Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Telkom Kantongi Restu Spin-Off InfraCo, Perkuat Bisnis InfraNexia
Direktur Keuangan & Manajemen Risiko Telkom Arthur Angelo Syailendra, Direktur Network Telkom Budi Satria Dharma Purba, Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno, Direktur Legal & Compliance Telkom Andy Kelana, Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji, dan Direktur Human Capital Management Telkom Willy Saelan usai rangkaian agenda Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Telkom, Rabu (30/9). (Dok. Telkom)
  • Pemegang saham independen Telkom menyetujui spin-off bisnis wholesale fiber connectivity ke InfraNexia melalui RUPSLB, sebagai bagian strategi TLKM 30 dan transformasi menuju model Holding Company-Operating Company.

  • Telkom dan InfraNexia menandatangani akta pemisahan, mengonsolidasikan lebih dari 90 persen aset jaringan, termasuk sekitar 112.000 km fiber optik, senilai Rp85,7 triliun.

  • InfraNexia akan mengelola jaringan nasional dengan model carrier-neutral dan open-access, serta memodernisasi operasi untuk mendukung kebutuhan AI, cloud, data center, dan ekosistem digital.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Telkom memperoleh persetujuan pemegang saham independen untuk memisahkan aset dan bisnis wholesale fiber connectivity ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia atau InfraNexia.
  • Who?
    PT Telkom Indonesia, InfraNexia, pemegang saham independen Telkom, Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno, dan Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf terlibat dalam proses ini.
  • Where?
    RUPSLB digelar secara daring, sedangkan penandatanganan akta pemisahan dilakukan di Telkom Landmark Tower, Jakarta. Aset jaringan yang dikonsolidasikan mencakup berbagai wilayah Indonesia.
  • When?
    Persetujuan RUPSLB dan penandatanganan akta pemisahan dilaksanakan pada Rabu, 30 September. Susunan pengurus yang disetujui berlaku setelah RUPSLB 2026.
  • Why?
    Langkah ini dilakukan untuk memonetisasi aset bernilai tinggi, memperkuat transformasi Telkom menjadi Strategic Holding, meningkatkan fokus bisnis InfraNexia, serta membuka kemitraan dan pemanfaatan infrastruktur bagi pelaku industri.
  • How?
    Telkom memenuhi kuorum mayoritas pemegang saham independen sesuai ketentuan transaksi afiliasi, lalu menandatangani akta spin-off dan mengonsolidasikan lebih dari 90 persen aset jaringan ke InfraNexia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - PT Telkom Indonesia Persero (Tbk) (Telkom) memperoleh persetujuan pemegang saham independen atas aksi korporasi pemisahan aset dan bisnis (spin-off) wholesale fiber connectivity ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia) dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dilaksanakan secara daring pada Rabu (30/9). Sebagai transaksi afiliasi yang diatur dalam Peraturan OJK No. 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan, pelaksanaan aksi korporasi ini telah memenuhi ketentuan kuorum dari mayoritas pemegang saham independen.

Terbentuknya InfraNexia sebagai operating company yang menggawangi bisnis infrastruktur jaringan TelkomGroup merupakan bagian dari implementasi strategi TLKM 30 dalam mendorong monetisasi aset bernilai tinggi dan kemitraan strategis untuk menangkap peluang pertumbuhan. Sejalan dengan hal tersebut, langkah ini juga memperkuat transformasi Telkom dari Operating Holding menuju Strategic Holding dengan model Holding Company-Operating Company (HoldCo-OpCo) yang berorientasi pada penciptaan nilai dan fokus pada sinergi antar entitas secara berkelanjutan.

1. RUPSLB perkuat transformasi dan tata kelola Telkom

Senior Vice President Group Sustainability & Corporate Communication Ahmad Reza, Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf, Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno, dan Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji pada press conference penandatanganan akta pemisahan (deed of spin-off) oleh Telkom dan Infranexia, Rabu (30/9). (Dok. Telkom)

Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno menyampaikan, “Atas nama direksi Perseroan, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan yang senantiasa menyertai perjalanan transformasi Telkom. Kepercayaan yang diberikan kepada Telkom atas Spin-Off InfraCo ini menjadi langkah penting untuk membangun struktur bisnis yang lebih fokus, sekaligus memberi ruang dan fleksibilitas bagi InfraNexia untuk berkembang lebih optimal. Telkom memastikan transformasi yang tengah dijalankan dapat memberikan dampak nyata terhadap kinerja dan value creation, sekaligus menghadirkan kontribusi yang semakin besar bagi kemajuan ekosistem digital Indonesia.”

RUPSLB juga menyetujui perubahan susunan pengurus Perseroan yang diharapkan dapat memperkuat tata kelola sekaligus berkontribusi pada meningkatnya kinerja Perseroan dan mendukung suksesnya agenda transformasi TLKM 30. Adapun susunan Dewan Komisaris dan Jajaran Direksi Telkom setelah RUPSLB 2026 adalah sebagai berikut:

Dewan Komisaris

Komisaris Utama : Angga Raka Prabowo

Komisaris : Ossy Darmawan

Komisaris : Rizal Mallarangeng

Komisaris : Edwin Hidayat Abdullah

Komisaris Independen : Rofikoh Rokhim

Komisaris Independen : Anthony Leong

Komisaris Independen : Deswandhy Agusman

Komisaris Independen : Ira Noviarti

Jajaran Direksi

Direktur Utama : Nanang Hendarno

Direktur Enterprise & Business Services : Veranita Yosephine

Direktur Human Capital Management : Willy Saelan

Direktur Keuangan & Manajemen Risiko : Arthur Angelo Syailendra

Direktur Network : Budi Satria Dharma Purba

Direktur Strategic Business Development & Portofolio : Seno Soemadji

Direktur Wholesale & International Service : Radita Ali Putra

Direktur IT Digital : Kharim I. G. Siregar

Direktur Legal & Compliance : Andy Kelana

2. Telkom konsolidasikan lebih dari 90 persen aset jaringan ke InfraNexia

Komisaris Utama InfraNexia Wayan Toni Supriyanto, Koordinator Direktorat Peningkatan Nilai BUMN Keuangan, Telekomunikasi dan Jasa Badan Pengaturan BUMN Wawan C. Anwar, Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno, Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf, ⁠⁠ Managing Director Business 2 PT Danantara Asset Management Setyanto Hantoro, dan Komisaris Telkom Rizal Mallarangeng usai prosesi penandatanganan akta pemisahan (deed of spin-off) oleh Telkom dan Infranexia, Rabu (30/9). (Dok. Telkom)

Pada hari yang sama, Telkom dan InfraNexia juga melaksanakan penandatanganan akta pemisahan (deed of spin-off) sebagai milestone utama dalam penyelesaian Spin-Off InfraCo Tahap 2, setelah memperoleh persetujuan pemegang saham independen Telkom melalui RUPSLB. Akta pemisahan ditandatangani oleh Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno dan Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf, di Telkom Landmark Tower, Jakarta.

Melalui tahapan ini, lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan yang sebelumnya berada di bawah Telkom resmi dikonsolidasikan ke InfraNexia, memperkuat skala perusahaan sebagai penyedia infrastruktur digital berbasis wholesale dengan jaringan yang membentang di berbagai wilayah Indonesia. Secara keseluruhan, skala tersebut mencakup sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optic, termasuk 26.000 km Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik, dengan total nilai transaksi mencapai sekitar Rp85,7 triliun.

Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno mengatakan, InfraNexia diarahkan untuk semakin mempertajam fokus bisnis serta meningkatkan produktivitas aset infrastruktur guna mendorong peningkatan kontribusi pasar eksternal terhadap pendapatan segmen B2B Infrastructure TelkomGroup.

“Dengan skala dan fokus yang semakin solid, InfraNexia diharapkan mampu mengelola infrastruktur secara lebih optimal sekaligus membuka pemanfaatannya bagi lebih banyak pelaku industri. Langkah ini menjadi bagian dari upaya TelkomGroup membangun bisnis agar semakin fokus, kompetitif, dan mampu menciptakan nilai yang jauh lebih besar dari tiap aset strategis yang dimiliki,” ujar Nanang.

3. InfraNexia siapkan jaringan nasional sebagai AI Ready Infrastructure

Gedung Telkom (dok. Telkom)

Sejalan dengan arahan tersebut, Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji menyampaikan, konsolidasi memberikan ruang yang lebih luas bagi InfraNexia untuk meningkatkan utilisasi jaringan dan juga memperluas kolaborasi di dalam ekosistem digital nasional.

“Skala infrastruktur yang semakin besar memberi kami fleksibilitas untuk menghadirkan solusi yang lebih relevan bagi berbagai kebutuhan pelanggan. Fokus kami bukan hanya memperluas pemanfaatan aset, tetapi memastikan infrastruktur yang kami miliki dapat menjadi fondasi bagi pertumbuhan lebih banyak mitra dan layanan digital, serta mendukung penguatan ekosistem dan kedaulatan digital Indonesia,” ujar Seno.

Pasca konsolidasi, InfraNexia mengelola jaringan serat optik yang terhubung melalui infrastruktur darat dan laut, didukung 4 area, 12 regional, dan 61 distrik di seluruh Indonesia. Infrastruktur dan cakupan yang ekstensif ini menjadi fondasi bagi operator telekomunikasi, penyedia layanan internet, perusahaan cloud, data center, serta berbagai pelaku industri dalam memperluas kapasitas dan jangkauan layanan. Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf menambahkan, fase baru ini memperkuat peran InfraNexia dalam mengembangkan jaringan nasional sebagai AI Ready Infrastructure yang terbuka, terintegrasi, dan dapat dimanfaatkan bersama oleh berbagai pelaku industri.

“Indonesia membutuhkan AI Ready Infrastructure yang mampu berkembang seiring kebutuhan industri dan teknologi. Dengan jaringan yang semakin terintegrasi dan scalable, kami ingin menghadirkan fondasi yang dapat mendukung pertumbuhan AI, cloud, data center, serta berbagai inovasi digital lainnya di masa depan, sekaligus membuka lebih banyak ruang bagi mitra untuk memperluas layanan dan menciptakan peluang pertumbuhan baru tanpa harus mengembangkan seluruh infrastrukturnya secara mandiri,” kata Lukman.

InfraNexia menjalankan model bisnis berbasis prinsip carrier-neutral dan open-access melalui dua lini utama, yaitu Wholesale Connectivity dan Wholesale FTTx. Portofolio tersebut mencakup layanan konektivitas berkapasitas tinggi, akses jaringan, hingga pemanfaatan infrastruktur pasif bersama yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan kapasitas, cakupan, dan model bisnis masing-masing pelanggan. Sejalan dengan penguatan skala bisnis, InfraNexia juga terus mempercepat modernisasi operasi jaringan melalui otomasi, integrasi sistem, dan pengembangan kapabilitas autonomous network.

Transformasi ini diarahkan untuk meningkatkan keandalan layanan, efisiensi operasional, serta kemampuan jaringan dalam merespons permintaan pelanggan yang terus meningkat. Penguatan skala dan kapabilitas tersebut menjadi bagian dari upaya InfraNexia untuk memastikan infrastruktur yang dikelolanya terus relevan dan mengalir dengan kebutuhan Indonesia yang semakin terkoneksi. Dengan skala jaringan nasional, model bisnis terbuka, dan pengelolaan yang semakin terintegrasi, InfraNexia memperkuat perannya sebagai fondasi infrastruktur bagi pertumbuhan ekosistem digital Indonesia.

“InfraNexia dengan semangat Flowing Through Nusantara merefleksikan bagaimana infrastruktur kami akan terus menghubungkan wilayah, industri, dan berbagai peluang pertumbuhan di seluruh Indonesia. Semangat ini menjadi pengingat bahwa setiap pengembangan yang kami lakukan harus memberikan ruang bagi konektivitas dan ekosistem digital untuk terus bertumbuh,” kata Lukman. #ElevatingYourFuture (WEB)

Sponsored Content: This article is a paid collaboration. While this content is sponsored, all insights, reviews, and editorial standards remain entirely our own.

Curated For You

Editorial Team

Related Article