72 Penambang Tewas akibat Serangan Udara di Perbatasan Mesir-Sudan

- Sedikitnya 72 penambang tewas dalam serangan udara di tambang emas wilayah perbatasan Sudan-Mesir pada 10 Oktober 2026; Emergency Lawyers menuduh militer Mesir bertanggung jawab.
- Penyintas menyebut jet tempur menyerang hingga lima kali saat ribuan orang bekerja. Jumlah korban berpotensi bertambah karena sejumlah orang diduga masih tertimbun reruntuhan.
- Insiden ini merupakan serangan kedua di Jabal al-Uqaydat sepanjang 2026, di tengah sengketa perbatasan dan aktivitas perdagangan emas, penyelundupan, serta perdagangan manusia.
Jakarta, IDN Times - Kelompok hak asasi manusia Sudan melaporkan bahwa sedikitnya 72 orang tewas akibat serangan udara di sebuah tambang emas di wilayah perbatasan Sudan-Mesir. Militer Mesir dituduh bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Emergency Lawyers, yang berbasis di ibu kota Sudan, Khartoum, mengatakan bahwa jet tempur Mesir menyerang para penambang tradisional di sebuah lokasi penambangan emas populer di negara bagian Sungai Nil pada Sabtu (10/10/2026). Jumlah korban tewas disebut masih bisa bertambah.
“Penargetan yang disengaja terhadap warga sipil yang tidak bersenjata merupakan pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional dan hak untuk hidup. Tindakan-tindakan ini dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang," kata Emergency Lawyers dalam pernyataan pada Minggu (11/10/2026), dikutip BBC.
1. Serangan udara terjadi hingga lima kali

ilustrasi pesawat tempur yang melancarkan serangan terhadap target (DVIDS Tech Sgt c/o Michael B. Keller, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons) Abdelaziz Youssef, salah satu penambang yang selamat, menceritakan bahwa dirinya melihat jet tempur melintas di atas lokasi penambangan sekitar pukul 08.00 waktu setempat pada Sabtu. Pesawat itu disebut melancarkan serangan hingga lima kali.
“Kami berlari menaiki gunung karena takut akan ada serangan susulan,” katanya kepada AFP.
Korban selamat lainnya, Sharaf Ali, mengatakan bahwa ribuan orang bekerja di tambang tersebut saat serangan terjadi.
“Setelah serangan udara, orang-orang berpencar. Sebagian menuju Pasar Al-Ansary, sementara yang lain pergi ke arah berbeda. Itulah sebabnya tidak ada yang tahu pasti berapa banyak orang yang tewas,” tuturnya.
Dilansir France24, banyak korban dikhawatirkan masih terjebak di bawah reruntuhan. Adapun lokasi tersebut berjarak beberapa jam perjalanan dari pusat kota terdekat.
2. Serangan kedua di Jabal al-Uqaydat sepanjang 2026

ilustrasi area tambang (Fars Media Corporation, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons) Dilansir Al Jazeera, serangan pada Sabtu merupakan serangan kedua di kawasan penambangan emas Jabal al-Uqaydat sepanjang 2026. Sebelumnya, Mesir juga dilaporkan melancarkan serupa yang menewaskan 23 penambang pada Juni. Saat itu, militer Mesir mengklaim menggelar operasi besar-besaran untuk menindak aktivitas penambangan emas ilegal di dalam wilayahnya.
Perbatasan antara Sudan dan Mesir masih menjadi sengketa, dengan kedua negara sama-sama mengklaim wilayah Segitiga Halayeb yang kaya akan sumber daya alam. Namun, Emergency Lawyers mengatakan bahwa serangan pada Sabtu terjadi di wilayah Sudan.
"Serangan berulang di wilayah perbatasan yang kaya akan emas dan mineral itu mencerminkan keinginan pihak berwenang Mesir untuk memperluas dan menegaskan kendali atas sumber daya alam Sudan," demikian pernyataan kelompok tersebut.
3. Kawasan di sebelah timur Sungai Nil telah lama menjadi pusat aktivitas ilegal

pemandangan piramid dan bendera Mesir (unsplash.com/Jordi Orts Segalés) Meski mendukung militer Sudan dalam perang melawan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF), Mesir memandang konflik di sepanjang perbatasannya dengan Sudan sebagai ancaman serius terhadap keamanan nasional. Perbatasan kedua negara itu membentang sepanjang 1.200 kilometer dari Laut Merah hingga Libya.
Selama bertahun-tahun, wilayah perbatasan di sebelah timur Sungai Nil telah menjadi jalur perdagangan emas, penyelundupan barang, dan perdagangan manusia. Mesir telah berupaya membendung berbagai aktivitas ilegal tersebut, termasuk melalui deportasi massal.























