Rapat Paripurna DPR RI ke-5 masa persidangan I tahun 2026-2027 menyetujui empat rancangan undang-undang (RUU) menjadi usul inisiatif DPR di ruang sidang, Gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, Selasa (8/9/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
Sebelumnya, Lembaga Poltracking Indonesia juga merilis hasil survei terbaru tentang elektabilitas partai politik jelang Pemilu 2029. Partai Gerindra menjadi partai politik dengan elektabilitas tertinggi berdasarkan survei terbaru Poltracking Indonesia. Elektabilitas partai yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto itu mencapai 23,2 persen.
Peneliti Poltracking Indonesia, Yoki Alvetro, mengatakan temuan tersebut merupakan hasil survei yang dilakukan pada 14 sampai 20 Agustus 2026. Pengukuran elektabilitas dilakukan menggunakan simulasi surat suara dengan menanyakan partai politik atau calon anggota DPR RI yang akan dipilih responden, jika pemilu digelar saat survei dilakukan.
"Partai Gerindra dengan elektabilitas 23,2 persen masih unggul dibanding partai-partai lainnya," kata Yoki dalam pemaparan hasil survei Poltracking Indonesia, Rabu, 23 September 2026.
Berdasarkan hasil survei tersebut, PDIP juga berada di posisi kedua dengan elektabilitas 11,6 persen. Selanjutnya, Partai Golkar menempati posisi ketiga dengan 10,4 persen.
Yoki mengatakan Gerindra, PDIP, dan Golkar menjadi tiga partai dengan elektabilitas tertinggi.
Sementara, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memperoleh elektabilitas 6,2 persen, disusul Partai Demokrat sebesar 6,1 persen. Kemudian, Partai NasDem berada di angka 4,4 persen, Partai Amanat Nasional (PAN) 3,4 persen, dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 3,3 persen.
Adapun PSI memperoleh elektabilitas 2,3 persen dan PPP 1,9 persen. Partai politik lainnya berada di bawah 1 persen.
Mengacu aturan UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, ambang batas parlemen (parliamentary threshold) saat ini masih menggunakan batas 4 persen suara sah nasional.
Jika dibandingkan dengan hasil survei Poltracking, maka hanya enam parpol yang lolos ambang batas parlemen karena meraih elektabilitas di atas empat persen. Partai itu ialah Gerindra, PDIP, Golkar, PKB, Demokrat dan NasDem.
Sementara dua parpol lain yang lolos parliamentary threshold pada Pemilu 2024, yakni PAN dan PKS gagal lolos kursi senayan.
Poltracking juga memotret tren elektabilitas sejumlah partai politik melalui beberapa survei sejak Oktober 2023. Dalam tren tersebut, Gerindra tercatat berada di posisi teratas dan disebut Yoki cenderung stabil, meski sempat mengalami kenaikan pada Maret dan Mei sebelum sedikit menurun pada Juli-Agustus.
"Gerindra ya teratas, cenderung stabil sebenarnya, sempat naik di bulan Maret dan Mei, tapi Juli Agustus kecenderungan sedikit menurun," kata Yoki.
Sementara itu, elektabilitas PDIP disebut sempat mencapai 15,7 persen sebelum berada di angka 11,6 persen pada Agustus 2026. Golkar cenderung stabil dan sempat mengalami kenaikan pada Juli dan Agustus.
PKB juga cenderung stabil, meski mengalami sedikit penurunan. Elektabilitas PKB sebelumnya sempat mencapai 8,4 persen pada Oktober 2023. Adapun Demokrat relatif stabil, dari 5,4 persen pada Oktober 2023 menjadi 6,1 persen dalam survei Agustus 2026.
Untuk partai lainnya, NasDem tercatat pernah berada di angka 6 persen dan kini menjadi 4,4 persen. PKS yang sempat mencapai 5,6 persen berada di angka 3,3 persen. PAN disebut cukup fluktuatif, sedangkan PSI cenderung stabil dengan elektabilitas 2,3 persen. PPP berada di 1,9 persen.
Selain elektabilitas partai, Poltracking menemukan kecenderungan pemilih lebih mempertimbangkan calon anggota legislatif dibandingkan partainya. Sebanyak 53,3 persen responden menyatakan lebih cenderung memilih caleg, sedangkan 24,7 persen lebih cenderung memilih partai politik.
Menurut Yoki, temuan tersebut menjadi catatan bagi partai politik untuk memperkuat kelembagaan sekaligus meningkatkan kualitas dan popularitas calon legislatif yang mereka usung.
"Figur dari tokoh-tokoh partai politik, calon-calon dari partai politik itu lebih cenderung menjadi alasan publik untuk memilih partai politik, karena kecenderungan dari caleg-calegnya," ujarnya.
Sementara, dari sisi alasan memilih partai politik, faktor keluarga menjadi alasan yang paling banyak disebut, yakni 8,8 persen. Berikutnya, responden menyebut suka dengan pimpinan atau ketokohan partai sebesar 6,8 persen, kinerja kader 5,9 persen, dan cara kampanye yang kreatif 5,8 persen.
Adapun survei ini digelar menggunakan metode stratified multistage random sampling. Pengambilan data lapangan dilakukan pada tanggal 14 sampai 20 Agustus 2026. Sampel pada survei ini adalah 1220 responden dengan margin of error kurang lebih 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Klaster survei menjangkau 38 provinsi di seluruh Indonesia secara proporsional berdasarkan data jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) 2024, sedangkan stratifikasi survei ini adalah proporsi jenis kelamin pemilih.
Pengumpulan data dilakukan oleh pewawancara terlatih melalui wawancara tatap muka terhadap responden yang telah terpilih secara acak serta dibantu teknologi aplikasi. Setiap pewawancara mewawancarai 10 responden untuk setiap satu desa/kelurahan terpilih.