Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

WANSUS BMKG: Es Abadi Puncak Jaya Papua Hilang 2026 Akibat Pemanasan Global

WANSUS BMKG: Es Abadi Puncak Jaya Papua Hilang 2026 Akibat Pemanasan Global
potret es di puncak jaya pada tahun 1972 yang sudah sangat menyusut (commons.wikimedia.org/U.S. Geological Survey, U.S.Department of the Interior)
  • BMKG memproyeksikan es abadi Puncak Jaya, Papua, habis pada akhir 2026 atau awal 2027, berdasarkan penyusutan area rata-rata 0,07 km² per tahun.
  • Pemanasan global menaikkan suhu dan batas pembekuan, membuat hujan menggantikan salju serta mempercepat pelelehan; El Niño turut menjadi akselerator pencairan.
  • Luas es tinggal 0,09 km² pada September 2025. Kehilangannya mengancam identitas adat, pasokan air, pertanian, ekosistem pegunungan, dan pariwisata.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi es abadi di Puncak Jaya, Pegunungan Jayawijaya, Papua habis pada akhir 2026 atau awal 2027. Pengamat Meteorologi dan Geofisika Madya BMKG, Donaldi Sukma Permana mengatakan, penyebab utama punahnya es abadi Jayawijaya karena pemanasan global.

"Peningkatan suhu ini menyebabkan kenaikan batas membeku (freezing level altitude / 0°C isotherm) sehingga area es lebih sering terpapar suhu di atas titik beku. Akibatnya, alih-alih menerima akumulasi salju baru, wilayah gletser lebih sering diguyur oleh air hujan yang mempercepat proses pelelehan es di permukaan (ablation)," ujar Donaldi kepada IDN Times, dikutip Selasa (11/8/2026).

Donaldi mengatakan, BMKG memprediksi es abadi Jayawijaya hilang di akhir tahun 2026 atau awal 2027. Faktor lain yang memicu mempercepat hilangnya es abadi juga karena ada El Nino.

"Kepunahan total es abadi di Puncak Jaya diproyeksikan terjadi dalam kurun waktu yang sangat dekat. Proyeksi Konsensus (Tahun 2026/2027): Analisis spasial berbasis data satelit Landsat dan Sentinel-2 yang menghitung laju penyusutan area rata-rata sebesar -0,07 km² per tahun menunjukkan bahwa es abadi diperkirakan akan hilang sepenuhnya pada akhir tahun 2026 atau awal tahun 2027. Hal ini mungkin dipercepat dengan adanya kondisi El Niño pada pertengahan tahun 2026," ucap dia.

Lalu, sejak kapan es abadi Jayawijaya mulai mencair? Berikut wawancara khusus IDN Times dengan Pengamat Meteorologi dan Geofisika Madya BMKG, Donaldi Sukma Permana.

  1. Apa faktor utama yang menyebabkan es abadi di Jayawijaya terus mengalami pencairan dalam beberapa tahun terakhir?

    gunung dengan biaya pendakian paling mahal di indonesia
    Puncak Jaya (commons.wikimedia.org/Yobel Irnawan)

    Faktor utama yang mendorong pencairan cepat es abadi di Puncak Jaya adalah pemanasan global (atmospheric warming) yang memicu peningkatan suhu udara secara signifikan. Peningkatan suhu ini menyebabkan kenaikan batas membeku (freezing level altitude / 0°C isotherm), sehingga area es lebih sering terpapar suhu di atas titik beku. Akibatnya, alih-alih menerima akumulasi salju baru, wilayah gletser lebih sering diguyur oleh air hujan yang mempercepat proses pelelehan es di permukaan (ablation).

    Sejauh mana kenaikan suhu udara di Papua berpengaruh terhadap pencairan es abadi tersebut?

    Pengaruh kenaikan suhu udara sangat masif karena elevasi es abadi Papua tergolong rendah untuk ukuran gletser tropis (hanya 4.884 mdpl) dibandingkan dengan pegunungan es serupa di Andes atau Afrika, menjadikannya jauh lebih sensitif.

    Data historis menunjukkan, kenaikan rata-rata suhu atmosfer bulanan sebesar 0,24°C dalam periode 1972–1987 saja sudah terbukti kuat memicu hilangnya es secara masif. Hubungan linier yang kuat ditemukan antara penyusutan es dengan peningkatan anomali suhu udara pada tingkat tekanan 550-mb (millibar) di atas Papua.

  2. Apakah BMKG memiliki data terbaru mengenai luas atau ketebalan tutupan es di Pegunungan Jayawijaya? Bagaimana perubahannya dibandingkan beberapa tahun sebelumnya?

    potret indah dari Puncak Carstenzs di Pegunungan Jayawijaya
    potret indah dari Puncak Carstenzs di Pegunungan Jayawijaya (commons.wikimedia.org/Enda Kaban)

    Ya, BMKG secara berkala mencatat data penurunan drastis, baik dari ketebalan maupun luas tutupan es.

    tutupan es:

    • Ketebalan Es: Pada pengeboran awal tahun 2010, ketebalan es berada di angka 31,49 meter. Ketebalan ini terus menyusut menjadi 26,23 meter (November 2015), 8,03 meter (Februari 2021), 4,085 meter (Desember 2023), hingga akhirnya mencapai 0 meter pada November 2024, di mana tiang (stake) pemantau di East Northwall Firn (ENF) dilaporkan telah tersingkap penuh dan es di lokasi tersebut telah mencair seluruhnya.
    • Luas Tutupan Es: Berdasarkan citra satelit Landsat dan Sentinel-2, luas es menyusut dari kisaran ~19,3 km² pada tahun 1850, menjadi 4,23 km² (Februari 1991), 0,23 km² (April 2022), dan hanya tersisa 0,09 km² (sekitar 9 hektar) pada September 2025. Angka ini mencerminkan es abadi hanya tersisa sekitar 2 persen dari luasannya di tahun 1988.

    Apakah fenomena El Niño, perubahan pola cuaca, atau faktor iklim lainnya turut mempercepat pencairan es di Jayawijaya?

    Ya, fenomena El Niño kuat bertindak sebagai akselerator utama pencairan es. Selama El Niño, wilayah Papua mengalami kekeringan ekstrem dan penurunan tutupan awan yang menaikkan intensitas radiasi matahari langsung serta meningkatkan ketinggian batas pembekuan es (freezing level).

    Rekor laju pencairan tertinggi tercatat pada periode El Niño kuat tahun 2015–2016, di mana ketebalan es menipis drastis sebesar -5,69 meter per tahun.

    Peningkatan laju pencairan serupa juga terjadi akibat El Niño 2023–2024 yang mengikis sisa es hingga habis di titik pantau utama pada akhir 2024. Sebaliknya, fenomena Triple Dip La Niña (2020–2023) sempat memperlambat laju penipisan menjadi -1,33 meter per tahun karena suhu yang relatif lebih dingin dan akumulasi salju yang lebih tinggi di dataran tinggi.

    Bagaimana kondisi curah hujan dan suhu di sekitar Pegunungan Jayawijaya dalam beberapa tahun terakhir? Apakah terdapat tren perubahan yang signifikan?

    Secara regional, wilayah tangkapan curah hujan tinggi di dataran tinggi (highland) mencatat angka curah hujan tahunan yang sangat masif.

    Tren parameter iklim menunjukkan meskipun kuantitas curah hujan secara umum mengalami peningkatan, proporsi jatuhnya presipitasi padat (salju) berkurang drastis dan beralih menjadi air hujan cair akibat pemanasan suhu permukaan di wilayah pegunungan.

    Suhu rata-rata udara secara konsisten menunjukkan tren naik, sejalan dengan status tahun 2023–2025 yang memecahkan rekor sebagai periode tahun-tahun terpanas sepanjang sejarah pengamatan.

  3. Apakah pencairan es abadi Jayawijaya saat ini dapat dikategorikan sebagai dampak langsung perubahan iklim?

    Puncak Jaya yang sudah kehilangan sebagian besar saljunya
    Puncak Jaya yang sudah kehilangan sebagian besar saljunya (commons.wikimedia.org/Alfindra Primaldhi)

    Ya, pencairan dan prediksi kepunahan es abadi di Puncak Jaya dikategorikan sebagai indikator riil sekaligus dampak langsung dari perubahan iklim global.

    Penyusutan masif yang terjadi secara konsisten dari dekade ke dekade dipicu oleh akumulasi Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer global yang memerangkap panas, mengganggu siklus hidrologi lokal di puncak tropis, dan memproyeksikan hilangnya fragmen es abadi Indonesia ini secara menyeluruh dalam waktu dekat.

    Kapan prediksi es abadi Jayawijaya benar-benar habis?

    Kepunahan total es abadi di Puncak Jaya diproyeksikan terjadi dalam kurun waktu yang sangat dekat.

    Proyeksi konsensus (2026/2027): Analisis spasial berbasis data satelit Landsat dan Sentinel-2 yang menghitung laju penyusutan area rata-rata sebesar -0,07 km² per tahun menunjukkan es abadi diperkirakan akan hilang sepenuhnya pada akhir tahun 2026 atau awal tahun 2027.

    Hal ini mungkin dipercepat dengan adanya kondisi El Niño pada pertengahan tahun 2026.

    Apa dampak negatif dan positif dari habisnya es abadi Jayawijaya?

    Dampak negatif:

    • Kehilangan identitas budaya dan spiritual adat: Bagi komunitas adat di sekitar pegunungan, khususnya suku Amungme dan Moni di Desa Tsinga, Puncak Jaya yang mereka sebut Nemangkawi Ninggok atau Puncak Panah Putih merupakan situs sakral. Gunung dianggap sebagai wujud "Ayah" dan tanah sebagai "Ibu". Hilangnya es abadi dipandang sebagai hilangnya berkah spiritual sekaligus rusaknya salah satu pilar identitas budaya utama mereka.
    • Terganggunya siklus hidrologi lokal: Melelehnya gletser akan merusak keseimbangan pasokan air tawar alami yang mengalir dari puncak menuju lembah. Hal ini memicu penurunan suplai air pada sungai-sungai dan danau di lembah pegunungan.
    • Ancaman kekeringan lahan pertanian: Dalam jangka panjang, terganggunya siklus hidrologi dan hilangnya cadangan air es berpotensi memicu bencana kekeringan pada lahan-lahan pertanian milik masyarakat yang berada di sekitar kaki gletser.
    • Kerusakan ekosistem dan pergeseran habitat: Kenaikan suhu yang cepat dan keterbatasan air akan memaksa terjadinya pergeseran habitat vegetasi dan satwa. Beberapa spesies burung dan hewan pegunungan tinggi yang kelangsungan hidupnya bergantung pada ketersediaan air sungai dan danau lembah akan terancam kehilangan habitat aslinya.
    • Penurunan pendapatan daerah dan pariwisata: Es abadi di wilayah tropis merupakan fenomena alam unik yang memiliki daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Lenyapnya es ini otomatis menurunkan minat pariwisata minat khusus, seperti pendakian es tropis, yang berdampak langsung pada berkurangnya pemasukan daerah.
    • Kontribusi terhadap kenaikan permukaan air laut: Secara global dan akumulatif, mencairnya seluruh gletser tropis di dunia, termasuk di Papua, akan melepaskan volume air dalam jumlah besar yang bermuara ke samudra dan berkontribusi terhadap kenaikan tinggi muka air laut secara global (sea level rise).

    Dampak positif:

    Di dalam seluruh dokumen ilmiah dan laporan ekspedisi resmi, tidak ada dampak positif yang bersifat ekologis maupun lingkungan dari hilangnya es abadi ini. Fenomena ini murni dikategorikan sebagai krisis lingkungan riil akibat pemanasan global.

    Namun, dari sudut pandang ilmiah dan operasional teknis, terdapat satu aspek pemanfaatan:

    Terbukanya akses batuan purba untuk studi geologi: Secara teknis, tersingkapnya batuan dasar (bedrock) yang selama ribuan tahun tertutup es memberikan kesempatan bagi para ahli geologi untuk meneliti struktur batuan, mencari fosil purba, atau mempelajari pembentukan geologis Pegunungan Sudirman secara langsung tanpa terhalang lapisan es tebal.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More