Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Scrolling Berlebihan Jadi Ancaman bagi Remaja, Ini Pesan Wamendukbangga

Scrolling Berlebihan Jadi Ancaman bagi Remaja, Ini Pesan Wamendukbangga
Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, meninjau aktivitas Kampung KB Manggala di Kecamatan Manggala, Makassar, Jumat (30/1/2026). (Dok. Pemkot Makassar)
  • Wamen Isyana meminta keluarga memperkuat pendampingan remaja di tengah paparan digital agar waktu tumbuh, belajar, berinteraksi, dan membangun karakter tidak tergerus.
  • Menurut Kemendukbangga/BKKBN, tantangan remaja juga mencakup tekanan akademik, ketidakpastian masa depan, rendahnya literasi kesehatan jiwa, serta lingkungan pertemanan tidak sehat.
  • Indonesia memiliki 41.103 PIK-R dengan sekitar 440 ribu anggota GenRe untuk mendukung pertemanan positif, pendidikan, karier, kesehatan reproduksi, dan persiapan kehidupan berkeluarga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka meminta keluarga memperkuat pendampingan terhadap remaja di tengah derasnya paparan digital. Dia mengingatkan penggunaan teknologi jangan sampai menggerus waktu remaja untuk tumbuh, belajar, berinteraksi, dan membangun karakter.

“Jangan sampai waktu untuk tumbuh justru habis untuk scrolling. Karena itu, tugas kita bukan sekadar menjauhkan anak dari teknologi. Kita perlu membekali mereka dengan kemampuan untuk menggunakan teknologi secara sehat, aman, dan bertanggung jawab,” ujar Wamen Isyana dalam webinar nasional, dikutip Kamis (10/9/2026).

  1. 1. Keluarga jadi benteng pertama

    korban bencana banjir dan longsor di pengungsian Pidie Jaya, Aceh
    Pemulihan anak-anak korban bencana banjir dan longsor di pengungsian Pidie Jaya, Aceh. (Dok. Kemendukbangga/BKKBN)

    Isyana menilai larangan semata tidak cukup menghadapi paparan digital. Orang tua perlu membangun komunikasi terbuka, memahami kehidupan digital anak, serta mendampingi sebelum persoalan muncul. Penguatan keluarga juga dilakukan melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) dan Bina Keluarga Remaja (BKR).

    “Indonesia Emas 2045 tidak dibangun nanti. Indonesia Emas 2045 kita bangun mulai hari ini, melalui anak-anak dan remaja yang sedang tumbuh di dalam keluarga kita,” kata Isyana.

  2. 2. Remaja rawan terdorong lingkungan pertemanan

    WhatsApp Image 2025-07-14 at 16.25.31.jpeg
    Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah oleh yang dicanangkan oleh Kemendukbangga/BKBBN (Dok. Kemendukbangga/BKKBN)

    Direktur Bina Ketahanan Remaja Kemendukbangga/BKKBN dr. Irma Ardiana mengatakan tantangan remaja tidak hanya berasal dari teknologi. Tekanan akademik, ketidakpastian masa depan, rendahnya literasi kesehatan jiwa, konten dewasa, perilaku berisiko, hingga minimnya kelekatan dengan keluarga dapat memperumit kondisi.

    “Remaja itu mengalami kelekatan yang minimal dengan keluarga. Mereka tingkat loneliness-nya tinggi. Dan ini juga diperparah dengan bahwa mereka berada pada sirkel-sirkel pertemanan yang tidak sehat,” ujar Irma.

  3. 3. Ada 41.103 PIK-R di Indonesia

    Wakil Menteri (Wamen) Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, mengecek kondisi Keluarga Risiko Stunting (KRS) di Bukittinggi, Sumatera Barat pada (25/01/2025). (Dok. Kemendugbangga/BKKBN)
    Wakil Menteri (Wamen) Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, mengecek kondisi Keluarga Risiko Stunting (KRS) di Bukittinggi, Sumatera Barat pada (25/01/2025). (Dok. Kemendugbangga/BKKBN)

    Kemendukbangga/BKKBN mencatat 41.103 Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) di Indonesia, terdiri dari 18.423 jalur pendidikan dan 22.680 jalur masyarakat. Ekosistem itu mencakup sekitar 440 ribu anggota GenRe untuk mendukung pertemanan positif, pendidikan, karier, kesehatan reproduksi, dan persiapan kehidupan berkeluarga.

    “Jangan sampai waktu untuk tumbuh justru habis untuk scrolling. Karena itu, tugas kita bukan sekadar menjauhkan anak dari teknologi. Kita perlu membekali mereka dengan kemampuan untuk menggunakan teknologi secara sehat, aman, dan bertanggung jawab,” ujar Isyana.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More