Jemaah haji Indonesia melaksanakan lempar Jumrah sebelum meninggalkan Mina dan segera bergerak ke Kota Makkah, Minggu(8/6/2025). (IDN Times/Yogi Pasha
Untuk mengatasi kepadatan, Marwan menilai pemerintah perlu mulai mempertimbangkan berbagai terobosan baru. Jika perluasan area Mina sudah tidak memungkinkan karena keterbatasan lahan, pembangunan tenda bertingkat dapat menjadi salah satu alternatif.
“Kita harus mulai memikirkan formula baru. Jika area Mina memang tidak bisa diperluas, maka perlu dipertimbangkan berbagai opsi seperti tenda bertingkat atau skema lain yang memungkinkan ruang bagi jemaah menjadi lebih longgar dan manusiawi,” katanya.
Selain itu, Timwas Haji DPR RI juga mendorong optimalisasi skema tanazul, yakni pengaturan yang memungkinkan sebagian jemaah tidak bermalam di tenda Mina dan kembali ke hotel yang telah ditentukan. Marwan memperkirakan sekitar 60 ribu dari total 201 ribu jemaah Indonesia berpotensi mengikuti skema tersebut.
“Dari sekitar 201 ribu jemaah Indonesia, mungkin ada sekitar 60 ribu jemaah yang dapat dipertimbangkan untuk mabit di hotel dengan pengaturan yang baik dan tetap sesuai ketentuan yang berlaku. Jika ini dapat diwujudkan, ruang di Mina akan jauh lebih longgar bagi jemaah yang tetap berada di tenda,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan penerapan skema tanazul maupun pembangunan fasilitas baru membutuhkan kajian mendalam serta komunikasi intensif dengan Pemerintah Arab Saudi. Karena itu, DPR berharap kehadiran Kementerian Haji dan Umrah RI di masa mendatang dapat memperkuat negosiasi untuk mencari solusi permanen atas persoalan yang terus berulang di Mina.
“Ini bukan pekerjaan mudah. Dibutuhkan koordinasi yang kuat, dukungan regulasi, serta komunikasi yang intensif dengan Pemerintah Arab Saudi. Namun persoalan Mina tidak boleh dibiarkan berulang tanpa solusi. Kita harus berani mencari terobosan demi meningkatkan kenyamanan dan keselamatan jemaah Indonesia,” tegasnya.