Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Survei SMRC: Gibran Kalahkan Prabowo, AHY Ikut Bersaing Ketat
Ilustrasi poster Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (IDN Times/Fariz Fardianto)
  • Dalam simulasi tiga nama tanpa Dedi Mulyadi, Gibran meraih 29,7 persen, AHY 28,2 persen, dan Prabowo 22,7 persen; sebanyak 19,4 persen responden belum menentukan pilihan.
  • Elektabilitas Prabowo dan Dedi Mulyadi berbalik tajam: pada simulasi dua nama Oktober 2026, Dedi mendapat 69,3 persen, sedangkan Prabowo 18,8 persen.
  • Survei SMRC dilakukan 1–10 Oktober 2026 terhadap 1.213 responden, memakai wawancara telepon dan tatap muka, dengan margin of error sekitar plus-minus 2,9 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
November 2025

Elektabilitas Prabowo mencapai 34,9 persen, sedangkan Dedi Mulyadi 19,7 persen.

Februari-Maret 2026

Dalam simulasi tiga nama, elektabilitas Prabowo masih 33,3 persen. Dalam simulasi dua nama, Prabowo unggul 50,5 persen atas Dedi Mulyadi yang mendapat 42,6 persen.

Juli 2026

Elektabilitas Prabowo dalam simulasi tiga nama turun menjadi 14,5 persen, sementara Dedi Mulyadi naik menjadi 35,5 persen. Dalam simulasi dua nama, Dedi meraih 59 persen dan Prabowo 28,3 persen.

1-10 Oktober 2026

SMRC memperbarui survei nasional untuk mengukur dampak penurunan elektabilitas Prabowo sebagai petahana jika kembali maju sebagai calon presiden.

Oktober 2026

Dalam simulasi tiga nama, elektabilitas Prabowo turun menjadi 9,8 persen dan Dedi Mulyadi mencapai 35,5 persen. Dalam simulasi dua nama, Dedi meraih 69,3 persen, sedangkan Prabowo 18,8 persen.

Sabtu (17/10/2026)

SMRC mengumumkan simulasi tanpa Dedi Mulyadi: Gibran mendapat 29,7 persen, AHY 28,2 persen, dan Prabowo 22,7 persen. Deni Irvani menyatakan dukungan terhadap Prabowo sebagai petahana sangat lemah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Survei SMRC mencatat Gibran Rakabuming Raka meraih elektabilitas tertinggi dalam simulasi tiga calon presiden, mengungguli AHY dan Presiden Prabowo Subianto.
  • Who?
    Gibran Rakabuming Raka memperoleh 29,7 persen, Agus Harimurti Yudhoyono 28,2 persen, dan Prabowo Subianto 22,7 persen; 19,4 persen responden belum menentukan pilihan.
  • Where?
    Survei dilakukan secara nasional terhadap warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih, melalui wawancara telepon dan tatap muka.
  • When?
    Pengumpulan data survei berlangsung pada 1-10 Oktober 2026. Hasil simulasi dipaparkan Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani pada 17 Oktober 2026.
  • Why?
    SMRC menguji kekuatan elektabilitas Prabowo sebagai petahana jika kembali maju, khususnya dalam simulasi tanpa Dedi Mulyadi yang berada di Partai Gerindra.
  • How?
    SMRC mewawancarai 1.213 responden: 1.013 pemilik telepon melalui double sampling dan 200 nonpemilik telepon secara tatap muka. Margin of error diperkirakan ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Survei SMRC bilang kalau pemilihan presiden dilakukan sekarang, Gibran dapat 29,7 persen suara. AHY dapat 28,2 persen. Prabowo dapat 22,7 persen. Banyak orang juga belum tahu pilih siapa. Kalau hanya Dedi Mulyadi dan Prabowo, Dedi lebih banyak dipilih. Survei ini bertanya kepada 1.213 orang pada Oktober 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Survei ini menunjukkan dinamika politik yang kompetitif, dengan Gibran, AHY, dan Dedi Mulyadi memperoleh dukungan berarti dalam berbagai simulasi. Kehadiran beberapa figur dengan peluang bersaing mencerminkan pilihan publik yang beragam, sementara metodologi yang mencakup pemilih dengan dan tanpa telepon seluler memberi gambaran elektabilitas dari kelompok responden yang luas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Temuan hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertajuk "Elektabilitas Presiden Prabowo", Prabowo Subianto dikalahkan Gibran Rakabuming Raka dalam simulasi pemilihan presiden jika Prabowo bersaing dengan Gibran dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Simulasi tiga nama tersebut jika Dedi Mulyadi tidak maju, karena dia masih satu partai politik (Partai Gerindra) dengan Prabowo Subianto.

1. Dukungan kepada Prabowo sebagai petahana sangat lemah

Survei SMRC terhadap elektabilitas Prabowo Subianto setelah dua tahun pemerintahannya. (Dok. SMRC)

Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, mengatakan perlu dilihat seberapa kuat Prabowo bila melawan calon lain. Karena itu, SMRC juga menguji simulasi tiga nama tanpa Dedi Mulyadi, yakni Prabowo disandingkan melawan Gibran dan AHY.

Deni menjelaskan alasan Gibran dan AHY melawan Prabowo dalam simulasi ini. Dia mengatakan elektabilitas Gibran dalam simulasi semi terbuka imbang dengan Prabowo. Dia juga sebagai Wakil Presiden, dan punya hubungan kuat dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang mungkin bisa mencalonkannya.

"AHY juga punya partai, dan mungkin bisa mencalonkan. Karena itu, simulasi tiga nama ini dinilai cukup realistis dan (yang lebih penting) relevan untuk menguji kekuatan elektabilitas Prabowo ketika Dedi Mulyadi tidak ikut bersaing," kata dia di kanal YouTube SMRC TV pada Sabtu (17/10/2026).

Hasilnya, Gibran mendapat 29,7 persen, AHY 28,2 persen, dan Prabowo 22,7 persen. Yang belum tahu 19,4 persen.

"Elektabilitas Prabowo tidak berubah menjadi sangat kuat ketika Dedi Mulyadi tidak ikut bersaing. Suara Dedi ternyata lebih banyak ditarik Gibran dan AHY dibanding Prabowo. Dukungan kepada Prabowo sebagai petahana sangat lemah. Jika pemilihan presiden diadakan sekarang, dia bisa dikalahkan oleh calon-calon lain dan yang maju ke putaran kedua kemungkinan adalah AHY dan Gibran," kata Deni.

2. Posisi Prabowo dan Dedi Mulyadi berbalik dalam setahun terakhir

Survei SMRC terhadap elektabilitas Prabowo Subianto setelah dua tahun pemerintahannya. (Dok. SMRC)

Dalam survei ini, Deni menjelaskan, elektabilitas Prabowo dan Dedi Mulyadi berbalik dalam setahun terakhir. Pada November 2025, Prabowo masih unggul dengan 34,9 persen, sementara Dedi Mulyadi 19,7 persen.

"Pada Februari-Maret 2026, Prabowo masih di 33,3 persen. Angka itu turun menjadi 14,5 persen pada Juli 2026 dan 9,8 persen pada Oktober 2026. Sebaliknya, pada periode yang sama elektabilitas Dedi Mulyadi naik menjadi 35,5 persen," kata dia.

Deni menyebut pola yang sama terlihat dalam simulasi dua nama. Jika yang maju hanya Dedi Mulyadi dan Prabowo Subianto, Dedi mendapat 69,3 persen, jauh di atas Prabowo yang hanya mendapat 18,8 persen. Yang belum tahu 12 persen.

Deni menunjukkan elektabilitas Prabowo dan Dedi Mulyadi dalam simulasi dua nama berbalik secara tajam dalam tujuh bulan terakhir. Pada survei Februari-Maret 2026, Prabowo masih unggul dengan dukungan 50,5 persen, sementara Dedi Mulyadi 42,6 persen.

Pada Juli 2026, keadaannya berbalik, Dedi naik menjadi 59 persen, sedangkan Prabowo turun ke 28,3 persen. Pada survei Oktober 2026, Dedi Mulyadi mendapat 69,3 persen, sementara Prabowo hanya 18,8 persen.

"Dalam tujuh bulan, dukungan pada Prabowo dalam simulasi dua nama turun hampir 32 poin, sementara Dedi Mulyadi naik hampir 27 poin," jelas Deni.

3. Metode survei SMRC bertajuk "Elektabilitas Presiden Prabowo"

Survei SMRC terhadap elektabilitas Prabowo Subianto setelah dua tahun pemerintahannya. (Dok. SMRC)

Survei nasional ini diupdate terakhir pada 1-10 Oktober 2026, untuk melihat seberapa besar efek dari penurunan elektabilitas Presiden Prabowo Subianto sebagai petahana bila ia kembali menjadi calon presiden, dan kalau pemilihan presiden dilakukan saat survei.

Survei ini merupakan lanjutan setelah SMRC merilis evaluasi publik atas kepuasan kinerja Presiden Prabowo, atas kondisi ekonomi-politik, masalah mendesak, dan program khusus presiden, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Dilaporkan bahwa evaluasi publik nasional tersebut semuanya negatif, atau menunjukan perubahan negatif dalam tahun kedua pemerintahan Prabowo.

Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan.

Populasi dibagi menjadi dua kelompok (subpopulasi), yaitu, pertama warga negara Indonesia yang punya hak pilih atau berusia 17 tahun atau lebih atau sudah menikah, dan memiliki handphone (HP). Kedua, warga negara Indonesia yang punya hak pilih atau berusia 17 tahun atau lebih atau sudah menikah dan tidak memiliki HP.

Di masing-masing subpopulasi, sampel dipilih secara random, yakni pertama pada subpopulasi pemilik HP, sampel 1.013 orang dipilih secara acak dengan metode double sampling dan responden diwawancara lewat telepon.

Kedua, pada subpopulasi yang tidak punya HP, sampel 200 orang dipilih secara acak dengan metode stratified multistage random sampling dan responden diwawancara secara tatap muka. Ketiga, total sampel yang diwawancara 1.213 responden.

Sementara, margin of error atau tingkat kesalahan survei ini diperkirakan +/-2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen, asumsi simple random sampling.

Curated For You

Editorial Team

Related Article