Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Alasan Trump Serang Iran: Tak Mau Diserang Duluan
potret Presiden Amerika Serikat Donald Trump (whitehouse.gov)
  • Presiden Donald Trump memutuskan menyerang Iran bersama Israel untuk mencegah serangan terlebih dahulu terhadap pasukan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
  • Trump menegaskan tujuannya agar rezim Iran tidak memperoleh senjata nuklir, meski perundingan diplomatik baru saja dilakukan tanpa hasil konkret.
  • Badan Atom Internasional (IAEA) menyatakan Iran belum memiliki senjata nuklir, namun tingkat pengayaan uraniumnya menimbulkan kekhawatiran global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio mengungkap alasan Presiden Donald Trump ikut Israel menyerang Iran. Menurutnya, Trump membuat keputusan menyerang Iran karena ia dihadapkan pada ‘kesempatan unik’ agar misi mereka berhasil.

“Presiden bertekad, kita tidak akan diserang terlebih dahulu. Sesederhana itu,” kata Rubio menjelang pengarahan tertutup untuk para anggota parlemen, dikutip dari Al Jazeera, Rabu (4/3/2026).

1. Menyerang supaya tak diserang balik

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio (Wikimedia.org/Gage Skidmore)

Rubio mengulangi pernyataannya sehari sebelumnya yang sempat memicu reaksi keras. Ia mengatakan Trump percaya Israel bertekad bertindak dan ingin AS mempertimbangkan serangan pendahuluan terhadap Iran untuk mencegah balasan ke pangkalan-pangkalan AS.

“Kita tidak akan membahayakan pasukan Amerika,” ujar Rubio, yang juga menegaskan perlindungan bagi militer AS tetap menjadi prioritas di tengah ketegangan Timur Tengah.

2. Tak ingin Iran dapat senjata nuklir

Ilustrasi fasilitas nuklir Iran (Twitter.com/Iran_Newsroom)

Di tengah perubahan alasan pemerintahan untuk perang dengan Iran, Rubio juga kembali pada alasan awal Trump.

“Tidak mungkin rezim teroris ini akan mendapatkan senjata nuklir, tidak di bawah pengawasan Donald Trump,” kata Rubio.

Padahal, serangan ini berlangsung hanya beberapa hari setelah AS dan Iran duduk di meja perundingan yang dimediasi Oman. Memang belum ada kesepakatan yang dicapai, dan Trump disebut-sebut tidak senang dengan hasil perundingan terbaru.

3. IAEA tegaskan Iran tak miliki senjata nuklir

Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi. (commons.wikimedia.org/IAEA Imagebank)

Di sisi lain, Badan Atom Internasional (IAEA) menegaskan, berdasarkan pantauan mereka, Iran tak memiliki senjata nuklir.

“Para inspektur IAEA belum menemukan bukti program Iran yang terkoordinasi untuk membangun senjata nuklir,” kata Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi, mematahkan klaim Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Grossi membenarkan Teheran telah memperkaya uranium hingga kemurnian 60 persen, tingkat yang jauh melampaui kebutuhan energi sipil. Grossi mengatakan, pengayaan semacam itu merupakan sesuatu yang hanya dimiliki oleh negara-negara dengan senjata nuklir.

Ia menekankan, para inspektur tidak dapat menyimpulkan Iran bermaksud untuk membangun bom, tetapi mengatakan penimbunan tersebut menimbulkan pertanyaan serius.

“Pengayaan ini adalah sumber kekhawatiran yang kami miliki dan tidak ada tujuan yang jelas untuk mengakumulasi material pada tingkat tersebut,” katanya.

“Sentrifuganya berputar terus-menerus dan menghasilkan semakin banyak material itu,” ujar Grossi. Ia menambahkan, secara teoritis ini akan cukup untuk menghasilkan lebih dari 10 hulu ledak nuklir.

“Tetapi apakah mereka memilikinya? Tidak,” tegasnya.

Editorial Team