Comscore Tracker

Nasib Suku Paser, Penjaga Tradisi di Calon Ibu Kota Negara

Suara mereka tenggelam euforia

Penajam, IDN Times- Yapan tengah bernaung di bawah gubuk, menghindari terik matahari, ketika jarum jam menunjukkan pukul 12.40 WITA. Semilir angin sering membuatnya terlelap sejenak. Namun, belakangan, mimpi di siang bolong itu seketika sirna ketika ia mengingat rencana pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) ke Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).  

“Saya pribadi gak setuju Ibu Kota dipindah ke Kalimantan Timur (Kaltim). Saya resah,” kata Yapan saat ditemui IDN Times di Desa Sepan, Kecamatan Penajam, Kabupaten PPU, pada Sabtu (1/2/2020) lalu.

Lelaki berusia berusia 55 tahun itu lahir di Desa Sepan, warga asli Penajam Paser Utara. Dia hanya tamatan sekolah dasar, sama seperti angkatan 1960 lainnya. Ada pun angkatan 1970-an terbilang beruntung, karena bisa mengenyam pendidikan hingga SMA. Sehari-hari Yapan bekerja sebagai petani dan hanya mampu mengumpulkan uang Rp3 juta per bulan. 

“Ya saya belum siap dengan perubahan-perubahan besar,” kata dia dengan terbata. “Nanti kalau dipindah, saya takut kebun-kebun saya yang 1,4 hektare, mata usaha saya gak ada lagi ke depannya kalau ada Ibu Kota," tutur Yapan.

Tidak pernah dia bermimpi bahwa desa kelahirannya bakal jadi ibukota negara.

Bagi Suku Paser, hutan adalah jantung kehidupan. Oleh sebab itu, bukan perkara mudah bagi Yapan untuk merelakan tradisi berkebun warisan para leluhur. 

Dalam pikirannya, IKN bukanlah suatu kota dengan infrastruktur megah, jalan beraspal, serta moda transportasi tanpa gas emisi. Tidak seperti apa yang diimpikan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko “Jokowi” Widodo. Bagi dia, IKN adalah tempat di mana setiap inci pembangunan berarti hilangnya satu persen harapan hidup. 

“Bagi masyarakat Paser, dengan banyaknya manusia tentu banyak perilaku luar dari pendatang, itu bikin resah,” sambungnya “saya belum tahu nanti ke depannya (seandainya IKN sudah dibangun). Mata usahanya untuk penghidupan keluarga belum tahu. Janji pemerintah juga belum ada (sampai sekarang).”

Baca Juga: Dikejar Makelar, Melonjaknya Harga Tanah di Calon Ibu Kota Negara

Nugal Nasok terakhir

Nasib Suku Paser, Penjaga Tradisi di Calon Ibu Kota NegaraTradisi Nugal Nasok Suku Paser di Kabupaten Penajam Paser Utara (IDN Times/Vanny El Rahman)

Yapan tidak sendiri di tengah hutan. Turut mendampingi puluhan warga lainnya. Semuanya adalah Suku Paser yang bermukim di Desa Sepan, Kecamatan Penajam, Kabupaten PPU.

Suku Paser tidak hanya mendiami Desa Sepan. Keberadaan mereka sudah tersebar ke berbagai wilayah. Hanya saja, Suku Paser di daerah ini dikenal sebagai masyarakat adat yang paling setia menjaga warisan leluhur. Dari sekitar 446 keluarga yang bermukim di Sepan, sekitar 70 persennya adalah Suku Paser.

Mereka baru saja membuka lahan seluas dua hektare untuk ditanami padi gunung. Terik matahari tak mengendurkan semangat warga untuk saling bahu-membahu. Semuanya bekerja ikhlas. Tanpa pamrih. Tanpa sepeser rupiah. 

“Dalam tradisi Suku Paser, tanam padi gunung dinamakan Nugal Nasok,” sahut Ketua Lembaga Adat Suku Paser Desa Sepan, Yossie Samban, saat dikunjungi IDN Times di tempat yang sama dengan Yapan berkebun, Sabtu (1/2/2020).

Nugal Nasok berarti menanam padi gunung dengan media kayu. Sebagian warga bertugas membuat lubang menggunakan kayu yang ditajamkan atau ujung kayu diikat dengan batu runcing. Sebagian lagi bertugas memasukkan bibit padi ke dalam lubang yang sudah dibuat.

Tradisi ini sudah berlangsung selama ratusan tahun seiring leluhur Suku Paser mendiami Kalimantan Timur. Sebagai warisan para pendahulu, tentunya tradisi ini sarat akan kearifan lokal. 

Yossie menceritakan, menanam padi gunung tidak bisa dilakukan sembarang waktu. Warga Paser memiliki perhitungan sendiri guna memastikan padi yang mereka tanam kelak menjadi beras. 

“Kalau hitungannya itu berdasarkan hitungan orang tua (leluhur) kami. Supaya apa? Biar gak ada gangguan hama padi,” kata ayah dari dua anak. 

Nasib Suku Paser, Penjaga Tradisi di Calon Ibu Kota NegaraKetua Lembaga Adat Paser Desa Sepan, Yossie Samban (IDN Times/Vanny El Rahman)

Baca Juga: RUU Masyarakat Adat, Benteng Terakhir Suku Paser di Calon Ibu Kota

Suasana siang itu penuh dengan rasa kekeluargaan. Mereka tidak terburu-buru untuk menuntaskan pekerjaan. Semuanya menikmati kebersamaan, detik demi detik, walau peluh membasahi tubuh.  

Kendati begitu, dalam benaknya, Yossie memendam rasa gelisah. Dia khawatir ini adalah Nugal Nasok terakhir bagi Suku Paser di Desa Sepan. Ketika ditanya mengapa, jawabannya adalah Ibu Kota Negara. 

“Kalau lihat (rencana pemindahan Ibu Kota) pemerintah, ini mungkin jadi Nugal Nasok terakhir kami. Tahun depan saya rasa sudah gak ada (Nugal Nasok) karena pembangunan sudah dimulai,” keluh Yossie, sembari mengistirahatkan tangannya yang kelelahan setelah membuat ratusan lubang. 

Secara geografis, Desa Sepan memang tidak termasuk dalam Kecamatan Sepaku dan Samboja, dua kecamatan di Kabupaten PPU yang direncanakan menjadi pusat IKN. Artinya, pemukiman dan lahan warga di Desa Sepan tidak mungkin terganggu. Namun, Yossie pesimis adat-istiadat guna mengawali tradisi Nugal Nasok tidak bisa dilakukan di tengah “kota impian”. 

Beberapa bulan sebelum menanam, mereka harus membuka lahan dengan membakar hutan. Perkara inilah yang mengganggu benak Yossie. “Kalau nanti di sini ada Ibu Kota, kan gak mungkin kami dibolehin bakar hutan,” sambung dia. 

Yossie sadar bila membuka lahan dengan cara membakar adalah hal yang tidak dibenarkan. Rawan menyebabkan kebakaran hutan. Tetapi, dia tetap melakukannya demi tradisi ratusan tahun yang harus dijaga. Di samping itu, Yossie yakin ritual penghormatan kepada roh yang mendiami hutan adalah kunci supaya api tidak liar menjalar. 

Apa yang dilakukan Yossie bersama Suku Paser sebenarnya tidak melanggar hukum. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) Pasal 69, dijelaskan bahwa negara mengizinkan masyarakat adat membuka lahan dengan cara membakar sepanjang memperhatikan kearifan lokal.

“Sebelum Nugal, kami tabe-tabe (minta maaf) kepada roh-roh. Kami minta maaf kepada roh pohon yang ditebang, hewan yang ikut terbakar, kami juga siapkan sajen, tepung tawar dan uang kepada roh-roh leluhur. Semua itu kepercayaan nenek moyang untuk membayar kesalahan (karena membakar hutan),” terangnya. 

Dia melanjutkan, “kami juga buat sekat mengelilingi kebun sebelum dibakar. Di sana nanti ada warga yang menjaga. Semua ini kearifan lokal kami. Makanya gak benar itu kalau dikatakan petani yang suka pindah-pindah lahan adalah penyebab kebakaran hutan.”

Apa yang ditakutkan Yossie adalah tradisi Nugal Nasok ini hilang ketika ia masih berpijak di Bumi Kalimantan. Ia khawatir tradisi yang menyatukan warga, merekatkan generasi tua dengan muda, membangun ikatan manusia dengan alam, berubah menjadi dongeng yang diceritakan kepada buah hati sebelum memejamkan mata. 

“Tinggal nanti bagaimana kami cerita ke anak cucu aja soal apa itu Nugal Nasok.”

Baca Juga: Ibu Kota Baru, Siapa Menangguk Untung?

Hutan masa kecil yang tinggal kenangan

Nasib Suku Paser, Penjaga Tradisi di Calon Ibu Kota NegaraIDN Times/Arief Rahmat

Waktu makan siang tiba. Seluruh warga menepi ke gubuk di mana para ibu telah menyiapkan makanan. Pondokan sederhana itu menyerupai rumah panggung. Ada jarak sekitar satu meter antara tanah dengan dasar bangunan. Di bagian bawah itulah tempat para ayah melepas lelah. Merebahkan dirinya di atas tanah yang ditutupi kardus atau terpal. 

Menu makan siang itu sangat sederhana. Disajikan berjajar di atas terpal bekas. Mulai dari nasi gunung, yang tentunya hasil panen tahun lalu, telur rebus balado, ikan asin, hingga sayur-sayuran. Kebersamaan membuat rasa makanan jadi sedap. Nuansa kekeluargaan siang itu jauh lebih berharga dari suasana restoran bintang lima. 

“Kalau datang ke sini harus makan dulu. Sudah tradisi kami habis Nugal makan bareng,” ucap Yossie. 

Mereka saling bercerita. Sesekali tawa lepas. Anak-anak yang naik turun tangga turut meramaikan suasana. Tidak jarang para ibu menyendokkan nasi dan lauk di piring yang sudah kosong, memaksa warga supaya tidak ada makanan yang tersisa. 

Bagi Yossie, momen-momen seperti ini tak ternilai harganya. Dia kemudian mengingat salah satu tradisi Paser yang sudah hilang seiring ekspansi perusahaan swasta ke Kabupaten PPU, yaitu berburu madu dan buah-buahan di hutan. 

“Kami diajarkan oleh orang tua kami untuk bertahan hidup dari hutan. Dulu uang memang susah, tapi kami sejahtera. Dulu metik buah tinggal ke belakang rumah, sudah ada durian, langsat, campedak. Tapi sekarang kami harus beli di pasar, apalagi nanti kalau sudah ada IKN,” papar Yossie. 

Sebagai sosok yang tumbuh besar dari kekayaan hutan, dia mengeluh karena buah dan sayur yang tersedia di pasar telah terkontaminasi bahan kimia. Alhasil, kebugaran tubuhnya tidak lagi sekuat orang tua pada usianya. 

“Gak ada hutan dampaknya signifikan bagi kesehatan kami. Sekarang saya sudah sakit-sakitan. Dulu orang tua seumuran saya malah lagi jago-jagonya bekerja,” keluh laki-laki berusia 44 tahun ini.

Apa yang Yossie ceritakan langsung bisa dikonfirmasi saat itu juga. Di sisi lain gubuk, ada Gaya yang sedang membersihkan perkakas dapur. Usianya sudah memasuki kepala enam, tepatnya 64 tahun. Suaranya masih lugas. Rambutnya masih hitam. Badannya belum membungkuk. Dia bahkan mampu memutari lahan seluas dua hektare bersama warga lainnya. Seraya tidak mau kalah dengan anak muda.

Sama seperti Yossie dan Sapan, Gaya juga khawatir kehadiran IKN akan mengikis hidupnya, perlahan demi perlahan. Mulai dari rencana pembangunan pemerintah, larangan sejumlah kegiatan di kawasan penyangga IKN, hingga tekanan dari makelar tanah dan pihak pengembang untuk mendapatkan lahan warga. 

“Kami ini petani biasa, gak ngerti apa-apa. Kalau nanti Ibu Kota di sini, gak disingkirkan kah kita? Gak bisa kumpul-kumpul lagi. Gak bisa silaturahmi lagi. Saya juga gak mau kalau disuruh pindah (relokasi), ini tanah air kami,” kata Gaya. 

Menurut Sekretaris Jenderal AMAN, Rukka Sombolinggi, negara telah “merampas” hutan adat Paser demi meraup kapital sebesar-besarnya. Negara kemudian membagi zona-zona sesuai keinginannya tanpa melibatkan masyarakat setempat.

Kebijakan ini mengakibatkan masyarakat Paser kian terpinggirkan dan kini terancam oleh rencana pemindahan IKN.

“Terjadi tumpang tindih perizinan di sana. Ada kawasan lindung, konservasi, dan juga wilayah yang diberikan izin kepada perusahaan (HGU). Itulah kenapa pemerintah percaya diri bahwa wilayah IKN adalah wilayah yang dikuasi pemerintah. Yang diuntungkan adalah pemerintah dan pihak swasta, sementara masyarakat Paser adalah pihak yang buntung,” kata Rukka kepada IDN Times di kantor AMAN, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (20/2). 

Dia menambahkan, “kalau kita melihat situasi masyarakat adat Paser, kalau pemerintah tidak segera bertindak, maka mereka bisa masuk dalam komunitas masyarakat adat yang terancam punah.”

Baca Juga: Apa Kabar RUU Ibu Kota Negara?

Kulo Nuwon Jokowi kepada tokoh adat: Gimik politik belaka

Nasib Suku Paser, Penjaga Tradisi di Calon Ibu Kota NegaraPresiden Jokowi bertemu tokoh masyarakat adat dan agama, di Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa 17 Desember 2019 (IDN Times/Teatrika Handiko Putri)

Warga Paser tidak sepenuhnya menolak kehadiran IKN. Kepercayaan para leluhur tetap mereka pegang teguh, yaitu akan tiba suatu masa di mana keramaian hadir di Penajam Paser Utara. Oleh karenanya, mau tidak mau, mereka harus menyambut keramaian tersebut. 

Akan tetapi, tidak terbesit dalam benak mereka bahwa keramaian yang akan datang justru mengancam kehadiran serta kedamaian mereka. Yossie pesimis bila dikatakan pemindahan Ibu Kota tidak akan mengganggu eksistensi masyarakat adat. Sebab, sejak 2013 hingga hari ini, RUU Masyarakat Adat sebagai banteng terakhir yang melindungi tradisi dan kearifan lokal tak kunjung disahkan. 

Setidaknya, keberadaan RUU Masyarakat adat menjamin keberadaan hutan adat sebagai tempat masyarakat melangsungkan segala ritual dan tradisi. “Tanpa Undang-Undang Perlindungan Masyarakat Adat, kami lemah di mata hukum,” kata Yossie. 

Perasaan khawatir warga Paser kian menjadi-jadi setelah pertemuan sejumlah tokoh masyarakat dengan Presiden Jokowi di De Bandar Resto, Balikpapan, pada Selasa, 17 Desember 2019. Sebagian orang mungkin saja mengira “diplomasi meja makan” itu menuntaskan segala was-was. Nyatanya, pertemuan yang berlangsung kurang dari 30 menit itu berakhir dengan kekecewaan. 

Pertemuan tersebut adalah agenda dadakan, bukan acara yang direncanakan. Ketua Lembaga Adat Paser Kabupaten Penajam Paser Utara, Musa, menceritakan bahwa dirinya dihubungi oleh rombongan presiden pada satu hari sebelum pertemuan. 

“Pertemuan itu mendadak. Saya malamnya baru diinformasikan. Malahan kami hampir tidak diundang,” ungkap Musa saat dihubungi IDN Times melalui sambungan telepon pada Kamis (6/2/2020).

Sebagai tokoh adat, Musa menanggung beban moral karena tidak menyambut kedatangan orang nomor satu di Indonesia. “Kami masyarakat Paser, setiap ada tamu besar, kami ada ritual Tepung Tawar. Tapi kami gak sempat ketika Pak Jokowi datang karena kami gak ada informasi kedatangan. Orang-orang pemerintah juga tidak koordinasi,” dia menambahkan. 

Nasib Suku Paser, Penjaga Tradisi di Calon Ibu Kota NegaraIDN Times/Arief Rahmat

Sekitar 20 tamu undangan sudah hadir di De Bandar Resto, Kota Balikpapan, dua jam sebelum pertemuan berlangsung. Bukan hanya tokoh adat, ada juga tokoh masyarakat, praktisi ekonomi hingga praktisi pendidikan. Sebagian dari mereka sudah tiba sejak pukul 10.30 WITA. Mereka harus menunggu kedatangan Jokowi yang diagendakan pada jam-jam makan siang. 

Tidak dipungkiri, meskipun mendadak, Musa mengaku senang bisa bertemu dengan Jokowi. Dia berharap pertemuan ini bisa dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai momentum menyampaikan aspirasi Suku Paser. 

Sembari menunggu kedatangan presiden, mereka disuguhkan makan siang dengan ragam menu. Mulai dari tahu, kepiting sambal, udang goreng, ayam bakar dan aneka makanan laut lainnya. Selama penantian hingga pertemuan berakhir, rumah makan itu tertutup untuk umum, juga untuk wartawan. Hanya tamu undangan dan rombongan presiden yang bisa menginjakkan kaki di sana. 

Jokowi tiba di lokasi sekitar pukul 13.00 WITA. Pertemuan berlangsung singkat dan tertutup. Begitu selesai, mantan Gubernur DKI Jakarta itu menjelaskan, maksud pertemuan tersebut adalah meminta izin kepada tokoh masyarakat se-Kalimantan Timur perkara peralihan Ibu Kota Negara. Dia juga meyakinkan, pembangunan IKN tidak akan mengganggu pemukiman warga karena pembangunannya dilakukan di atas tanah negara.

“Saya mengucapkan kulo nuwun kepada tokoh-tokoh dan masyarakat Kalimantan Timur serta umumnya di seluruh Kalimantan untuk membangun Ibu Kota,” ujar Jokowi kepada awak media pada 17 Desember 2019 lalu.

Sayangnya, pertemuan tersebut tidak memuaskan hati para tokoh, terlebih untuk perwakilan Suku Paser. Musa menyampaikan, setelah Jokowi memohon izin, sang presiden memberikan kesempatan kepada para undangan untuk menyampaikan pendapat. Tentunya semua berlomba-lomba untuk menjadi yang paling cepat mengacungkan tangan. 

Jokowi akhirnya memilih dua orang yang mengangkat tangan paling awal. Satu dari mereka mewakili warga Samarinda yang tanahnya diambil paksa demi pembangunan Tol Balikpapan-Samarinda. Lainnya adalah praktisi pendidikan. 

Salah satu tamu undangan, Ervan Masbanjar yang hadir mewakili Dewan Adat Dayak menyampaikan jika dua orang terpilih sama sekali tidak mewakili aspirasi warga Kabupaten Penajam Paser Utara, secara umum, dan Suku Paser, secara khusus. 

“Yang satu minta presiden segera menuntaskan konflik lahan terkait Tol Samarinda. Yang satunya menuntut supaya sektor pendidikan menjadi perhatian di IKN nanti. Apa yang mereka sampaikan memang tidak mewakili masyarakat yang terdampak Ibu Kota secara langsung,” kata Ervan kepada IDN Times melalui telepon pada Kamis (6/2/2020).  

Ervan menceritakan lebih jauh, “Jokowi hanya menjawab, soal tol segera diselesaikan. Kalau yang praktisi pendidikan, katanya nanti di IKN ada beberapa kluster, ada kluster bisnis, pendidikan, dan banyak. Nah yang pendidikan itu nanti katanya akan bertaraf internasional.”

Setelah itu, Jokowi tidak meneruskan sesi dialog. Si tokoh utama harus pamit. Warga hanya sempat mengutarakan satu-dua kata sembari berjabat tangan dengan sang presiden. Itu pun kurang dari satu menit. Ervan tidak yakin apa yang mereka sampaikan ketika bersalaman dicatat oleh staf presiden. 

Ironinya, usai pertemuan, tidak ada staf presiden yang menghimpun aspirasi tokoh adat yang tidak mendapat kesempatan berdialog. Pertemuan langsung selesai. Bubar begitu saja. 

“Jujur saja, kami masyarakat Paser agak kecewa dengan pertemuan tersebut. Kami sebagai perwakilan Lembaga Adat gak dapat kesempatan bicara. Padahal kami sangat ingin menyampaikan supaya kebudayaan dan hutan adat tolong disiapkan di IKN, dijaga, karena hutan sudah banyak diambil perusahaan,” kata Musa.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Sekretariat Presiden, Heru Budi Hartono, justru mengatakan bahwa rencana pertemuan sudah diatur jauh-jauh hari. Pertemuan tersebut dikatakan sebagai komitmen Jokowi untuk melibatkan masyarakat adat di tengah proses pemindahan IKN.

“Kira-kira 3-4 hari mau menuju ke sana, kita bilang kebetulan bapak akan meninjau, saran dari bapak sebaiknya tokoh setempat dilibatkan sehingga sejak dini mereka sudah tahu program. Tujuannya jadi komunikasi terbangun,” kata Heru di Istana Negara kepada IDN Times, Rabu (26/2).  

Meski dipersiapkan jauh-jauh hari, pertemuan hanya berlangsung kurang dari 30 menit. Pihak yang diberi kesempatan bicara hanya dua orang. Tidak ada dari mereka yang mewakili suara masyarakat PPU, suku Paser, dan suku Dayak sebagai pihak yang terdampak langsung pembangunan IKN. 

Kendati begitu, Heru yakin dua orang tersebut sudah mewakili aspirasi para tamu undangan yang tidak mendapat kesempatan mengutarakan aspirasinya.

“Dua itu mewakili semuanya, apa yang kira-kira mereka sarankan,” katanya.

Sebuah megaproyek bakal dibangun dan akan mengoyak tradisi warisan leluhur. Ironinya, pemerintah pusat lebih sibuk menghabiskan waktu berjam-jam bernegosiasi dengan calon investor penyandang dana, ketimbang mendengarkan keluh-kesah warga lokal.

(Disertai laporan: Ervan Masbanjar, Margith Juita Damanik dan Teatrika Handiko Putri)

Baca Juga: [Wansus] Wabup Hamdam Ungkap Tantangan Membangun IKN di Penajam

Topic:

  • Vanny El Rahman
  • Uni Lubis
  • Septi Riyani
  • Umi Kalsum

Berita Terkini Lainnya