Jakarta, IDN Times - Aksi demonstrasi pada Kamis (27/8/2026) memunculkan berbagai pembahasan di media sosial. Pembahasan itu sudah berlangsung lebih dari sepekan sebelumnya.
Peneliti Data and Democracy Research Hub Monash University Indonesia, Ika Idris, mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap video yang beredar di media sosial, terutama berkaitan dengan demonstrasi. Sebab, bisa saja video yang beredar terjadi bukan pada tanggal yang dinarasikan.
Menurut dia, konten yang tampak mendukung kelompok tertentu dapat dimanfaatkan untuk menarik perhatian pengguna sebelum berkembang menjadi penyebaran hoaks.
"Nah, takutnya saya, nanti kalau kita udah ikut mengamplifikasi, malah kita kena karena kita menyebarkan video hoaks kan. Nah, sekarang kan strateginya gitu tuh, jadi seolah-olah kayak orang sukanya apa nih, yang kontra pemerintah sukanya apa nih, dikasih lah video itu, nanti kemakan sama organik pas udah di-retweet sama orang-orang, malah ditangkap karena menyebarkan hoaks. Itu sih kekhawatiran saya untuk penyusup," ujar Ika, dikutip Kamis (27/8/2026).
Ika juga meminta masyarakat berhati-hati terhadap konten kekerasan yang muncul ketika demonstrasi berlangsung. Menurut Ika, masyarakat tidak perlu ikut menyebarkan setiap video yang muncul karena penyebaran tanpa verifikasi dapat memperbesar dampak sebuah peristiwa.
"Intinya sih gini, itu pasti akan ada, dan memang, pokoknya kita pasti akan, pertama pasti udah ada yang menyediakan gitu, ya, misalnya mau naikin apa, cuma kan namanya event ya, kadang-kadang kan itu gak bisa disiapkan juga. Kayak kemarin, Affan Kurniawan itu kan, walaupun ada sebelumnya banyak juga. Misalnya kalau cuma dorong-dorongan gitu, itu kan sebenarnya udah sesuatu yang wajar lah, tapi ketika nanti ada yang lebih kacau sih, itu jangan sampai kita termakan sih," ujar dia.
Untuk menghadapi arus informasi selama aksi, Ika menyarankan masyarakat menerapkan prinsip cui bono atau melihat pihak yang memperoleh keuntungan dari sebuah narasi. Dia juga mengingatkan pengguna media sosial untuk memperhatikan unggahan yang menunggangi tagar populer, tetapi tidak memiliki keterkaitan dengan isu utama.
"Memang paling susah sih sebenarnya membedakan tanpa alat forensik, tapi berdasarkan yang kita lihat, biasanya tuh nanti akan banyak dia itu menunggangi tagar-tagar atau percakapan yang viral tapi gak nyambung. Biasanya nanti tahu-tahu dia ikut viralin pesan, tapi terus kayak bagi-bagi kuis-kuis gitu lho! Nah, pas kita lihat yang kuis-kuis itu banyak dari negara-negara yang luar Indonesia tuh karena sebenarnya dia cuma mau mendorong tagar, misalnya tagar kayak Indonesia gelap gitu kan, nah nanti dia juga pake tuh Indonesia gelap," kata dia.
