Makkah, IDN Times – Fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) senantiasa menjadi titik kritis bagi kondisi fisik jemaah haji Indonesia. Kelelahan ekstrem kerap memicu kambuhnya penyakit bawaan. Kendati demikian, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI membawa kabar baik: tren angka kesakitan dan angka kematian jemaah haji pada musim 1447 H/2026 M ini mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Berdasarkan data terakhir yang dirilis, wafatnya jemaah berjumlah 134 jiwa. “Sampai tanggal yang sama, tahun lalu jumlah jemaah yang meninggal sudah mencapai 267 orang, sedangkan tahun ini berada di angka sekitar 130-an," ujar Dahnil, Sabtu (30/5/2026).
Sementara, data dasbor operasional Kemenhaj yang diakses pada Sabtu, 6 Juni 2026 pukul 09.00 Waktu Arab Saudi (WAS), menunjukkan penanganan medis di lapangan. Tercatat sebanyak 1.074 jemaah haji yang sebelumnya sakit telah dinyatakan sembuh dan diizinkan pulang, sementara jemaah yang masih dalam perawatan aktif berada di angka 235 orang.
Terkait sebaran wilayah perawatan, mayoritas jemaah atau sekitar 66,46 persen dirawat di wilayah Makkah, disusul Madinah (17,04 persen), Mina (7,03 persen), dan Jeddah (3,90 persen). Dari segi usia, pasien lanjut usia (lansia) masih mendominasi fasilitas perawatan.
