SMRC: Kepuasan Publik soal Demokrasi Jadi 40 Persen di Era Prabowo

- Survei SMRC mencatat kepuasan publik terhadap pelaksanaan demokrasi pada Oktober 2026 turun menjadi 40 persen, dari 74 persen pada Februari 2024 dan 62 persen pada Maret 2026.
- Ketidakpuasan terhadap kinerja demokrasi mencapai 56,5 persen; Saiful Mujani menyebut angka kepuasan 40 persen sebagai yang terendah sejak pemilihan presiden langsung berlangsung.
- Meski implementasi demokrasi dinilai mengecewakan, 69,7 persen responden tetap memilih demokrasi sebagai sistem pemerintahan terbaik; survei melibatkan 1.213 responden dengan margin of error 2,9 persen.
Jakarta, IDN Times - Lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis temuan terbaru mengenai tingkat kepuasan publik terhadap pelaksanaan demokrasi. Memasuki dua tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada Oktober 2026, tingkat kepuasan merosot ke angka 40 persen.
Pendiri SMRC, Profesor Saiful Mujani, menjelaskan angka ini sangat kontras dengan situasi usai Pemilu 2024 lalu. Pada Februari 2024, tingkat kepuasan menyentuh 74 persen. Angka tersebut sempat berada di level 62 persen pada Maret 2026, kemudian anjlok pada Oktober di tahun yang sama, tingkat ketidakpuasan kini justru mendominasi hingga mencapai 56,5 persen.
"Dari 62 persen turun menjadi 40 persen. Jadi mayoritas sekarang masyarakat tidak puas. Ya. Dengan kinerja demokrasi yaitu 56 persen," ujar Saiful dalam tayangan di kanal YouTube SMRCTV, dikutip Rabu (14/10/2026).
1. Jadi titik terendah

Pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saiful Mujani (Youtube.com/SRMC) Saiful Mujani mengatakan, ini merupakan rekor terendah tingkat. Saiful mengatakan, menegaskan rekor penurunan ini menjadi titik paling memprihatinkan sejak pemilihan presiden secara langsung bergulir.
"Ini yang terendah dalam sejarah pelaksanaan demokrasi di Indonesia," kata dia.
Sebagai perbandingan, Saiful memaparkan data kepuasan publik pada era pemerintahan Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pada Oktober 2004, saat SBY baru dilantik, angka kepuasan mencapai 62 persen.
Angka ini sempat turun ke titik 46 persen pada Mei 2008 akibat peristiwa kenaikan harga BBM serta imbas krisis finansial global. Namun, tingkat kepuasan kembali melesat hingga mencapai puncaknya pada angka 76 persen pasca-Pemilu 2009.
2. Sistem demokrasi masih dipilih oleh warga Indonesia

Pendiri Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Saiful Mujani (Youtube.com/SRMC) Penurunan tingkat kepuasan di dalam negeri sejalan dengan penilaian para ahli tingkat global. Berbagai institusi internasional seperti V-Dem (Varieties of Democracy) telah lama menyoroti kemunduran kualitas demokrasi Indonesia. Kini, suara para ahli internasional, aktivis, hingga intelektual seirama dengan sentimen masyarakat akar rumput.
"Jadi banyaknya yang mengkritik tentang demokrasi di Indonesia, para aktivis, para intelektual, itu diamini oleh massa nasional secara umum," ujar Saiful.
Meski kecewa dengan implementasinya, mayoritas rakyat nyatanya masih memegang teguh keyakinan pada sistem demokrasi. Survei SMRC menunjukkan sekitar 69,7 persen responden tetap memilih demokrasi sebagai sistem pemerintahan paling ideal dibandingkan otoritarianisme maupun sistem lainnya.
"Masyarakat Indonesia mengatakan walaupun tidak sempurna, demokrasi adalah sistem pemerintahan terbaik untuk negara kita," ujar Saiful.
3. Metode survei yang digunakan

Saiful Mujani dalam program Bedah Politik bersama Saiful Mujani episode ‘Pemilih Nasdem Dukung Anies atau Ganjar?’ pada Sabtu (18/6/2022). (YouTube/SMRC TV). SMRC dalam surveinya menggunakan metode stratified multistage random sampling dan responden diwawancara secara tatap muka. Total sampel yang diwawancara SMRC ada 1.213 respoden.
Margin of error dalam survei tersebut sekitar 2,9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Responden dalam survei ini berusia 17 tahun atau lebih.























