Kemlu RI Utamakan Diplomasi untuk 2 Kapal Pertamina yang Masih Tertahan

- Pemerintah Indonesia terus memantau dua kapal Pertamina yang tertahan di Selat Hormuz dan mengedepankan diplomasi lintas pihak untuk menjaga keamanan aset serta stabilitas jalur energi global.
- Kementerian Luar Negeri menegaskan keselamatan Anak Buah Kapal WNI sebagai prioritas utama, dengan koordinasi intensif bersama Pertamina dan Kedutaan Iran guna memastikan perlindungan maksimal di wilayah konflik.
- Pemerintah turut mencermati rencana Iran mengenakan biaya transit di Selat Hormuz karena berpotensi memengaruhi rantai pasok energi global dan stabilitas ekonomi yang bergantung pada kelancaran distribusi minyak.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Indonesia memastikan terus memantau kondisi kapal-kapal berbendera Indonesia yang masih tertahan di perairan Selat Hormuz di tengah konflik kawasan yang belum mereda. Jalur strategis tersebut kini menjadi titik krusial bagi keamanan energi global.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyatakan langkah diplomasi dan koordinasi lintas pihak terus dilakukan, terutama untuk memastikan keselamatan awak kapal serta perlindungan aset nasional yang berada di wilayah tersebut.
Situasi di Selat Hormuz menjadi perhatian serius karena jalur ini dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dunia. Gangguan di kawasan ini berdampak langsung terhadap distribusi energi global, termasuk bagi Indonesia yang bergantung pada impor energi.
Di tengah ketegangan yang masih berlangsung, pemerintah juga mencermati sejumlah kebijakan baru yang berpotensi memengaruhi aktivitas pelayaran, termasuk wacana pengenaan biaya transit oleh Iran.
1. Diplomasi RI amankan kapal dan ABK

Juru Bicara II Kemlu RI, Vahd Nabyl Mulachela, menegaskan pemerintah terus melakukan koordinasi intensif untuk memastikan kondisi kapal Indonesia tetap aman di tengah situasi yang belum stabil.
“Kemlu terus berkoordinasi dengan Pertamina dan Kedutaan Iran di Jakarta untuk memastikan keselamatan aset dan kru,” ujar Nabyl dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Menurutnya, langkah diplomasi menjadi kunci utama dalam menghadapi situasi ini, mengingat Selat Hormuz berada di wilayah dengan sensitivitas geopolitik tinggi.
Pemerintah juga terus berkomunikasi dengan berbagai pihak terkait untuk memastikan jalur komunikasi tetap terbuka, terutama dalam hal izin perlintasan kapal.
Selain itu, pendekatan diplomatik dilakukan untuk memastikan kapal berbendera Indonesia tidak menjadi sasaran atau terdampak langsung dari eskalasi konflik yang terjadi di kawasan tersebut.
2. Keselamatan WNI jadi prioritas utama

Kemlu menegaskan, keselamatan Anak Buah Kapal (ABK) yang merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) menjadi prioritas utama dalam setiap langkah yang diambil pemerintah. Nabyl menyebut perlindungan terhadap kru kapal menjadi fokus utama di tengah ketidakpastian situasi keamanan di Selat Hormuz.
Ia menjelaskan, sejumlah isu teknis masih terus ditangani, termasuk terkait perizinan dan jaminan keamanan selama kapal berada di wilayah tersebut.
Menurutnya, koordinasi dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan seluruh prosedur berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Pemerintah juga memastikan setiap perkembangan di lapangan terus dipantau secara real-time untuk mengantisipasi potensi risiko yang dapat membahayakan WNI di wilayah tersebut.
3. Wacana biaya transit jadi sorotan

Selain faktor keamanan, pemerintah juga mencermati wacana kebijakan baru yang berpotensi memengaruhi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, yakni rencana pengenaan biaya transit oleh otoritas Iran.
“Kebijakan ini menjadi perhatian serius karena berpotensi berdampak pada logistik global,” kata Nabyl.
Menurutnya, kebijakan tersebut tidak hanya berdampak pada Indonesia, tetapi juga pada rantai pasok global yang sangat bergantung pada kelancaran distribusi energi melalui jalur tersebut.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab, sehingga setiap perubahan kebijakan di wilayah ini memiliki implikasi luas. Pemerintah Indonesia pun terus mengkaji perkembangan ini secara cermat, mengingat dampaknya tidak hanya pada sektor energi, tetapi juga terhadap stabilitas ekonomi secara lebih luas.



















