Kemendukbangga: Depresi Remaja Naik, Hanya 10 Persen yang Berobat

- Kemendukbangga menyoroti hanya sekitar 10 persen remaja yang mengalami depresi mencari pengobatan, sementara perempuan muda tercatat lebih banyak mengalami depresi dibanding laki-laki.
- WHO mencatat satu dari tujuh remaja usia 10-19 tahun mengalami masalah kesehatan mental; kekerasan terhadap perempuan dan anak turut memperburuk trauma serta kualitas SDM.
- Kemendukbangga mendorong penanganan kesehatan mental dan perlindungan keluarga secara terintegrasi lintas kementerian serta lembaga, demi mencegah kekerasan dan kriminalitas pada remaja.
Jakarta, IDN Times - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menyoroti rendahnya penanganan gangguan kesehatan mental pada remaja. Di tengah ancaman bonus demografi yang sedang berlangsung, hanya sekitar 10 persen anak muda yang depresi berobat.
"Kalau SDM-nya itu penuh dengan ketidakstabilan, kekerasan, tidak memiliki ketahanan, daya juang, dan seterusnya yang positif, tentu itu akan membawa pada efek yang buruk bagi proses kapitalisasi bonus demografi itu sendiri," kata Sekretaris Kementerian/Sekretaris Utama Kemendukbangga/BKKBN, Budi Setiyono, dalam media briefing, Kamis (30/7/2026).
1. Kemendukbangga dorong penanganan lintas sektor

Budi mengatakan, persoalan kesehatan mental tidak dapat diselesaikan oleh satu kementerian saja. Menurut dia, diperlukan langkah terpadu untuk memperkuat ketahanan keluarga dan mencegah remaja terjerumus dalam kekerasan maupun kriminalitas.
"Oleh karena itu memang ini dibutuhkan satu langkah-langkah yang sifatnya terintegrasi dan komprehensif, tidak hanya pada satu sektor dan kementerian saja," ujarnya.
Dia mengatakan Kemendukbangga berperan mengoordinasikan lintas kementerian dan lembaga agar upaya perlindungan keluarga berjalan lebih efektif menuju Indonesia Emas 2045.
2. Kemendukbangga soroti rendahnya penanganan depresi remaja

Deputi Bidang Kebijakan Strategi Pembangunan Keluarga, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Ukik Kusuma Kurniawan, memaparkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan perempuan muda lebih banyak mengalami depresi dibanding laki-laki. Di sisi lain, hanya sekitar 10 persen remaja dengan depresi yang mencari pengobatan.
"Jadi memang kesehatan mental itu menjadi isu yang semakin mengemuka gitu ya terkait juga adanya isu kekerasan kepada perempuan dan anak-anak kita," kata dia.
Dia juga mengutip data WHO yang menunjukkan satu dari tujuh remaja usia 10-19 tahun mengalami masalah kesehatan mental.
2. Kekerasan disebut memperburuk kualitas SDM

Ukik mengatakan, kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak berhenti pada dampak psikologis. Menurut dia, persoalan itu juga memengaruhi kualitas SDM yang menjadi modal utama bonus demografi.
"Kualitas SDM kita ditentukan sekali oleh perlindungan terhadap perempuan dan anak yang kita lakukan pada hari ini," ujar dia,
Dia menegaskan, ancaman bonus demografi akan semakin besar apabila generasi produktif tumbuh dengan trauma akibat kekerasan maupun masalah kesehatan mental.


















