Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mendukbangga Soroti 34,9 Persen Remaja Indonesia Alami Masalah Mental
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji alam Rapat Koordinasi Komite Kebijakan Sektor Kesehatan (KKSK) Triwulan III Tahun 2026. (Dok. Humas Kemendukbangga/BKKBN)
  • Wihaji menyoroti klaim 34,9 persen remaja Indonesia mengalami masalah mental berdasarkan data I-NAMHS tahun 2022.

  • Kemendukbangga/BKKBN membangun dukungan ketahanan remaja melalui konselor sebaya dan sejumlah jalur layanan.

  • Selain kesehatan mental, stunting 19,8 persen dan penguatan KB Pascapersalinan menjadi perhatian dalam rapat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Selasa (6/10/2026)

Wihaji menyampaikan sorotan mengenai masalah mental remaja, stunting, dan KB Pascapersalinan dalam rapat di Bogor.

Rabu (7/10/2026)

Pernyataan Wihaji dikutip dari siaran pers Kemendukbangga/BKKBN.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Wihaji menyoroti masalah mental yang dialami 34,9 persen remaja Indonesia, serta stunting 19,8 persen dan KB Pascapersalinan.
  • Who?
    Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji serta Kemendukbangga/BKKBN.
  • Where?
    Rapat berlangsung di Bogor.
  • When?
    Rapat digelar Selasa (6/10/2026) dalam KKSK Triwulan III 2026, dan siaran pers dikutip pada Rabu (7/10/2026).
  • Why?
    Masalah mental remaja menjadi fokus karena jumlahnya banyak, sementara stunting dan KB Pascapersalinan juga menjadi perhatian.
  • How?
    Melalui konselor sebaya, Pusat Informasi dan Konseling Remaja, jalur pendidikan dan masyarakat, Forum Genre Indonesia, serta penguatan KB Pascapersalinan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Wihaji membicarakan banyak remaja Indonesia yang punya masalah mental. Ia ingin remaja mendapat bantuan dari konselor sebaya dan tempat konseling. Wihaji juga membahas stunting dan KB setelah melahirkan. Semua hal ini dibicarakan bersama dalam rapat Kemendukbangga/BKKBN. Sekarang, program dukungan untuk remaja dan keluarga sedang dijalankan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kemendukbangga/BKKBN tidak hanya menyoroti masalah mental remaja, tetapi juga membangun ekosistem pendukung melalui konselor sebaya dan berbagai jalur layanan. Perhatian terhadap stunting serta penguatan KB Pascapersalinan menunjukkan adanya fokus pada kesehatan remaja, keluarga, ibu, dan bayi dalam satu rangkaian kebijakan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji menyoroti klaim 34,9 persen remaja Indonesia mengalami masalah mental. Isu tersebut menjadi salah satu fokus Kemendukbangga/BKKBN dalam Rapat Koordinasi Komite Kebijakan Sektor Kesehatan (KKSK) Triwulan III 2026.

“(ada) 34,9 persen remaja kita mengalami masalah mental, tapi gangguan mentalnya sudah 1 dari 20 (Data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey/I-NAMHS tahun 2022). Agak lumayan dan ini saya akan konsisten karena ini jumlahnya banyak dan merekalah yang besok-besok menggantikan kita-kita ini,” kata Wihaji dalam rapat di Bogor, Selasa (6/10/2026), dikutip dari siaran pers Kemendukbangga/BKKBN pada Rabu (7/10/2026).

1. Kesehatan mental remaja

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji alam Rapat Koordinasi Komite Kebijakan Sektor Kesehatan (KKSK) Triwulan III Tahun 2026. (Dok. Humas Kemendukbangga/BKKBN)

Dia mengatakan, Kemendukbangga/BKKBN ikut membangun ekosistem pendukung ketahanan remaja melalui konselor sebaya. Program tersebut dijalankan lewat Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK R), jalur pendidikan termasuk Sekolah Rakyat, jalur masyarakat, serta Forum Genre Indonesia.

“merekalah yang besok-besok menggantikan kita-kita ini,” kata Wihaji.

2. Stunting masih 19,8 persen

Relawan Posyandu di Magetan tengah mengukur lingkar kepala balita. (IDN Times/Riyanto)

Selain kesehatan mental, Wihaji menyoroti stunting yang menurut rilis masih berada pada angka 19,8 persen. Dia menyebut persoalan tersebut membutuhkan keterlibatan banyak pihak karena penanganannya menjadi salah satu prioritas nasional yang terus ditekankan Presiden.

“Stunting masih menjadi pekerjaan rumah yang berat. Saat ini angka prevalensi stunting masih berada di angka 19,8 persen, sehingga penanganannya harus dilakukan secara keroyokan dan melibatkan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Wihaji.

3. KB pascapersalinan disorot

Mendukbangga/BKKBN Wihaji minta ibu PKK pantau MBG di Posyandu. (IDN Times/Teri).

Dia juga mendorong penguatan KB Pascapersalinan (KBPP) untuk membantu mengatur jarak kelahiran, mencegah kehamilan tidak diinginkan, serta menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Kemendukbangga/BKKBN telah menerbitkan Permendukbangga/Kepala BKKBN Nomor 2 Tahun 2025 tentang KBPP.

“Yang belum beruntung itu rata-rata kebobolan (hamil), dan ini tentu (melahirkan di) Puskesmas dan bidan, Pak Menkes,” kata Wihaji.

Curated For You

Editorial Team

Related Article