Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

DPR Minta Sistem Dapur MBG Dirombak, Dorong Dapur Berbasis Sekolah

DPR Minta Sistem Dapur MBG Dirombak, Dorong Dapur Berbasis Sekolah
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris meminta Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan perubahan fundamental dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya sistem penyediaan makanan. Ia mendorong BGN beralih dari sistem dapur tersentralisasi menuju school-based kitchen atau dapur berbasis sekolah untuk menekan risiko keracunan. (Dok. DPR RI)
  • Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris meminta BGN merombak sistem MBG dari dapur tersentralisasi menjadi dapur berbasis sekolah untuk menekan risiko keracunan.
  • Hingga 2 September 2026, tercatat 50.059 korban dari 460 kejadian keracunan MBG di 36 provinsi serta 245 kabupaten/kota, yang dinilai menunjukkan masalah sistemik.
  • Dapur sekolah dinilai mempercepat konsumsi makanan, membantu pengendalian suhu, membuka akses pemasok lokal, dan pemerintah diusulkan memberi ganti rugi bagi dapur SPPG terdampak perubahan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris meminta Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan perubahan fundamental dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya sistem penyediaan makanan. Ia mendorong BGN beralih dari sistem dapur tersentralisasi menuju school-based kitchen atau dapur berbasis sekolah untuk menekan risiko keracunan.

  1. 1. Kasus keracunan MBG dinilai sudah sistemik

    Program makanan bergizi gratis(IDN Times/Aditya Pratama)
    Program makanan bergizi gratis(IDN Times/Aditya Pratama)

    Charles menilai tingginya angka kasus keracunan dalam pelaksanaan MBG menunjukkan persoalan yang terjadi bukan lagi kejadian terisolasi, melainkan masalah sistemik yang membutuhkan perubahan sistem. Berdasarkan data per 2 September 2026, tercatat 50.059 orang menjadi korban dari 460 kejadian keracunan di 36 provinsi dan 245 kabupaten/kota.

    “Artinya hampir semua provinsi di Republik ini pernah mengalami kasus keracunan dalam 2 tahun terakhir. Setengah dari kabupaten/ kota yang ada di Indonesia juga sudah pernah mengalami kasus keracunan akibat program makan bergizi gratis,” ujar Charles dalam Rapat Kerja Komisi IX DPR RI bersama Kepala BGN di Gedung Nusantara I, Senayan, Jakarta, Kamis (3/9/2026).

  2. 2. Dapur sekolah dinilai mampu tekan risiko kontaminasi

    Ilustrasi. Siswa menyantap makanan bergizi gratis di SDN 2 Cibungur, Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (13/1/2025). (ANTARA FOTO/Abdan Syakura)
    Ilustrasi. Siswa menyantap makanan bergizi gratis. (ANTARA FOTO/Abdan Syakura)

    Menurutnya, penerapan dapur berbasis sekolah dapat memperpendek waktu antara makanan selesai dimasak dan dikonsumsi siswa. Hal tersebut dinilai dapat mengurangi risiko kontaminasi bakteri akibat makanan terlalu lama berada pada suhu ruang.

    “Karena ini setelah diskusi dengan berbagai ahli keamanan pangan dan ahli gizi, jelas Pak. Setelah 4 jam, ketika makanan dibiarkan di suhu ruang, ada yang namanya critical temperature. Di atas 5 derajat, di bawah 60 derajat, maka kontaminasi bakteri semakin tinggi risikonya dan kembang biak bakteri juga semakin tinggi kemungkinannya,” katanya.

    Charles menambahkan, BGN sendiri telah menetapkan makanan harus dikonsumsi maksimal empat jam setelah dimasak. Karena itu, menurutnya, pengendalian suhu makanan menjadi penting untuk menekan risiko pertumbuhan bakteri.

  3. 3. Dapur sekolah buka peluang bagi pemasok pangan lokal

    Ilustrasi tumpukan tempat makanan bergizi gratis yang akan dibagikan saat pelaksanaan perdana program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 1 Mataram di Kota Mataram, NTB, Senin (13/1/2025). (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)
    Ilustrasi tumpukan tempat makanan bergizi gratis yang akan dibagikan saat pelaksanaan perdana program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMKN 1 Mataram di Kota Mataram, NTB, Senin (13/1/2025). (ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)

    Selain aspek keamanan pangan, ia menilai dapur berbasis sekolah berpotensi memberikan dampak lebih besar terhadap ekonomi lokal. Sekolah dapat memenuhi kebutuhan bahan pangan dari pasar, peternak, maupun pemasok yang berada di sekitar wilayah sekolah.

    Untuk dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang telah beroperasi, Charles mengusulkan pemerintah memberikan ganti rugi apabila sistem tersebut nantinya dialihkan. “Kalau kita mau beralih ke sistem dapur sekolah yang existing, ya diganti, ganti kerugian saja, Pak. Ada berapa puluh ribu dapur yang sudah beroperasi? Ganti kerugian. Pemerintah membayarkan sekali saja cukup, tidak lagi menjadi beban selama ini (Program MBG) berjalan,” tuturnya. (WEB)

Sponsored Content: This article is a paid collaboration. While this content is sponsored, all insights, reviews, and editorial standards remain entirely our own.
Share Article
Topics
Editorial Team

Related Articles

See More