Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Aset Iran Rp1.780 Kuadriliun Membeku, China Simpan Porsi Terbesar
Bendera Iran (pexels.com/Engin Akyurt)
  • Iran berupaya membuka kembali akses ke aset luar negeri senilai sekitar 100 miliar dolar AS yang dibekukan akibat sanksi, dengan target awal pelepasan 24 miliar dolar AS untuk pemulihan ekonomi.
  • China tercatat menyimpan porsi terbesar dana Iran, diperkirakan mencapai 20–50 miliar dolar AS hasil penjualan energi, namun akses Tehran dibatasi oleh sistem keuangan global berbasis dolar AS.
  • Aset Iran juga tersebar di Irak, India, Korea Selatan, Qatar, dan beberapa negara lain di Asia serta Eropa, sebagian besar tertahan karena pembatasan transaksi dan sanksi ekonomi Amerika Serikat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN TimesIran terus mengupayakan akses kembali terhadap aset luar negeri mereka yang dibekukan akibat sanksi internasional. Persoalan tersebut menjadi bagian dari perundingan yang sedang dijalankan Tehran dengan pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait konflik yang lebih luas dan program nuklir Iran.

Dilansir The Wall Street Journal, dalam negosiasi tersebut Iran menginginkan pelepasan bertahap dana luar negeri dengan target minimal 24 miliar dolar AS (setara Rp427,2 triliun). Tehran juga mengklaim total aset yang diblokir di berbagai negara mencapai 100 miliar dolar AS (setara Rp1.780 kuadriliun), meski sejumlah pihak memperkirakan nilainya lebih rendah dari angka tersebut.

Pihak Tehran disebut menggambarkan tujuan tersebut dalam pernyataan bahwa para pejabat Iran tengah mengupayakan pelepasan bertahap setidaknya 24 miliar dolar AS dana luar negeri sebagai bagian dari langkah yang lebih luas untuk memulihkan ekonomi yang terdampak sanksi, inflasi, dan isolasi selama bertahun-tahun.

1. AS menyiapkan skema timbal balik dengan Iran

ilustrasi bendera Amerika Serikat (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Negosiasi berlangsung di tengah munculnya indikasi kerangka kesepakatan sementara antara AS dan Iran. Jika kesepakatan akhir tercapai, Iran berpeluang membuka kembali Selat Hormuz dan melanjutkan pembicaraan mengenai aktivitas nuklir, sedangkan AS mempertimbangkan keringanan sanksi serta izin penjualan minyak tanpa batas.

Penanganan aset yang dibekukan tersebut menjadi salah satu unsur penting dalam proses diplomasi kedua negara pada masa mendatang.

2. China menampung dana terbesar milik Iran

Bendera China (pexels.com/aboodi vesakaran)

Peta aset yang dibekukan menunjukkan China memegang bagian terbesar. Dilansir Gulf News, dana Iran di negara tersebut diperkirakan mencapai 20 miliar dolar AS hingga 50 miliar dolar AS (setara Rp356 triliun sampai Rp890 triliun), yang berasal dari hasil penjualan energi karena China merupakan pembeli utama minyak Iran.

Pembatasan akses dilakukan melalui sistem keuangan global. Karena mayoritas transaksi minyak internasional menggunakan dolar AS, Pemerintah AS dapat menekan perbankan dunia untuk membatasi akses Tehran terhadap dana tersebut. Sebagian dana memang sudah dipakai Iran untuk membeli barang dan mesin dari China, tetapi sisanya masih tak bisa diakses.

Dana yang ditahan berasal dari penjualan komoditas utama Iran seperti minyak, gas, dan listrik. Sanksi ekonomi AS membuat bank serta pemerintah asing tak dapat mengirimkan dana langsung ke Tehran. Akibatnya, sejumlah rekening hanya dapat digunakan untuk pembelian kebutuhan kemanusiaan seperti makanan dan obat-obatan, sementara sebagian lainnya disimpan dalam mata uang lokal.

3. Sejumlah negara menyimpan aset Iran

ilustrasi beberapa bendera negara di dunia (pexels.com/Paresh Patil)

Selain di China, dana Iran juga tersebar di beberapa negara Asia dan Eropa. Irak diperkirakan menyimpan sekitar 10 miliar dolar AS hingga 15 miliar dolar AS (setara Rp178 triliun sampai Rp267 triliun) dari pembayaran listrik dan gas alam Iran yang terkendala pembatasan AS. Adapun India dan Korea Selatan masing-masing memegang sekitar 7 miliar dolar AS (setara Rp124,6 triliun) yang berasal dari penjualan minyak sebelum 2018 dan tertahan di sistem perbankan lokal.

Dana yang berada di Qatar menjadi salah satu isu paling sensitif. Sebesar 6 miliar dolar AS (setara Rp106,8 triliun) yang sebelumnya tersimpan di Korea Selatan dipindahkan ke Qatar pada 2023 dalam kesepakatan pertukaran tahanan antara AS dan Iran untuk kepentingan kemanusiaan. Akses terhadap dana tersebut kembali dibatasi setelah serangan Hamas terhadap Israel pada Oktober 2023.

Selain itu, dana dengan nilai lebih kecil yang totalnya diperkirakan mencapai 8 miliar dolar AS (setara Rp142,4 triliun) diyakini tersebar di Jepang, Luxembourg, Oman, dan bahkan di AS sendiri.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article