Jakarta, IDN Times - Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi mengungkapkan kondisi Selat Hormuz hingga saat ini dalam keadaan yang tidak biasa. Padahal, sejak Selasa (7/4/2026) Amerika Serikat, Israel dan Iran sepakat melakukan gencatan senjata selama dua minggu.
Akibatnya, nasib dua kapal tanker milik PT Pertamina hingga kini masih belum jelas. Keduanya masih berada di perairan Timur Tengah. Boroujerdi menyebut agar kapal bisa lewat Selat Hormuz harus melewati sejumlah protokol.
"Terkait dengan kondisi di Teluk Persia dan Selat Hormuz saat ini tidak dalam kondisi biasa. Seperti yang kita ketahui, di sana memiliki kesensitivitasan saat masa-masa perang dan harus melalui beberapa protokol," ujar Boroujerdi ketika menjawab pertanyaan IDN Times di Universitas Paramadina, Cipayung, Jakarta Timur pada Sabtu (11/4).
Ia menambahkan, protokol itu diberlakukan oleh pihak keamanan atau penjaga Selat Hormuz. Selain itu, agar kapal komersial bisa lewat Selat Hormuz, ada proses negosiasi yang harus dilakukan.
"Negosiasi itu dilakukan dengan pihak terkait dan penjaga keamanan Republik Islam Iran. Itu semuanya melewati protokol tertentu," ujarnya.
Namun ia tak menjelaskan protokol apa yang harus dilewati oleh pihak Pertamina agar dua kapalnya bisa lewat Selat Hormuz dengan aman.
