Kalau misal kapal perang itu lewat karena status daripada Selat Malaka itu sendiri, mereka sebenarnya izin itu pada keadaan-keadaan tertentu, hal khusus tadi ya dari tonase dan sebagainya. Karena di Selat Malaka itu ada satu segmen yang pertama dangkal, yang kedua itu sempit, terutama daerah Pulau Tokong Kecil dan Tokong Besar itu di sebelah selatan Selat Philip.
Bagaimana sih kita mengamankan Selat Malaka? Sebenarnya kalau setback ke belakang, pada saat Selat Malaka menjadi black strait (selat hitam) banyak penyelundupan, banyak pencurian, banyak kecelakaan, karena di situ insurance bertambah besar bagi kapal yang lewat Selat Malaka. Kita sebenarnya dulu hampir negara besar masuk gitu kan.
Tetapi Kepala Staf Angkatan Laut kita berinisiatif dengan Panglima TNI Pak Djoko (Djoko Suyanto) waktu itu menginisiasi ada namanya tiga negara yang bertanggung jawab terhadap pengamanan Selat Malaka, yaitu Malacca Strait Patrol (MSSP) terdiri dari Malaysia, Indonesia, dan Singapura.
Saya waktu masih Pamen melaksanakan kegiatan patroli bersama. Jadi waktu itu kalau kita Angkatan Laut ketiga negara tidak sanggup, maka akan mengundang negara lain. Sekarang ini kondisinya beda, ada limpahan konflik dari Timur Tengah, Teluk Persia yang dikhawatirkan masuk ke kita.
Artinya sistem pengamanan Selat Malaka itu sebenarnya sudah established, karena saya sendiri waktu itu juga sering melaksanakan Indosin (patroli Indonesia Singapura/Indonesia Singapura Patrol Coordinated) sambil berjalan sampai sekarang. Kemudian, Patkor (patroli terkoordinasi) Malindo itu masih ada dalam rangka menjamin keselamatan lalu lintas di Selat Malaka.
Jadi Selat Malaka itu sudah terjalin satu patkor bersama, baik trilateral Malaysia, Indonesia, Singapura maupun juga bilateral, misalnya Indosin (Indonesia Singapura Patrol Coordinated), Coordinated Patrol Malaysia (Malindo). Kemudian di sebelah barat ada dengan India namanya Indindo (India-Indonesia Coordinated Patrol). Semuanya sudah establish.
Kedua sebenarnya dulu sekarang udah selesai, kita dapat bantuan namanya surveillance system (Integrated Maritime Surveillance System) di Selat Malaka. Itu pasang semua radar dari mulai Banda Aceh kemudian juga sampai ke Sambu, Belakang Padang, Batam dan di Tarempa, ya. Dan itu sudah berjalan tetapi kemudian waktu saya KASAL 2017 kita refresh lagi kita menggunakan teknologi kita bukan dari AS lagi. Karena kita sudah bisa mandiri kalau untuk bikin surveillance system.
Dan berikutnya juga untuk pengendalian di Selat Malaka, pengawasan kita juga punya VTS (Vessel Traffic System) di Batam bekerja sama dengan Singapura yang di sana disebut Fusion Center. Jadi pengawasan-pengawasan itu tetap dilaksanakan, termasuk juga terhadap kapal-kapal yang punya indikasi berkaitan keterlibatan di kawasan Teluk Persia gitu kan.
Walau pun itu kita juga memonitor dalam konteks aktivitas apakah dia pelayaran damai gitu atau ada kepentingan. Termasuk juga kita memonitor kapal-kapal yang menjadi target mereka. Kan kita juga punya database mengenai kapal-kapal yang lewat situ. Di laut kan kita sudah punya marine traffic, aplikasi itu bisa kita lihat karena AIS (Automatic Information System). Kalau di pesawat terbang ada namanya Flight Radar 24. Aplikasi itu bisa kita monitor bagaimana pergerakan udaranya. Oleh sebab itu aktivitas berkaitan pengawasan itu menurut saya sudah efektif.
Berikutnya, saya 2015 sudah melikuidasi satuan patroli angkatan laut yang tadinya terpusat di armada Surabaya. Artinya satuan patroli itu berada di daerah. Misalnya kalau di Selat Malaka satuan patrolinya di Lantamal 1 Belawan dan Lantamal 4 di Tanjung Pinang. Kemudian pembentukan Komando Armada 1, gunanya untuk apa? Untuk di Batam di Tanjung Pinang untuk lebih mendekatkan pada daerah operasi. Terutama Selat Malaka dan Natuna.
Oleh sebab itu memang dengan dinamika perkembangan kekinian mau gak mau ada namanya yang disebut optimalisasi kehadiran unsur angkatan laut, khususnya termasuk juga kapal-kapal dari mitra kolega kita, taktik KPLP (Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai), taktik Polri, Bea Cukai untuk tetap mengawasi dan perhubungan laut, KPLP untuk mengawasi lalu lintas di Selat Malaka.