Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Afrika Jadi Benua yang Paling Terdampak Krisis Iklim Global

Afrika Jadi Benua yang Paling Terdampak Krisis Iklim Global
ilustrasi(unsplash.com/Annie Spratt)

Jakarta, IDN Times - Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Iklim Afrika pertama akan dibuka pada Senin (4/9/2023) di Kenya. Pertemuan akan menyoroti benua Afrika yang paling menderita akibat perbuhan iklim, namun berkontribusi paling kecil dalam perubahan iklim yang terjadi.

Data Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menunjukkan, benua Afrika lebih besar dari gabungan China, India dan Amerika Serikat (AS). Namun, benua itu hanya memiliki 37 fasilitas radar untuk melacak cuaca. 

Sementara, Eropa memiliki 345 fasilitas radar dan Amerika Utara memiliki 291 fasilitas. Investasi yang signifikan dalam adapatasi Afrika terhadap perubahan iklim, termasuk perkiraan cuaca yang baik, akan menjadi tujuan mendesak dalam KTT tersebut.

“Benua ini, secara umum, berada dalam titik buta risiko iklim,” kata peneliti di Pusat Studi Risiko Eksistensial di Universitas Cambridge, Asaf Tzachor, dikutip dari Al Jazeera.

  1. 1. Kurangnya pengumpulan data cuaca di Afrika

    KTT akan membahas berbagai masalah fundamental, mulai dari energi hingga pertanian. Termasuk kurangnya pengumpulan data menjadi salah satu pendorong pengambilan keputusan yang penting, seperti kapan harus menanam dan kapan harus berhenti menanam.

    Pada Agustus lalu, Tzachor dan rekannya telah memperingatkan bahwa perubahan iklim akan merugikan Afrika lebih dari 50 miliar dolar AS (sekitar Rp761,2 triliun) setiap tahun pada 2050. Diperkirakan, saat itu populasi di Afrika akan mengalami peningkatan hingga dua kali lipat.

    Komentar Tzachor juga mengatakan, ketidakmampuan yang meluas untuk melacak dan meramalkan cuaca mempengaruhi pilihan-pilihan utama pembangunan.

    “Tidak ada gunanya berinvestasi pada pertanian skala kecil, misalnya, jika banjir hanya akan menghanyutkannya.” tulis Tzachor di dalam jurnal Nature.

  2. 2. Sekjen PBB janji atasi masalah iklim di Afrika

    Dilansir Al Jazeera, Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterrs, berjanji akan mengatasi ketidakadilan yang membara dalam krisis iklim di Afrika. 

    Gutters mengatakan, negara-neagra Afrika hampir tidak berkontribusi apapun dalam pemanasan global. Namun, negara-negara tersebut berada di garis depan dalam menghadapi badai, kekeringan, dan banjir yang sangat dahsyat.

    Pemerintah di Afrika juga menghadapi tingkat utang dan suku bunga yang menghambat investasi pada energi terbarukan. Walaupun Afrika memiliki banyak tenaga surya, angin, dan air mineral yang penting. Cuaca yang tepat adalah hal lain di Afrika yang sangat membutuhkan perhatian, ujar Gutters.

  3. 3. Sulitnya menghubungkan bencana alam dan perubahan iklim di Afrika

    Benua Afrika, yang beranggotakan 54 negara, relatif belum terlayani dan tidak diperingatakan tentang cuaca dan bencana alam. Kurangnya data di sebagian besar negara Afrika juga mempersulit upaya menghubungkan beberapa bencana alam dengan krisis iklim.

    “Meskipun mencakup seperlima dari total luas daratan dunia, Afrika memiliki jaringan observasi berbasis daratan yang paling sedikit berkembang di semua benua, dan salah satu benua tersebut berada dalam kondisi yang memburuk,” kata WMO pada 2019.

    Kumpulan peneliti iklim yang dikenal Word Weather Attribution, pada awal tahun ini dalam laporannya, mengatakan bahwa data yang terbatas membuat mustahil untuk mengevaluasi peran krisis iklim dalam banjir yang telah menewaskan ratusan orang di Republik Demokratik Kongo dan Rwanda di sekitar Danau Kivu pada Mei lalu.

    “Kami sangat membutuhkan data dan penelitian iklim yang kuat di wilayah yang sangat rentan ini,” kata laporan mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More