Ilustrasi MBG. (IDN Times/Tunggul Damarjati)
Selain menilai kinerja pemerintahan, survei ASI turut mengukur persepsi masyarakat terhadap sejumlah program prioritas pemerintahan Prabowo-Gibran. Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi program yang paling banyak disebut masyarakat sebagai program yang paling dirasakan manfaatnya. Sebanyak 44,9 persen responden memilih MBG, jauh di atas Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebesar 18 persen dan Sekolah Rakyat 6,7 persen.
Program lain yang masuk dalam survei meliputi Bantuan Subsidi Upah (BSU), pembangunan dan renovasi 3 juta rumah, reformasi pendidikan, Sekolah Unggulan Garuda, swasembada pangan, ketahanan energi, Koperasi Desa Merah Putih, serta Danantara Indonesia. Sebanyak 20 persen responden tidak tahu atau tidak menjawab pertanyaan tersebut.
MBG juga menjadi program yang paling banyak dinilai tepat sasaran. Sebanyak 40,8 persen responden menilai MBG sebagai program prioritas yang paling tepat sasaran. CKG berada di posisi berikutnya dengan 18,7 persen dan Sekolah Rakyat 9,8 persen.
Meski menjadi program yang paling dirasakan manfaatnya, tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelaksanaan MBG menunjukkan hasil yang hampir berimbang.
Sebanyak 48,7 persen responden mengaku puas terhadap MBG. Rinciannya, 8,9 persen sangat puas dan 39,8 persen cukup puas. Di sisi lain, 47 persen responden menyatakan tidak puas. Sebanyak 33,5 persen mengaku kurang puas dan 13,5 persen sangat tidak puas. Adapun 4,3 persen responden tidak tahu atau tidak menjawab.
Survei juga mengukur dukungan terhadap keberlanjutan MBG. Hasilnya, 51,5 persen responden menyatakan setuju program tersebut dilanjutkan. Angka itu terdiri dari 12,3 persen sangat setuju dan 39,2 persen cukup setuju.
Sebanyak 45,4 persen responden tidak setuju MBG dilanjutkan, terdiri dari 29,6 persen kurang setuju dan 15,8 persen sangat tidak setuju. Sementara 3,3 persen lainnya tidak tahu atau tidak menjawab.
Namun, penilaian terhadap pelaksanaan MBG justru lebih rendah. Hanya 42,3 persen responden yang menilai pelaksanaan program sudah baik, terdiri dari 3,9 persen sangat baik dan 38,4 persen cukup baik.
Sebaliknya, 52,2 persen responden menilai pelaksanaannya tidak baik. Rinciannya, 39,4 persen menyebut kurang baik dan 12,8 persen sangat tidak baik. Sebanyak 5,4 persen tidak tahu atau tidak menjawab.
Keracunan hingga kualitas menu jadi sorotan
Bagi responden yang menilai pelaksanaan MBG kurang baik atau sangat tidak baik, survei turut menggali alasan di balik penilaian tersebut. Maraknya kasus keracunan makanan menjadi salah satu sorotan utama, dengan 23,3 persen responden menyebut persoalan tersebut. Berikutnya, 17,9 persen menilai dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kurang amanah.
Sebanyak 14,4 persen responden menyoroti menu makanan yang dinilai kurang bergizi. Sementara 13,9 persen menilai standar mutu makanan belum konsisten.
Selain itu, 10,4 persen responden menilai sasaran penerima masih kurang tepat, 4,5 persen menyebut porsi makanan sedikit, dan 3,5 persen menyoroti distribusi makanan di sekolah yang dinilai kurang tertib serta masih membebani guru.
Survei juga mencatat alasan lain, seperti persoalan tata kelola, korupsi, kondisi ekonomi, serta alasan lainnya.