Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
SMRC: Elektabilitas Prabowo Terjun Bebas, Sisa 9,8 Persen
Presiden Prabowo Subianto saat menggelar pertemuan dengan pengusaha KADIN Pusat dan Daerah seluruh Indonesia, Jumat (31/7/2026). (Youtube/Sekretariat Presiden)
  • Survei SMRC Oktober 2026 mencatat elektabilitas Prabowo Subianto turun dari 34,9 persen pada November 2025 menjadi 9,8 persen.

  • Dalam simulasi 24 nama, Dedi Mulyadi memimpin dengan 35,5 persen, diikuti Anies Baswedan 10,3 persen; Prabowo berada di atas Gibran, Purbaya, dan Ganjar.

  • Pada simulasi dua nama, Dedi meraih 69,3 persen melawan Prabowo 18,8 persen; survei melibatkan 1.213 responden dengan margin kesalahan ±2,9 persen.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
November 2025

Elektabilitas Prabowo Subianto tercatat 34,9 persen, sementara Dedi Mulyadi 19,7 persen.

Februari-Maret 2026

Elektabilitas Prabowo masih berada di angka 33,3 persen.

Juli 2026

Elektabilitas Prabowo turun menjadi 14,5 persen.

1-10 Oktober 2026

SMRC melakukan survei nasional untuk mengukur elektabilitas Prabowo sebagai petahana bila pemilihan presiden digelar saat survei.

Oktober 2026

Elektabilitas Prabowo turun menjadi 9,8 persen, sedangkan Dedi Mulyadi naik menjadi 35,5 persen.

17 Oktober 2026

Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani menyampaikan hasil simulasi 24 nama, dengan Dedi Mulyadi unggul 35,5 persen di atas Anies Baswedan dan Prabowo.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Survei SMRC mencatat elektabilitas Prabowo Subianto dalam simulasi semi terbuka 24 nama turun menjadi 9,8 persen pada Oktober 2026, dari 34,9 persen pada November 2025.
  • Who?
    Prabowo Subianto, Dedi Mulyadi, Anies Baswedan, Gibran Rakabuming Raka, Purbaya Yudhi Sadewa, Ganjar Pranowo, serta SMRC yang dipimpin Direktur Eksekutif Deni Irvani.
  • Where?
    Survei mencakup warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih. Hasilnya disampaikan Deni Irvani melalui kanal YouTube SMRC TV.
  • When?
    Pengumpulan data berlangsung 1-10 Oktober 2026. Deni Irvani menyampaikan hasil survei pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
  • Why?
    Survei dilakukan untuk mengukur dampak penurunan elektabilitas Prabowo sebagai petahana apabila kembali menjadi calon presiden dan pemilihan presiden digelar saat survei.
  • How?
    SMRC mewawancarai 1.213 responden: 1.013 pemilik HP melalui telepon dan 200 nonpemilik HP secara tatap muka. Margin of error diperkirakan plus-minus 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Survei SMRC bilang dukungan untuk Prabowo Subianto turun banyak. Dulu angkanya 34,9 persen, sekarang 9,8 persen. Dedi Mulyadi mendapat paling banyak, yaitu 35,5 persen. Anies Baswedan mendapat 10,3 persen. Survei ini bertanya kepada 1.213 orang pada awal Oktober 2026. Banyak orang juga belum memilih.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Meski temuan menunjukkan pergeseran tajam dukungan, survei ini memperlihatkan ruang politik yang tetap dinamis: Dedi Mulyadi memperoleh dukungan tertinggi, sementara Anies, Gibran, dan sejumlah tokoh lain juga mendapat perhatian. Cakupan responden pemilik dan nonpemilik ponsel, melalui pengacakan serta wawancara telepon dan tatap muka, memberi gambaran terukur atas pilihan publik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Temuan hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertajuk "Elektabilitas Presiden Prabowo", elektabilitas Presiden Prabowo Subianto turun drastis dalam setahun terakhir.

Dalam simulasi semi terbuka, dukungan pada Prabowo jatuh dari 34,9 persen pada November 2025, menjadi hanya 9,8 persen pada Oktober 2026. Survei terakhir dilakukan pada 1-10 Oktober 2026.

1. Prabowo dikalahkan Dedi Mulyadi

Survei SMRC terhadap elektabilitas Prabowo Subianto setelah dua tahun pemerintahannya. (Dok. SMRC)

Pada simulasi semi terbuka kepada 24 nama, Dedi Mulyadi meraih dukungan paling tinggi 35,5 persen, kemudian Anies Baswedan 10,3 persen, Prabowo Subianto 9,8 persen, Gibran Rakabuming Raka 8,4 persen, Purbaya Yudhi Sadewa 5 persen, dan Ganjar Pranowo 5 persen.

"Dalam simulasi semi terbuka dengan 24 nama, Dedi Mulyadi meraih dukungan paling tinggi, 35,5 persen. Ia disusul Anies Baswedan 10,3 persen, Prabowo Subianto 9,8 persen, dan Gibran Rakabuming Raka 8,4 persen. Nama-nama lain mendapat dukungan di bawah 6 persen, dan yang belum menentukan pilihan sebanyak 13,9 persen," sebut Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, di kanal YouTube SMRC TV pada Sabtu (17/10/2026).

2. Posisi Prabowo dan Dedi Mulyadi berbalik dalam setahun terakhir

Survei SMRC terhadap elektabilitas Prabowo Subianto setelah dua tahun pemerintahannya. (Dok. SMRC)

Deni menjelaskan, posisi Prabowo dan Dedi Mulyadi berbalik dalam setahun terakhir. Pada November 2025, Prabowo masih unggul dengan 34,9 persen, sementara Dedi Mulyadi 19,7 persen.

"Pada Februari-Maret 2026, Prabowo masih di 33,3 persen. Angka itu turun menjadi 14,5 persen pada Juli 2026 dan 9,8 persen pada Oktober 2026. Sebaliknya, pada periode yang sama elektabilitas Dedi Mulyadi naik menjadi 35,5 persen," kata dia.

Deni menyebut pola yang sama terlihat dalam simulasi dua nama. Jika yang maju hanya Dedi Mulyadi dan Prabowo Subianto, Dedi mendapat 69,3 persen, jauh di atas Prabowo yang hanya mendapat 18,8 persen. Yang belum tahu 12 persen.

Deni menunjukkan elektabilitas Prabowo dan Dedi Mulyadi dalam simulasi dua nama berbalik secara tajam dalam tujuh bulan terakhir. Pada survei Februari-Maret 2026, Prabowo masih unggul dengan dukungan 50,5 persen, sementara Dedi Mulyadi 42,6 persen.

Pada Juli 2026, keadaannya berbalik, Dedi naik menjadi 59 persen, sedangkan Prabowo turun ke 28,3 persen. Pada survei Oktober 2026, Dedi Mulyadi mendapat 69,3 persen, sementara Prabowo hanya 18,8 persen.

"Dalam tujuh bulan, dukungan pada Prabowo dalam simulasi dua nama turun hampir 32 poin, sementara Dedi Mulyadi naik hampir 27 poin," jelas Deni.

3. Metode survei SMRC bertajuk "Elektabilitas Presiden Prabowo"

Survei SMRC terhadap elektabilitas Prabowo Subianto setelah dua tahun pemerintahannya. (Dok. SMRC)

Survei nasional ini diupdate terakhir pada 1-10 Oktober 2026, untuk melihat seberapa besar efek dari penurunan elektabilitas Presiden Prabowo Subianto sebagai petahana bila ia kembali menjadi calon presiden, dan kalau pemilihan presiden dilakukan saat survei.

Survei ini merupakan lanjutan setelah SMRC merilis evaluasi publik atas kepuasan kinerja Presiden Prabowo, atas kondisi ekonomi-politik, masalah mendesak, dan program khusus presiden, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Dilaporkan bahwa evaluasi publik nasional tersebut semuanya negatif, atau menunjukan perubahan negatif dalam tahun kedua pemerintahan Prabowo.

Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan.

Populasi dibagi menjadi dua kelompok (subpopulasi), yaitu, pertama warga negara Indonesia yang punya hak pilih atau berusia 17 tahun atau lebih atau sudah menikah, dan memiliki handphone (HP). Kedua, warga negara Indonesia yang punya hak pilih atau berusia 17 tahun atau lebih atau sudah menikah dan tidak memiliki HP.

Di masing-masing subpopulasi, sampel dipilih secara random, yakni pertama pada subpopulasi pemilik HP, sampel 1.013 orang dipilih secara acak dengan metode double sampling dan responden diwawancara lewat telepon.

Kedua, pada subpopulasi yang tidak punya HP, sampel 200 orang dipilih secara acak dengan metode stratified multistage random sampling dan responden diwawancara secara tatap muka. Ketiga, total sampel yang diwawancara 1.213 responden.

Sementara, margin of error atau tingkat kesalahan survei ini diperkirakan +/-2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, asumsi simple random sampling.

Curated For You

Editorial Team

Related Article