Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
AS Peringatkan Negara Teluk Soal Rencana Serangan Baru ke Iran
USS Abraham Lincoln melakukan blokade di Laut Arab (NAVCENT Public Affairs, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • AS memperingatkan negara-negara Teluk soal kemungkinan operasi militer intens terhadap Iran setelah pemilu sela 3 November, sementara Trump belum mengambil keputusan akhir dan Israel mendorong serangan lanjutan.
  • Militer AS memperkuat kesiapan kawasan dengan memindahkan sistem Patriot, mengurangi personel di pangkalan rentan, menyiapkan amunisi serta pesawat tempur, dan mengerahkan USS Theodore Roosevelt.
  • Negara Teluk mengkhawatirkan balasan Iran terhadap pangkalan, bandara, energi, dan ekonomi regional; upaya mediasi Qatar, Arab Saudi, Turki, serta Pakistan belum menghasilkan kesepakatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat (AS) memperingatkan sejumlah negara Arab di kawasan Teluk untuk bersiap menghadapi operasi militer singkat yang intens terhadap Iran usai pemilihan umum (pemilu) sela pada 3 November. Pesan peringatan yang disampaikan melalui jalur diplomatik dan militer ini terungkap dalam laporan The Wall Street Journal pada Selasa (27/10/2026). Peringatan tersebut menjadi indikasi kuat bahwa AS dan Israel tengah menyiapkan gelombang serangan baru guna melemahkan Teheran sekaligus memaksanya kembali ke meja perundingan.

Presiden AS, Donald Trump, belum mengambil keputusan akhir terkait pelaksanaan operasi militer tersebut. Namun, ia cenderung mendukung serangan berskala besar setelah pemilu yang berpotensi menyasar infrastruktur penting, fasilitas nuklir, hingga gudang rudal dan drone milik Iran. Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, juga terus mendorong peluncuran serangan lanjutan dan telah mengidentifikasi sejumlah target di wilayah Iran.

1. Militer AS kerahkan sistem pertahanan udara dan kapal induk tambahan

USS Theodore Roosevelt (United States NavyU.S. Navy photo by Mass Communication Specialist Seaman Kaylianna Genier, Public domain, via Wikimedia Commons)

Militer AS mulai memindahkan sistem pertahanan udara Patriot dari Texas menuju Israel untuk memperkuat pertahanan rudal di kawasan tersebut. Pasukan AS turut ditarik dari sejumlah pangkalan militer di Timur Tengah yang dinilai rentan terhadap serangan balasan Iran. Selain itu, Departemen Luar Negeri AS telah memerintahkan pengurangan staf di berbagai pos diplomatik mereka di kawasan tersebut sejak pekan lalu.

Di sisi lain, militer AS tengah mengisi ulang persediaan amunisi serta menyiapkan pesawat pengebom dan jet tempur untuk menghadapi potensi operasi tempur. Satu kelompok tempur kapal induk tambahan, yakni USS Theodore Roosevelt, beserta unit ekspedisi Marinir dijadwalkan bergabung dengan sekitar 20 kapal perang AS yang sudah beroperasi di Timur Tengah pada November mendatang.

Gedung Putih menolak berkomentar mengenai rincian rencana militer itu, tetapi menegaskan bahwa seluruh opsi tetap terbuka guna memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir. Trump sebelumnya menyatakan tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu sela berlangsung, tetapi memberi sinyal bahwa perkembangan baru terkait konflik tersebut akan segera terlihat.

"Kita mungkin akan melakukan sedikit (operasi) Epic Fury lagi, atau mereka akan setuju (berunding). Jika mereka cerdas, mereka tinggal mengatakan, mari kita mulai berunding. Namun, saya ragu mereka akan melakukannya," ujar Trump, dilansir New York Post.

2. Negara Teluk khawatirkan dampak serangan balasan Iran

ilustrasi serangan drone Shahed-136 buatan Iran (Khamenei.ir, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Persiapan militer AS dan Israel memicu kekhawatiran di kalangan pemerintah negara-negara Teluk yang berupaya mencegah pecahnya perang regional baru. Konfrontasi bersenjata dikhawatirkan kembali menyeret wilayah mereka ke dalam sasaran empuk serangan balasan Teheran. Kekhawatiran ini meningkat karena AS dan sekutu regionalnya masih berupaya mengisi ulang sistem pertahanan rudal yang terkuras selama pertempuran sebelumnya.

Iran masih memiliki kapasitas rudal yang besar dan dilaporkan terus membangun kembali persenjataan militer serta pertahanan udaranya. Teheran telah memperingatkan bahwa serangan lanjutan dari AS atau Israel akan dibalas dengan penghancuran target ekonomi, pangkalan militer, bandara, dan infrastruktur energi di seluruh kawasan Teluk Persia.

"Dampak menghancurkan pada pasar internasional akibat petualangan militer yang dihasut Israel di kawasan Teluk Persia tetap menjadi perhatian utama bagi pemasok maupun konsumen gas," kata Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dilansir The Times of Israel.

3. Negara-negara di kawasan upayakan perundingan AS-Iran

bendera Qatar (unsplash.com/monk333)

Ancaman serangan baru ini muncul di tengah upaya diplomatik negara-negara kawasan seperti Arab Saudi, Turki, dan Pakistan untuk menghidupkan kembali perundingan antara Washington dan Teheran. Mediator Qatar juga telah menyerahkan draf kesepakatan baru kepada Iran pada Minggu (25/10/2026) yang memuat tenggat waktu tujuh hari berisi langkah-langkah pembangunan kepercayaan bagi kedua belah pihak.

Namun, upaya mediasi tersebut kembali menemui jalan buntu setelah pejabat senior Iran menolak draf dari Qatar pada Rabu dan menyebutnya hanya berisi gagasan yang tidak dapat diterima. Teheran menegaskan tidak akan menunjukkan fleksibilitas terkait program nuklirnya. Perundingan sebelumnya yang melibatkan utusan khusus AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB bulan lalu juga gagal membuahkan hasil.

Perang yang diluncurkan AS dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari lalu telah memicu penutupan Selat Hormuz serta blokade laut yang membatasi perdagangan internasional Teheran. Kesepakatan damai awal yang sempat ditandatangani pada Juni pun runtuh sebulan kemudian akibat perselisihan mengenai navigasi di jalur pelayaran strategis tersebut. Pentagon melaporkan kepada Kongres bahwa total biaya perang AS melawan Iran hingga 16 Oktober telah mencapai 47,1 miliar dolar AS (sekitar Rp852,6 triliun), naik dari laporan Menteri Perang AS, Pete Hegseth, sebelumnya sebesar 37,5 miliar dolar AS (sekitar Rp678,8 triliun).

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article