Trump: Stok Munisi AS Hampir Tak Terbatas dan Siap Perang Selamanya

- Donald Trump menyatakan stok munisi AS berada pada level terbaik sepanjang sejarah, dengan pasokan senjata hampir tak terbatas yang diyakini mampu menopang perang jangka panjang.
- Trump menuding pemerintahan Joe Biden menguras stok premium akibat bantuan besar ke Ukraina, namun menegaskan kini persediaan telah pulih dan siap digunakan untuk kemenangan militer.
- Di tengah ketegangan dengan Iran, militer AS memperkuat armada di Timur Tengah dengan kapal induk, jet tempur modern, dan ribuan prajurit yang siaga di berbagai pangkalan regional.
Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan persediaan munisi kelas menengah hingga menengah atas milik negaranya kini berada pada kondisi terbaik sepanjang sejarah. Pernyataan itu ia sampaikan melalui akun Truth Social pada Selasa (3/3/2026).
“Stok Munisi AS, pada tingkat menengah dan menengah atas, belum pernah setinggi atau sebaik ini - Seperti yang dikatakan kepada saya hari ini, kami memiliki pasokan senjata yang hampir tak terbatas,” tulisnya, dikutip dari New York Post.
Trump juga menyampaikan bahwa cadangan tersebut memungkinkan perang dijalankan dalam waktu sangat lama dan tetap berhasil hanya dengan mengandalkan persediaan itu. Ia menyebut stok tersebut bahkan lebih unggul dibandingkan senjata terbaik negara lain serta memastikan AS akan mudah menang dan pasukan siap beroperasi selama dibutuhkan.
1. Trump soroti stok premium dan kebijakan pemerintahan sebelumnya

Trump menyebut persediaan munisi kelas tertinggi sudah cukup baik meski belum sepenuhnya sesuai harapannya. Ia menjelaskan sebagian besar tambahan senjata kelas atas tersebut ditempatkan di negara sekutu di luar wilayah AS.
Dilansir dari Economic Times, ia kemudian menuding pemerintahan sebelumnya, saat dipimpin Joe Biden, telah menghabiskan stok premium karena mengirim bantuan militer dalam jumlah sangat besar ke Ukraina tanpa pengisian ulang memadai. Trump menyatakan sejak masa jabatan pertamanya, militer mulai dibangun kembali dan terus diperkuat hingga kini sehingga persediaan disebut melimpah dan siap digunakan untuk meraih kemenangan besar.
2. Serangan gabungan AS-Israel picu respons Iran

Serangan udara bersama AS dan Israel dilaporkan menghantam sejumlah kota di Iran. Aksi militer itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan terkait program nuklir Iran serta penanganan demonstrasi di dalam negeri.
Pemerintah Iran memandang serangan tersebut sebagai bagian dari rangkaian operasi besar yang disebut melibatkan AS dan Israel. Sejumlah pejabat Iran melaporkan terlihat asap hitam tebal di sekitar markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Manama, Bahrain, meski hingga kini belum ada konfirmasi dari pihak AS mengenai dampak kerusakan di lokasi tersebut.
Negara-negara yang yang menampung pangkalan militer AS, yakni Uni Emirat Arab, Qatar, Yordania, dan Kuwait, menyatakan berhasil mencegat rudal Iran yang masuk. Di Qatar, otoritas setempat menyebut sejumlah rudal yang diarahkan ke Pangkalan Udara Al Udeid, fasilitas militer AS terbesar di kawasan, berhasil dihalau.
3. Militer AS perkuat armada dan pasukan di Timur Tengah

Kehadiran militer AS di kawasan Timur Tengah saat ini tergolong besar. Armada lautnya mencakup dua kapal induk, yakni USS Abraham Lincoln yang berada di Laut Arab serta USS Gerald R. Ford, kapal induk terbesar dan tercanggih milik Angkatan Laut AS, yang telah melewati Selat Gibraltar dan dijadwalkan tiba di Mediterania timur.
Dilansir dari The Independent, kapal pengawalnya terdiri atas 11 kapal perusak, tiga kapal tempur pesisir, serta dua atau tiga kapal selam serang yang setidaknya satu di antaranya bertenaga nuklir dan membawa rudal Tomahawk.
Di sektor udara, lebih dari 50 jet tempur modern seperti F-35, F-22, dan F-16 telah ditempatkan di berbagai pangkalan kawasan yang lebih luas, sementara di Pangkalan Muwaffaq Salti, Yordania, tersedia F-15 generasi lama, A-10 Warthogs, dan pesawat angkut C-130. Pesawat pengisi bahan bakar KC-135 ditempatkan di Eropa dan Timur Tengah untuk mendukung operasi jarak jauh, sedangkan sekitar 10 ribu prajurit AS masih bersiaga di sejumlah pangkalan regional.
Trump mengingatkan bahwa jika Iran tak mencapai kesepakatan nuklir, serangan lanjutan dapat dilakukan dari Diego Garcia atau RAF Fairford di Inggris.

















