Jakarta, IDN Times - Sebanyak 2,4 juta anak perempuan di Afganistan tidak dapat mengakses pendidikan menengah sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan UNESCO menilai pembatasan tersebut terus memperburuk krisis pendidikan di negara itu.
Jumlah anak perempuan yang terdampak meningkat sekitar 200 ribu orang dibandingkan tahun sebelumnya. UNESCO mendesak otoritas Afganistan membuka kembali akses pendidikan menengah dan tinggi bagi perempuan tanpa syarat karena pembatasan tersebut berisiko menimbulkan dampak sosial dan ekonomi jangka panjang.
