Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
AS Desak Israel Selidiki Serangan Pemukim ke Jurnalis Washington Post
pemukim Israel di Tepi Barat, Palestina (מסתכלים לכיבוש בעיניים, CC BY 4.0 , via Wikimedia Commons)
  • AS mendesak Israel menyelidiki dan menghukum pelaku serangan pemukim terhadap fotografer Washington Post, Heidi Levine, saat meliput panen zaitun warga Palestina di dekat Abu Falah.
  • Levine dikeroyok, dipukul, ditendang, dan dirampas barang-barangnya oleh pemukim bertopeng; ia mengalami patah tulang rusuk, empat tulang belakang, luka tusuk, serta cedera jari.
  • Polisi dan militer Israel membuka penyelidikan, sementara Netanyahu meragukan kronologi; lembaga pers menuntut diakhirinya impunitas di tengah peningkatan serangan pemukim selama panen zaitun.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mendesak otoritas Israel segera menyelidiki serangan kelompok pemukim terhadap jurnalis foto Washington Post, Heidi Levine, di Tepi Barat pada Jumat (16/10/2026). Kedutaan Besar AS di Yerusalem bersama Kementerian Luar Negeri (Kemlu) AS mengecam kekerasan tersebut dan menuntut penangkapan dan hukuman bagi para pelaku.

Insiden ini terjadi saat Levine meliput warga Palestina yang sedang memanen buah zaitun di dekat Desa Abu Falah, timur laut Ramallah. Pihak Kemlu AS telah menghubungi Washington Post untuk menawarkan bantuan konsuler bagi warga negaranya yang terluka dalam peristiwa itu.

1. Kronologi penyerangan dan luka yang dialami Levine

vandalisme sebuah mobil di Tepi Barat oleh pemukim Israel (איאד חדאד, בצלם, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Penyerangan bermula ketika puluhan pemukim Israel bertopeng berlari menuruni bukit sambil membawa tongkat dan batu untuk menyerang petani Palestina di kebun zaitun. Kelompok pemukim tersebut membakar pohon zaitun serta tiga mobil warga, termasuk satu kendaraan milik tim pertahanan sipil Palestina.

Levine yang saat itu mengenakan rompi pers dan helm pelindung turut menjadi sasaran pengeroyokan saat berusaha mundur bersama warga. Sekitar lima hingga enam pemukim mengepung, mendorongnya ke tanah, dan terus memukuli serta menendangnya menggunakan tongkat selama kurang lebih 10 menit.

Para pelaku juga merampas kamera, ponsel, dompet, serta paspor milik jurnalis foto senior tersebut sebelum ia akhirnya diselamatkan oleh rekan jurnalis dan pemuda Palestina. Akibat serangan ini, Levine mengalami patah tulang rusuk, patah empat tulang belakang, luka tusuk, serta cedera parah pada jari tangan kiri yang membuatnya harus menjalani operasi di rumah sakit pada Sabtu.

"Mereka terus menendang saya berkali-kali, mungkin sekitar 50 kali. Beruntung saya memakai rompi antipeluru dan helm, jika tidak saya mungkin sudah tidak ada di sini," kata Levine dari ranjang Rumah Sakit Pemerintah Ramallah, dilansir ABC News.

2. Kecaman keras dari pejabat AS, media, dan lembaga pers

ilustrasi bendera Amerika Serikat. (unsplash.com/Brandon Mowinkel)

Serangan ini langsung memicu kemarahan dari manajemen Washington Post serta sejumlah anggota parlemen AS. Senator Partai Demokrat asal Illinois, Tammy Duckworth, menuntut otoritas Israel mengadili para pelaku dan berhenti membiarkan upaya aneksasi di Tepi Barat demi keselamatan warga di kawasan tersebut.

Anggota DPR AS dari Partai Demokrat, Ro Khanna, bahkan mendesak pemerintahannya segera menghentikan bantuan dana untuk aktivitas pemukim serta menyetop penjualan senjata ke Israel. Sementara itu, Pemimpin Redaksi Washington Post, Matt Murray, menegaskan bahwa identitas Levine sebagai pekerja media terlihat sangat jelas saat puluhan pelaku menyerangnya.

"Meski lega Heidi telah mendapat perawatan medis dan aman, kami sangat marah atas serangan tak berdasar terhadap jurnalis yang sedang menjalankan tugasnya ini dan mendesak penyelidikan menyeluruh serta tindak lanjut dari pihak berwenang," ujar Murray, dilansir The New Arab.

Kecaman serupa datang dari Asosiasi Pers Asing (FPA), Reporters Without Borders (RSF), dan Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) yang menilai otoritas Israel kerap mengabaikan aksi kekerasan pemukim ekstremis. Mereka menuntut militer Israel berhenti mencari alasan dan segera mengakhiri impunitas hukum bagi para pelaku kekerasan terhadap warga sipil maupun jurnalis di Tepi Barat.

3. Respons pemerintah dan aparat keamanan Israel

ilustrasi bendera Israel. (unsplash.com/Taylor Brandon)

Menanggapi kecaman internasional, Kepolisian Israel dan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan telah membuka penyelidikan untuk memeriksa seluruh detail insiden di Abu Falah. Pihak kepolisian menerjunkan tim forensik bersama personel militer ke lokasi kejadian guna mengumpulkan bukti serta keterangan saksi.

Saat bentrokan berlangsung, pasukan IDF dan Polisi Perbatasan Israel sempat mendatangi lokasi untuk membubarkan massa menggunakan gas air mata serta tembakan peringatan. Meski rekaman video pengeroyokan Levine telah beredar luas, Kantor Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu justru masih meragukan kronologi kejadian tersebut.

"Kami tidak akan membiarkan insiden yang masih diperdebatkan ini dimanfaatkan untuk menyudutkan ratusan ribu warga Yahudi yang taat hukum di Yudea dan Samaria," demikian pernyataan resmi Kantor PM Israel, dilansir Jerusalem Post.

Sikap Netanyahu ini berbanding terbalik dengan rival politiknya dari Partai Yashar, Gadi Eisenkot, yang mengecam serangan tersebut dan menyebut ulah perusuh telah mencoreng nama baik seluruh bangsa Israel. Di sisi lain, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat serangan pemukim Israel selama musim panen zaitun tahun ini meningkat tajam dibanding tahun lalu, dengan total satu warga Palestina tewas dan lebih dari 120 lainnya terluka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article