Seberapa Kuat Ibu dari Segala Bom yang Ingin Dijatuhkan Trump untuk Iran?

- AS menyiapkan opsi penggunaan bom MOAB terhadap infrastruktur energi dan situs nuklir Iran jika Donald Trump melanjutkan operasi tempur, sebagai potensi eskalasi signifikan.
- MOAB berbobot 9.800 kilogram, dijatuhkan dari pesawat C-130, dan dirancang meledak di udara untuk menghancurkan sasaran permukaan hingga radius 1 kilometer.
- MOAB diragukan mampu menghancurkan fasilitas nuklir Iran yang terkubur dalam granit; bom ini bukan senjata nuklir dan tidak dirancang menembus beton atau batuan tebal.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah menyiapkan paket serangan baru berupa opsi penggunaan GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast Bomb (MOAB) atau Mother of All Bombs (ibu dari segala bom) untuk menghantam infrastruktur energi dan situs nuklir Iran jika Presiden Donald Trump memerintahkan kelanjutan operasi tempur. Sejumlah pejabat AS menilai opsi ini dapat menjadi eskalasi signifikan saat pertempuran mereda, meski diragukan mampu menghancurkan fasilitas nuklir Iran.
Berdasarkan informasi CNN International, yang mengutip sumber internal, rencana yang disiapkan sebelum atau sesudah pemilihan sela ini ditargetkan berjalan sebelum penarikan AS di wilayah tanggung jawab United States Central Command (CENTCOM).
Penggunaan bom non-nuklir terbesar ini memicu pertanyaan mengenai efektivitas serta dampak operasionalnya di lapangan. Untuk memahami lebih rinci mengenai potensi penggunaan senjata tersebut, berikut adalah rincian teknis, daya hancur, hingga keterbatasannya.
1. Mengenal spesifikasi dan sejarah singkat MOAB

potret bom Massive Ordnance Air Blast (MOAB) GBU-43/B yang dijuluki mother of all bombs (U.S. Air Force, public domain, via Wikimedia Commons) Dilansir Al Jazeera, MOAB merupakan bom ledak udara seberat 9.800 kilogram dengan muatan bahan peledak tinggi sekitar 8.500 kilogram dan panjang melebihi 9 meter. Karena ukurannya yang sangat masif, bom ini tidak dapat diangkut oleh pesawat pengebom siluman sehingga biasanya dijatuhkan dari pesawat kargo Lockheed C-130 Hercules. Menurut dokumen Angkatan Udara AS, bom yang pertama kali diproduksi pada 2002-2003 ini telah melalui 12 kali uji ledak dengan awan jamur yang terlihat hingga radius 20 mil.
Pengembangan awal senjata ini dilakukan selama Perang Irak sebagai alat operasi psikologis untuk mengguncang pasukan lawan, di mana julukannya merujuk pada frasa mother of all battles yang pernah diucapkan mantan Presiden Irak Saddam Hussein pada Perang Teluk 1991. Sepanjang sejarahnya, militer AS baru mencatatkan satu kali penggunaan operasional pada 2017 untuk menghantam kompleks gua dan terowongan Islamic State Khorasan Province di Afghanistan.
2. Daya hancur dan daya jangkau ledakan

ilustrasi ledakan (pexels.com/Edu Raw) Menurut pengamat militer Kolonel Nidal Abu Zeid, bom ini dirancang untuk meledak beberapa kaki di atas tanah tanpa memerlukan benturan sehingga menghasilkan gelombang ledakan permukaan yang sangat kuat. Mekanisme tersebut mampu menghancurkan segala benda di atas permukaan tanah dalam radius hingga 1 kilometer.
Pengamat militer berbasis di Brussel, Elijah Magnier, menjelaskan bahwa muatan besar bom tersebut sangat merusak bagi personel, peralatan, dan struktur rentan di permukaan. Namun, beberapa sumber yang familiar dengan perencanaan militer menilai senjata ini lebih berfungsi sebagai alat operasi informasi masif untuk pembersihan area luas ketimbang penembus lapisan dalam, serta berisiko tinggi menimbulkan korban sipil jika digunakan di dekat kawasan padat penduduk.
3. Alasan MOAB diragukan mampu tembus situs nuklir Iran

ilustrasi area nuklir (pexels.com/Dan Meyers) Situs nuklir Iran, seperti kompleks Fordow dan fasilitas di Pickaxe Mountain, memiliki benteng pertahanan kuat yang terkubur jauh di bawah lapisan granit. Senjata ini dianggap tidak efektif karena memang tidak dirancang untuk menembus beton tebal atau batuan gunung seperti jenis GBU-57 Massive Ordnance Penetrator (MOP). Berbeda dengan MOAB, MOP memiliki berat 13.600 kilogram dengan hulu ledak 2.700 kilogram berbahan baja berkekuatan tinggi yang sanggup menembus hingga kedalaman 61 meter di bawah tanah sebelum meledak.
Atas dasar keterbatasan teknis tersebut, dampak ledakan senjata ini diperkirakan hanya berada di tingkat permukaan tanpa menjamin kehancuran instalasi yang terkubur dalam. Magnier menambahkan, proposal penggunaan senjata ini lebih kuat sebagai teater politik ketimbang strategi militer jika hasil yang dicapai hanya berpusat pada tontonan ledakan tanpa memajukan penyelesaian politik.
"Ini sama sekali bukan nuklir, ini hanya bom yang sangat besar. Ini seperti bom nuklir kecil. Tapi 'Mother of All Bombs' adalah satu bom besar – tapi ini bukan nuklir. Saya tidak akan menggunakan nuklir, kita tidak perlu,” kata Trump.
























