Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Waspada! Juni-Agustus Ancaman Karhutla Meningkat
Plh. Direktur Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Ida Pramuwardani (Zoom/BMKG)
  • BMKG mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap peningkatan potensi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau 2026, terutama pada periode Juni hingga Agustus.
  • Ida Pramuwardani menjelaskan bahwa pola iklim Indonesia terbagi dalam beberapa fase, dengan puncak kemarau di pertengahan tahun yang rawan kekeringan dan karhutla.
  • Dampak karhutla dapat meluas lintas wilayah melalui sebaran asap, sehingga BMKG mendorong pemanfaatan informasi cuaca untuk mitigasi dini oleh pemerintah dan masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Desember hingga Februari

Sebagian besar wilayah Indonesia berada pada musim hujan dengan curah hujan tinggi.

Maret hingga Mei

Wilayah Indonesia mengalami masa peralihan atau pancaroba dengan cuaca dinamis antara musim hujan dan kemarau.

Juni-Agustus

Sebagian besar wilayah memasuki puncak musim kemarau dengan peningkatan risiko kebakaran hutan, lahan, dan kekeringan.

September hingga November

Wilayah kembali mengalami masa peralihan atau pancaroba menuju musim hujan.

2026

BMKG memperkirakan potensi dan intensitas karhutla meningkat selama musim kemarau akibat pengaruh El Nino moderat.

kini

BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan serta memanfaatkan informasi cuaca untuk mitigasi dini karhutla.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Peningkatan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diperkirakan terjadi selama musim kemarau 2026, khususnya pada bulan Juni hingga Agustus di berbagai wilayah Indonesia.
  • Who?
    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Pelaksana Harian Direktur Meteorologi Publik Ida Pramuwardani menyampaikan peringatan kepada masyarakat dan pemerintah daerah.
  • Where?
    Sejumlah wilayah Indonesia yang memasuki puncak musim kemarau berpotensi mengalami peningkatan risiko karhutla dan kekeringan.
  • When?
    Peringatan ini berlaku untuk periode Juni hingga Agustus 2026, saat sebagian besar wilayah berada pada puncak musim kemarau.
  • Why?
    Penurunan curah hujan serta adanya potensi El Nino berskala moderat menyebabkan kondisi kering yang meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
  • How?
    BMKG mengimbau masyarakat memanfaatkan informasi cuaca dan iklim sebagai langkah mitigasi dini serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla selama musim kemarau berlangsung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Sekarang cuacanya mulai kering karena musim kemarau datang. Bu Ida dari BMKG bilang bulan Juni sampai Agustus bisa banyak hutan dan tanah yang terbakar. Api bisa bikin udara jadi kotor dan orang susah napas. Katanya kita harus hati-hati supaya tidak ada kebakaran besar dan supaya bumi tetap aman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Peringatan BMKG mengenai meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan menunjukkan kesiapsiagaan lembaga tersebut dalam melindungi masyarakat dan lingkungan. Dengan penjelasan rinci tentang pola iklim, fase musim, serta potensi dampak El Nino, publik memperoleh informasi yang jelas untuk memahami risiko dan memanfaatkan data cuaca sebagai dasar mitigasi dini yang lebih efektif.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Memasuki musim kemarau 2026, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diperkirakan mengalami peningkatan di sejumlah wilayah Indonesia. Selain bencana hidrometeorologi basah seperti banjir dan tanah longsor, musim kemarau juga membawa risiko bencana hidrometeorologi kering yang tidak kalah serius.

Pelaksana Harian Direktur Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Ida Pramuwardani menjelaskan, perubahan musim perlu menjadi perhatian karena dapat memunculkan berbagai ancaman lingkungan. Salah satu risiko yang kerap muncul saat curah hujan menurun adalah meningkatnya potensi kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan.

“Dan pada saat bulan Juni, Juli, Agustus, ini yang perlu diperhatikan, karena pada bulan-bulan ini ancaman kebakaran hutan dan lahan, kemudian kekeringan itu akan biasanya menyertai di musim-musim kemarau ini. Apalagi kalau kita ingat bahwa kedeputian klimatologi juga sudah merilis adanya El Nino, El Nino pada skala moderat pada tahun ini potensinya,” ujar Ida.

1. Iklim di Indonesia dalam beberapa fase sepanjang tahun

ilustrasi kebakaran hutan (pexels.com/Eclipse Chasers)

Menurut Ida, pola iklim di Indonesia umumnya terbagi dalam beberapa fase sepanjang tahun. Pada periode Desember hingga Februari, sebagian besar wilayah berada pada musim hujan dengan curah hujan yang relatif tinggi.

Sementara itu, Maret hingga Mei serta September hingga November dikenal sebagai masa peralihan atau pancaroba. Pada periode tersebut, cuaca cenderung lebih dinamis karena terjadi transisi antara musim hujan dan musim kemarau maupun sebaliknya.

2. Juni-Agustus jadi ancaman kebakaran hutan

ilustrasi kebakaran hutan (pexels.com/Engin Akyurt)

Perhatian khusus, kata Ida, perlu diberikan pada bulan Juni, Juli, dan Agustus. Pada rentang waktu tersebut, sebagian besar wilayah Indonesia memasuki puncak musim kemarau yang identik dengan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan kekeringan.

Ida menyampaikan, kebakaran hutan dan lahan dapat menimbulkan dampak luas terhadap lingkungan hidup. Selain merusak ekosistem, karhutla juga berpotensi menurunkan kualitas udara dan mengganggu aktivitas masyarakat.

“Yang pertama tentunya bahwa karhutla atau potensi kebakaran hutan dan lahan yang dapat mengancam pada saat musim kemarau kali ini, itu memiliki dampak yang sangat destruktif terhadap kelestarian lingkungan, kemudian memberikan ancaman terhadap kualitas udara serta memberikan gangguan yang signifikan pada kesehatan dan juga transportasi,” kata dia.

3. Dampak karhutla bisa meluas

ilustrasi kebakaran hutan (pexels.com/Yavuz Solgun)

Ida mengatakan, dampak karhutla tidak hanya dirasakan di lokasi kejadian. Asap yang dihasilkan dari kebakaran dapat menyebar ke daerah lain, bahkan melintasi batas wilayah sehingga memunculkan persoalan yang lebih kompleks.

“Apalagi kalau misalnya untuk karhutla ini ketika nanti asapnya akan melintasi batas wilayah, maka ini juga akan menjadi isu kritis tersendiri. Sehingga dalam mengantisipasi karhutla ini kita juga perlu mengetahui bagaimana menginterpretasikan informasi yang sudah disiapkan oleh BMKG,” ucap Ida.

Karena itu, BMKG mengingatkan pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk memanfaatkan informasi cuaca dan iklim yang telah disediakan sebagai langkah mitigasi dini. Kewaspadaan dinilai semakin penting mengingat potensi dan intensitas karhutla cenderung meningkat saat musim kemarau berlangsung, terutama pada 2026.

Editorial Team

Related Article