TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Situasi Berbalik, Ini Kata Iran dan Tiongkok Soal Protes George Floyd

AS kini disorot karena brutal kepada demonstran

Petugas kepolisian negara bagian berjaga saat protes atas kematian George Floyd di Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat, pada 31 Mei 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Lucas Jackson

Washington DC, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat yang biasanya sangat vokal terhadap berbagai protes di negara-negara lawan kini berbalik jadi sorotan. Di tengah demonstrasi menuntut keadilan atas pembunuhan laki-laki kulit hitam George Floyd, penghentian rasisme serta kebrutalan polisi lewat gerakan #BlackLivesMatter, Iran dan Tiongkok mengeluarkan pernyataan masing-masing.

Mereka tak hanya memanfaatkan media sosial, tapi juga media aras utama, untuk mengkritik cara pemerintah merespons para pengunjuk rasa yang kerap diwarnai kekerasan.

Lewat beragam video yang beredar di internet tampak bagaimana polisi memakai gas air mata, peluru karet, senjata api bahkan mobil dinas untuk menyerang demonstran. Presiden Donald Trump juga menambah panas situasi dengan mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang berusaha memojokkan mereka.

Baca Juga: Fenomena Gunung Es, Kematian George Floyd Picu Kerusuhan di AS

1. Iran menyebut rakyat Amerika Serikat menjadi korban opresi negara dan menyatakan dukungan kepada mereka

Pengunjuk rasa membawa poster saat mereka berdemonstrasi dalam unjuk rasa di seluruh negeri menyusul kematian George Floyd saat ditahan oleh polisi Minneapolis, di Long Beach, California, Amerika Serikat, pada 31 Mei 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Patrick T. Fallon

Negara yang langsung menggunakan kesempatan ini untuk menyerang Amerika Serikat adalah Iran. Sudah bukan rahasia bahwa Washington sering secara terbuka menuding Tehran melakukan kekerasan kepada warga yang berunjuk rasa dan mencoba membungkam mereka.

Kementerian Luar Negeri Iran sendiri mengeluarkan pernyataan resmi pada Senin (1/6) yang berisi permintaan agar Amerika Serikat “berhenti memakai kekerasan” terhadap rakyatnya sendiri.

“Kepada masyarakat Amerika Serikat: dunia mendengar jeritan kalian akibat opresi oleh negara. Dunia bersama kalian,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Abbas Mousavi dalam sebuah konferensi pers yang dikutip Al Jazeera.

“Dan kepada para pejabat Amerika Serikat serta polisi: hentikan kekerasan terhadap rakyat kalian sendiri dan biarkan mereka bernapas,” tambah Mousavi, memakai kata-kata Floyd saat sekarat di tangan polisi di mana ia mengaku “tak bisa bernapas”.

“Kami sangat menyayangkan melihat rakyat Amerika, yang menginginkan penghormatan dan tak ada lagi kekerasan secara damai, ditekan tanpa tedeng aling-aling dan dihadapi dengan kekerasan,” kata dia lagi, kemudian menambahkan bahwa Amerika Serikat “mempraktikkan kekerasan dan perundungan di dalam dan luar negeri”.

Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif juga tak tinggal diam. “Beberapa orang tak berpikir #BlackLivesMatter,” cuit Zarif pada Minggu (31/6). “Kepada kita yang berpikir itu penting: sudah seharusnya dari lama bagi dunia untuk menyatakan perang melawan rasisme. Waktunya untuk sebuah #WorldAgainstRacism (dunia tanpa rasisme).”

2. Pemerintah Tiongkok ikut menyebut Amerika Serikat rasis

Seorang warga lokal berdiri di depan memorial penghormatan sementara kepada George Floyd, di lokasi di mana ia ditahan oleh polisi, di Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat, pada 1 Juni 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Carlos Barria

Sepanjang musim panas tahun lalu Amerika Serikat gencar mengkritik Tiongkok yang telah memberangus kebebasan rakyat Hong Kong dengan memanfaatkan polisi dan persenjataan untuk melawan demonstran anti-pemerintah. Sekarang, Beijing berusaha membalikkan keadaan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Hua Chunying menuliskan twit “Saya tak bisa bernapas”. Hua memakai kalimat Floyd itu untuk merespons cuitan seorang jurnalis yang mengatakan dunia harus menuntut pertanggung jawaban Partai Komunis Tiongkok yang “melanggar janji kepada rakyat Hong Kong” dengan mengesahkan Undang-undang Keamanan Nasional.

UU itu akan mencengkeram kebebasan parsial yang dirasakan warga Hong Kong selama ini. Demonstrasi di pulau itu pun berlangsung lagi karena mereka menolak kontrol Beijing. Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam menuduh Amerika Serikat punya “standar ganda” terkait bagaimana seharusnya merespons demonstrasi.

“Mereka sangat khawatir terhadap keamanan nasional mereka sendiri, tapi keamanan nasional kami, mereka melihatnya lewat kaca berwarna,” kata Lam dalam konferensi di awal pekan ini seperti dikutip Reuters. Dengan “kaca berwarna”, artinya situasi yang ada tak bisa dilihat secara jelas.

“Ada kerusuhan di Amerika Serikat. Kami menyaksikan bagaimana pemerintah lokal bereaksi. Saat kami mengalami kerusuhan yang sama di Hong Kong, kami melihat posisi yang mereka adopsi kala itu,” tambahnya. “Pemerintah asing mengkritik pemerintah [kami]. Beberapa mengancam mengambil sikap dan saya hanya bisa katakan mereka mengadopsi standar ganda.”

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok lainnya, Zhao Lijian, mengatakan kepada reporter di Beijing bahwa “rasisme terhadap minoritas etnis di Amerika Serikat adalah penyakit kronis di masyarakat Amerika”. Lebih lanjut, ia menilai apa yang terjadi sekarang “sekali lagi mencerminkan parahnya masalah rasisme dan kekerasan oleh polisi” di negara itu.

Baca Juga: Protes George Floyd: Lawan Demonstran, Trump Ancam Kerahkan Militer

Rekomendasi Artikel

Berita Terkini Lainnya