbaikan berbagai fasilitas sekolah. Seluruh plafon di enam ruang kelas, ruang guru, serta ruang perpustakaan atau laboratorium telah diperbaiki.
Empat ruangan yang sebelumnya mengalami kemiringan, yakni ruang guru, kelas VI, kelas V, dan kelas IV, diperkuat melalui pengecoran agar lantai dan dinding kembali lebih kokoh. Kusen jendela di delapan ruangan juga diperbaiki atau diganti, sedangkan pintu di delapan ruangan diganti dan dinding sekolah dicat ulang.
Perbaikan turut menyasar tiga toilet, mulai dari peninggian lantai, perbaikan pintu dan keran, hingga penggantian plafon. Jika sebelumnya hanya satu toilet yang berfungsi, kini ketiganya dapat digunakan.
Halaman sekolah yang sebelumnya rendah dan mudah tergenang juga ditinggikan menggunakan tanah. Paving block diperbaiki dan ditata kembali agar halaman bisa digunakan untuk aktivitas siswa, termasuk upacara bendera dan olahraga.
Lasmaida Simatupang (54), guru kelas I yang telah mengajar selama 22 tahun, mengatakan jumlah siswa di sekolah tersebut pernah mencapai sekitar 250 orang. Namun, kini jumlahnya tersisa 75 siswa seiring banjir yang semakin sering terjadi sejak 2024. Sebagian besar orang tua siswa bekerja sebagai petambak ikan.
Menurut Lasmaida, banjir yang sebelumnya masih relatif dapat diperkirakan kini bisa datang dalam rentang mingguan atau bulanan. Pada Desember 2025, air bahkan mencapai ketinggian sekitar lutut dan membawa lumpur ke ruang kelas.
Sejumlah lemari, meja, kursi, pengeras suara, dan perangkat elektronik ikut terdampak. Selain menghentikan kegiatan belajar selama sekitar satu pekan, kondisi halaman yang tergenang juga membuat siswa tidak bisa melaksanakan upacara dan olahraga selama lebih dari satu bulan.
Kini, aktivitas tersebut mulai kembali berjalan. “Sudah bisa upacara setiap Senin,” kata Chelsea Olivia (11), siswa kelas VI.
Siswa lainnya, Adinda Safira (11), juga merasakan perubahan setelah sekolah diperbaiki.
“Lebih nyaman aja sih. Terus kalau belajar lebih enak gitu. Kalau dulu kan was-was, sekarang sudah tidak,” ujarnya.
3. Sebanyak 51 sekolah di Sumut telah selesai direhabilitasi

ilustrasi siswa upacara (unsplash.com/Syahrul Alamsyah Wahid) Pemulihan SD Negeri 065010 menjadi bagian dari upaya pemerintah mengembalikan layanan pendidikan di wilayah terdampak bencana. Berdasarkan Laporan Kemajuan Fisik (Lapjusik) Satgas PRR Kemendagri per 14 Oktober 2026, sebanyak 51 sekolah di Sumatera Utara telah selesai direhabilitasi.
Sekolah-sekolah tersebut tersebar di Kabupaten Langkat, Kota Tebing Tinggi, Kabupaten Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Nias Selatan, dan Kota Medan. Rehabilitasi dilakukan melalui skema swakelola dan kolaborasi lintas instansi.
Dalam Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatera, pemulihan tidak hanya diarahkan pada perbaikan fisik bangunan, tetapi juga pemulihan aspek sosial, ekonomi, dan layanan dasar, termasuk pendidikan. Pelaksanaannya melibatkan koordinasi lintas sektor dan wilayah, dari pemerintah pusat hingga desa.
Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satgas PRR, Tito Karnavian, mengatakan pemerintah telah dan sedang melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi terhadap 4.922 sekolah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Pendanaan berasal dari anggaran reguler Kemendikdasmen serta tambahan anggaran dari Kementerian Keuangan dengan total sekitar Rp5 triliun.
"Beliau (Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti) menggunakan anggaran dari reguler ditambah dengan dari Kementerian Keuangan tambahan yang totalnya lebih kurang Rp5 triliunan, dan itu digunakan untuk melakukan rehab dan rekon 4.922 sekolah ke tiga provinsi," kata Tito.
Pemerintah menargetkan pemulihan selesai dalam tiga tahun. Meski demikian, percepatan terus diupayakan agar kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dalam kondisi yang lebih ideal.
"Sebetulnya waktunya adalah 3 tahun. Tetapi saya paham dari paparan beliau (mendikdasmen) tadi, beliau berusaha untuk secepat mungkin selesai agar proses belajar mengajarnya juga berlangsung dalam suasana yang ideal, bukan lagi darurat," ujarnya.
Perbaikan SD Negeri 065010 menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak berhenti pada pembangunan kembali fasilitas yang rusak. Lingkungan belajar yang lebih layak dan aman juga menjadi bagian penting agar guru dan siswa dapat kembali menjalankan kegiatan sekolah dengan nyaman. (WEB)





















