Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

AS Desak Negara Timur Tengah Setop Kerja Sama Dagang dengan Iran

2 min read
AS Desak Negara Timur Tengah Setop Kerja Sama Dagang dengan Iran
potret bendera Amerika Serikat (pexels.com/Renan Tagliaferro)
  • AS mendesak negara Timur Tengah dan Eropa menghentikan perdagangan dengan Iran, dengan ancaman pemutusan kerja sama dagang serta hubungan diplomatik oleh Washington.
  • Desakan itu menjadi bagian operasi Economic Outcast yang diluncurkan Donald Trump pada Agustus untuk menambah sanksi dan memperdalam isolasi ekonomi Iran.
  • Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengakui ekonomi negaranya menurun drastis akibat tekanan AS, tetapi menegaskan Iran tidak akan menyerah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mendesak negara-negara di Timur Tengah untuk menghentikan kerja sama perdagangan dengan Iran. Jika tidak, maka Washington akan memutus kerja sama perdagangan dan hubungan diplomatik dengan mereka.

"Anda harus berdagang dengan Washington," kata seorang pejabat tinggi di Kementerian Keuangan AS, Jonathan Burke, kepada mitra dagang Iran di seluruh Timur Tengah dan Eropa, menurut laporan Wall Street Journal (WSJ) yang dirilis pada Jumat (25/9/2026), seperti dikutip Jerusalem Post, Minggu (27/9/2026).  

  1. 1. AS meluncurkan operasi Economic Outcast terhadap Iran

    Donald Trump sedang diwawancara wartawan.
    Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang sedang diwawancara oleh wartawan di Gedung Putih, Washington D.C., pada 8 Mei 2026. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)

    Burke menjelaskan, desakan ini merupakan salah satu bagian dari operasi Economic Outcast yang dilakukan AS ke Iran. Operasi ini diluncurkan oleh Presiden AS, Donald Trump, pada Agustus lalu untuk menghancurkan ekonomi Iran dari dasar. Caranya adalah dengan menambah sanksi dan meningkatkan isolasi ekonomi terhadap Teheran. 

    Misi dari operasi Economic Outcast ini sebetulnya sama dengan operasi Economic Furry yang diluncurkan Trump ketika mulai berperang dengan Iran pada 28 Februari lalu. Dengan operasi ini, Trump ingin menghancurkan ekonomi Teheran dari dasar agar mereka tidak bisa melanjutkan perang melawan Washington. 

  2. 2. Iran mengakui dampak buruk dari operasi Economic Outcast AS

    Masoud Pezeshkian sedang berbicara kepada orang.
    potret Presiden Iran, Masoud Pezeshkian (commons.wikimedia.org/khamenei.ir)

    Pemerintah Iran sendiri sudah mengakui dampak buruk dari operasi Economic Outcast yang dilakukan AS. Dalam pidatonya pada hari ke-2 sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Rabu (23/9/2026), Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan, operasi tersebut telah membuat kondisi ekonomi Iran menurun drastis. Meski demikian, ia menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah. 

    "Amerika dan Israel mengira mereka dapat menggulingkan kami dengan tekanan-tekanan ini. Namun, kami akan mengatasi semua masalah dengan kekuatan," kata Pezeshkian dalam pernyataan terbarunya kepada Al Jazeera pada Minggu (27/9/2026).

  3. 3. AS sudah memberi Iran sanksi ekonomi sejak 1979

    Bendera Iran sedang berkibar.
    potret bendera Iran (unsplash.com/sina drakhshani)

    AS sendiri sudah memberi Iran sanksi ekonomi sejak 1979. Artinya, sanksi ekonomi AS terhadap Iran kini sudah berjalan selama kurang lebih 50 tahun. Ketika itu, sanksi ini diberikan karena Iran menyita Gedung Kedutaan Besar AS yang ada di Ibu Kota Teheran. 

    Sanksi yang diberikan AS terhadap Iran ini akhirnya membuat ekonomi Iran terisolasi dari dunia luar. Selama puluhan tahun, Teheran jadi tidak bisa melakukan perdagangan internasional dengan negara lain. Kendati demikian, tekanan ini membuat Iran menjadi negara yang mandiri. Sebab, mereka akhirnya beradaptasi dan mencoba mengurangi ketergantungan terhadap pihak asing.   

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More