ilustrasi bendera Rusia (pexels.com/Сергей Велов)
Menteri Luar Negeri Lithuania Kestutis Budrys mengonfirmasi garis ancaman tersebut di sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Reuters melaporkan Budrys menyebut data intelijen sekutu mengonfirmasi indikasi kuat mengenai perluasan tekanan itu, sementara Ratcliffe juga dilaporkan bertemu secara terpisah dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Bandara Shannon, Irlandia.
“Ada beberapa pertimbangan di pihak Rusia untuk melakukan eskalasi secara horizontal, bisa dibilang, atau secara geografis,” kata Budrys kepada Reuters.
Laporan mengenai potensi serangan tersebut mendapat bantahan dari negara yang disebut sebagai target karena dinilai dapat memicu kepanikan berlebihan. Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto menyampaikan penolakan itu untuk merespons spekulasi publik yang berkembang di media.
“Tidak ada gunanya bagi siapa pun dan sama sekali tidak berdasar alarm yang dikibarkan pagi ini oleh sebuah surat kabar Spanyol yang menyarankan kemungkinan serangan terhadap Italia, Spanyol dan Prancis oleh kapal dan drone Rusia. Kita sudah hidup di masa-masa yang sulit dan tegang, dan tidak ada kebaikan bagi siapa pun untuk menambah bahan bakar ke dalam api,” kata Crosetto melalui unggahannya di media sosial X, dikutip Euronews.
Dinas Intelijen Pertahanan Denmark memperkirakan Moskow akan meningkatkan serangan hibrida dalam beberapa bulan mendatang dengan dampak yang lebih luas. Sementara itu, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa (UE) Kaja Kallas menilai Rusia berupaya menakut-nakuti Eropa agar menghentikan dukungan kepada Ukraina dan mendesak pengetatan sanksi terhadap armada bayangan serta industri militer Moskow.
Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski menyebut serangan hibrida Rusia telah berubah menjadi aksi nyata berupa pembakaran, ledakan, dan pelanggaran wilayah udara. Di sisi lain, Wakil Perdana Menteri Polandia Krzysztof Gawkowski menduga kebakaran stasiun Starlink merupakan bagian dari doktrin baru Moskow meski pelakunya belum ditetapkan secara resmi.
Menteri Luar Negeri Estonia Margus Tsahkna menyatakan Rusia belum mampu menyiapkan agresi militer aktif terhadap NATO karena pasukannya masih tertahan di Ukraina. Adapun pihak Kremlin secara konsisten membantah tuduhan keterlibatan dalam berbagai aksi sabotase maupun rencana konfrontasi di negara-negara anggota NATO.