Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
TNI Akui Ada Hukuman Fisik bagi Peserta Latsar Kopdes yang Melanggar
Pelaksanaan latihan militer untuk calon manajer koperasi desa merah putih dan kampung nelayan merah putih di Brigif 1 Marinir, Cilandak, Jakarta. (Dokumentasi Kemhan)
  • TNI mengakui adanya hukuman fisik ringan bagi peserta Latsar SPPI yang melanggar aturan, seperti push up, dengan tujuan menanamkan disiplin tanpa menyamakan dengan hukuman prajurit.
  • Rutinitas peserta dimulai sejak pukul 04.30 hingga 21.30 WIB, mencakup kegiatan fisik, apel, materi kelas, serta pengasuhan untuk membentuk karakter dan semangat kebersamaan.
  • Brigif 1 Marinir memperketat pemeriksaan kesehatan peserta setelah empat kematian dilaporkan, memisahkan mereka yang memiliki riwayat penyakit dari aktivitas fisik berat demi mencegah insiden serupa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
16 Juni 2026

Pelatihan dasar militer bagi peserta SPPI dimulai serentak di Brigif 1 Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan. Program ini dijadwalkan berlangsung selama 30 hari.

Jumat dini hari

Empat peserta SPPI dilaporkan meninggal saat mengikuti latihan dasar militer, dengan satu korban terbaru meninggal pada Jumat dini hari.

26 Juni 2026

Letkol (Mar) Agus Mutaqin mengonfirmasi bahwa hukuman fisik diterapkan bagi peserta latsar yang melanggar aturan, seperti terlambat apel pagi atau tidak makan bersama. Ia menegaskan hukuman disesuaikan dengan kemampuan fisik peserta dan pengawasan kesehatan diperketat untuk mencegah kejadian serupa.

pertengahan Juli 2026

Program pelatihan dasar militer SPPI dijadwalkan berakhir pada pertengahan Juli 2026 setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai dilaksanakan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    TNI mengakui adanya penerapan hukuman fisik bagi peserta latihan dasar militer program Sarjana Penggerak Pembangun Indonesia (SPPI) yang melanggar aturan selama masa pendidikan.
  • Who?
    Letkol (Mar) Agus Mutaqin, Komandan Batalyon Latihan SPPI Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih Brigif 1 Marinir Cilandak, bersama para pelatih dan peserta SPPI.
  • Where?
    Kegiatan dan penerapan hukuman berlangsung di Brigif 1 Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan.
  • When?
    Pernyataan disampaikan pada Jumat, 26 Juni 2026. Pelatihan dasar berlangsung sejak 16 Juni hingga pertengahan Juli 2026.
  • Why?
    Hukuman fisik diterapkan untuk menanamkan disiplin dan kepatuhan terhadap peraturan serta mendorong peserta agar lebih tertib dalam mengikuti kegiatan pelatihan militer.
  • How?
    Peserta yang melanggar diberi hukuman seperti push up atau hukuman kolektif. Pemeriksaan kesehatan diperketat untuk mencegah kejadian fatal selama pelatihan berlangsung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada orang-orang muda yang ikut latihan militer di tempat TNI. Kalau mereka telat atau tidak ikut makan, mereka disuruh push up supaya lebih disiplin. Tapi hukumannya tidak seberat tentara sungguhan. Mereka bangun pagi sekali, belajar dan olahraga sampai malam. Sekarang latihan masih jalan dan semua peserta dijaga kesehatannya biar aman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Meskipun TNI mengakui adanya hukuman fisik dalam latsar SPPI, penjelasan Letkol (Mar) Agus Mutaqin menunjukkan bahwa pelatihan ini dijalankan dengan prinsip keseimbangan antara disiplin dan perhatian terhadap peserta. Hukuman disesuaikan dengan kemampuan fisik, penghargaan diberikan bagi yang berprestasi, dan pengawasan kesehatan diperketat demi menjaga keamanan serta semangat belajar peserta.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - TNI mengakui turut memberlakukan hukuman fisik kepada peserta Sarjana Penggerak Pembangun Indonesia (SPPI) dalam latihan dasar (latsar) militer. Hukuman fisik diberikan kepada peserta yang kedapatan melanggar beberapa peraturan selama pendidikan. Contohnya, hukuman fisik diberikan jika peserta terlambat mengikuti apel pagi.

"Contoh saat apel pagi, mereka terlambat mungkin karena ketiduran dan sebagainya, kami berikan hukuman push up 10 atau 15 kali," kata Komandan Batalyon Latihan SPPI Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih (KDKMP) Brigif 1 Marinir Cilandak, Letkol (Mar) Agus Mutaqin, ketika dikonfirmasi Jumat (26/6/2026).

Dia mengatakan, hukuman fisik diberlakukan agar para peserta memiliki jiwa disiplin yang tinggi dan taat peraturan. Dia berharap para peserta bisa lebih tertib ketika mengikuti latsar militer.

1. Hukuman fisik yang diberikan diklaim tak sama dengan hukuman bagi prajurit

Peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) mengikuti pendidikan latihan dasar militer di Lapangan Apel Brigif 1 Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan. (www.instagram.com/@pasmar_1_korps_marinir)

Contoh lainnya adalah jika peserta tak ikut makan bersama. Dia menjelaskan, hal itu masuk pelanggaran karena makan merupakan aktivitas yang wajib dilakukan demi menjaga kesehatan fisik peserta.

"Kami juga memberlakukan hukuman secara kolektif, contohnya tidak makan. Karena makan adalah untuk meningkatkan kemampuan kita. Kalau tidak makan atau tak bersama-sama yang lain, maka kami beri hukuman supaya besok tidak mengulang lagi," kata dia.

Meski begitu, ujar dia, hukuman yang diberikan kepada para peserta tak sama dengan hukuman bagi prajurit TNI. Hukuman fisik, kata Agus, menyesuaikan kemampuan fisik peserta.

Selain hukuman, pelatih di latsar militer juga memberikan reward atau penghargaan bagi peserta yang berprestasi selama mengikuti pendidikan. Tujuannya agar peserta termotivasi dan terus semangat menjalani latsar militer.

Meski sudah ada korban yang jatuh di satuan pendidikan lain, tetapi Agus menyebut seluruh rangkaian latsar militer masih berjalan dengan aman dan kondusif.

2. Rutinitas peserta latsar militer sudah dimulai sejak subuh hingga malam hari

Siswa Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) yang mengikuti pendidikan dasar militer di Satdik Brigif 1 Marinir. (www.instagram.com/@marinir_tni_al)

Agus juga menjelaskan rangkaian kegiatan pelatihan dasar militer yang dilakukan oleh peserta SPPI di Brigif 1 Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan. Kegiatan sehari-hari dimulai pukul 04.30 WIB dan diakhiri 21.30 WIB.

"Kami bangunkan siswanya, kemudian laksanakan ibadah salat subuh. Selanjutnya, kami lanjutkan kegiatan olahraga, pembinaan fisik, dan dilanjutkan dengan makan pagi. Setelah makan pagi, lalu apel pagi. Kemudian, dilanjutkan dengan kegiatan baris-berbaris PBB," kata Agus.

Setelah itu, para peserta masuk ke dalam kelas untuk mengikuti materi. Sesi di dalam kelas berlangsung hingga sore hari. Kegiatan dilanjutkan dengan pengasuhan oleh para pelatih. Setelah pengasuhan kemudian dilanjutkan salat dan makan siang. Pengasuhan dilanjutkan kembali hingga pukul 21.30 WIB.

"Pengasuhan ini pemberian bekal. Salah satunya pengenalan lingkungan, etika selama di sini, hingga sikap PBB. Kami juga ajari yel-yel supaya mereka juga punya semangat untuk menyongsong kegiatan sehari-harinya," kata dia.

3. Brigif 1 Marinir menerapkan pengawasan kesehatan para peserta yang ketat

Upacara pembukaan pendidikan dan latihan dasar militer bagi Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) di Akademi Angkatan Udara (AAU). (www.instagram.com/@militer.udara)

Agus pun mengakui sudah mendengar adanya empat peserta SPPI yang meninggal saat mengikuti latihan dasar militer. Terbaru, peserta tersebut meninggal pada Jumat dini hari.

Dia pun menempuh beberapa upaya pencegahan agar peristiwa serupa tidak terjadi. Salah satunya dengan memperketat pengecekan kondisi kesehatan para peserta.

"Sebagai pencegahan, yang pertama saat masuk, kami cek kesehatan mereka. Itu mencakup kondisi fisik dan tensi. Lalu, kami rekap, termasuk data-data soal riwayat penyakit kronis atau sakit berat," katanya.

Dia mengatakan, yang memiliki riwayat penyakit akan dipisahkan di tingkat peleton dan kompi supaya kegiatan-kegiatan di lapangan yang terkait fisik, tidak diikutkan.

"Namun, setiap kegiatan seperti pembelajaran kelas tetap kami ikutkan karena itu ada program yang harus diterima seluruhnya," ujar dia.

Pelatihan dasar militer itu harus dilewati oleh peserta SPPI selama 30 hari. Prosesnya sudah dimulai serentak pada Selasa, 16 Juni 2026 dan berakhir pada pertengahan Juli 2026.

Editorial Team

Related Article