Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Benarkah Masyarakat Indonesia Tolak RI Masuk BoP? Ini Data Surveinya!
Sekelompok masyarakat menggelar aksi terkait Board of Peace dan Agreement Reciprocal Trade Amerika Serikat (AS) di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2026). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
  • Survei gabungan LSI, Indikator Politik, dan SMRC menunjukkan 50,9 persen masyarakat menolak Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BoP) yang digagas Presiden AS Donald Trump.
  • Sebanyak 44,9 persen responden juga menolak rencana pengiriman 8.000 prajurit Indonesia ke Gaza dalam misi Pasukan Stabilisasi Internasional, sementara dukungan hanya sekitar sepertiga dari total responden.
  • Mantan Menlu Marty Natalegawa menyarankan opsi jeda atau keluar dari BoP, sedangkan Presiden Prabowo menegaskan keikutsertaan Indonesia bertujuan mendukung kemerdekaan Palestina melalui solusi dua negara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
akhir Februari 2026

Konflik di Timur Tengah meningkat, memicu sorotan publik terhadap keterlibatan Amerika Serikat dan Israel serta perhatian pada Board of Peace (BoP).

12–31 Maret 2026

LSI, Indikator Politik Indonesia, dan SMRC melakukan survei nasional terhadap 1.066 responden mengenai sikap masyarakat terhadap keanggotaan Indonesia di BoP dan rencana pengiriman pasukan ke Gaza.

2 April 2026

Burhanuddin Muhtadi memaparkan hasil survei yang menunjukkan mayoritas responden menolak keanggotaan Indonesia dalam BoP serta menunjukkan penolakan signifikan terhadap rencana pengiriman pasukan ke Gaza.

kini

Presiden Prabowo Subianto menegaskan tujuan keikutsertaan Indonesia dalam BoP untuk mendukung solusi dua negara bagi Palestina dan menyatakan kesiapan keluar dari forum tersebut jika tidak sejalan dengan prinsip nasional.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Survei nasional menunjukkan mayoritas masyarakat Indonesia menolak rencana pemerintah bergabung dalam Board of Peace (BoP) dan juga menolak pengiriman pasukan perdamaian ke Gaza.
  • Who?
    Survei dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia, Indikator Politik Indonesia, dan Saiful Mujani Research and Consulting, dengan penjelasan dari Burhanuddin Muhtadi serta tanggapan Presiden Prabowo Subianto dan Marty Natalegawa.
  • Where?
    Kegiatan survei dilakukan di berbagai wilayah Indonesia, sementara pernyataan disampaikan di Jakarta melalui kanal YouTube SMTC TV dan wawancara media nasional.
  • When?
    Survei dilaksanakan pada 12–31 Maret 2026, dengan hasil dipublikasikan pada awal April 2026 bersamaan meningkatnya konflik di Timur Tengah.
  • Why?
    Banyak responden menolak karena khawatir keterlibatan Indonesia dalam BoP dianggap tidak sejalan dengan sikap politik luar negeri dan sensitivitas terhadap konflik yang melibatkan Amerika Serikat serta Israel.
  • How?
    Dari 1.066 responden berusia 17 tahun ke atas, sebanyak 50,9 persen menyatakan tidak setuju terhadap BoP dan 44,9 persen menolak pengiriman pasukan ke Gaza; hasil disampaikan melalui presentasi publik lembaga survei.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Banyak orang di Indonesia bilang tidak setuju kalau negara ikut gabung ke kelompok BoP buatan Presiden Amerika Donald Trump. Survei dari beberapa lembaga tanya orang-orang dewasa, dan lebih banyak yang menolak daripada yang setuju. Ada juga rencana kirim tentara ke Gaza, tapi banyak yang tidak setuju juga. Sekarang rencana itu masih ditunda.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Hasil survei tentang sikap publik terhadap keanggotaan Indonesia di Board of Peace menunjukkan meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap arah kebijakan luar negeri negara. Diskusi terbuka antara pemerintah, peneliti, dan tokoh diplomasi seperti Marty Natalegawa mencerminkan proses pengambilan keputusan yang hati-hati, sementara Presiden Prabowo menegaskan komitmen pada prinsip nasional dan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Mayoritas masyarakat Indonesia menyatakan ketidaksetujuannya terhadap langkah pemerintah bergabung dalam Board of Peace (BoP). Temuan ini terungkap dalam survei gabungan Lembaga Survei Indonesia (LSI), Indikator Politik Indonesia, dan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC).

Survei yang dilakukan pada 12–31 Maret 2026 itu melibatkan 1.066 responden berusia 17 tahun ke atas atau sudah menikah. Hasilnya menunjukkan, opini publik cenderung lebih banyak menolak dibanding mendukung keanggotaan Indonesia dalam forum perdamaian buatan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tersebut.

Peneliti utama Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, menyampaikan bahwa mayoritas responden berada pada posisi tidak setuju. “Mayoritas itu menyatakan tidak setuju atau sangat tidak setuju Indonesia menjadi bagian dari BoP,” kata Burhanuddin dalam paparannya, dikutip dari YouTube SMTC TV, Kamis (2/4/2026).

Secara rinci, sebanyak 41,5 persen responden menyatakan tidak setuju dan 9,4 persen menyatakan sangat tidak setuju. Jika digabungkan, angka penolakan mencapai 50,9 persen.

Di sisi lain, dukungan terhadap kebijakan tersebut relatif lebih kecil, dengan 21,6 persen responden menyatakan setuju dan 4,5 persen sangat setuju.

1. Penolakan karena publik mulai perhatian pada kebijakan politik luar negeri RI

Presiden Prabowo Subianto menandatangani piagam Board of Peace (BPMI Setpres/Muchlis Jr)

Hasil survei menunjukkan perbandingan yang cukup jelas antara kelompok yang menolak dan mendukung keanggotaan Indonesia di BoP. Selain 50,9 persen yang menolak, terdapat pula 17,2 persen responden yang memilih berada di posisi tengah, yakni antara setuju dan tidak setuju.

Sementara itu, sebanyak 5,7 persen responden tidak memberikan jawaban atau tidak memiliki sikap terhadap isu tersebut. Komposisi ini memperlihatkan bahwa dukungan terhadap BoP belum menjadi arus utama di masyarakat.

Burhanuddin menjelaskan, meskipun tidak semua responden menolak secara tegas, jumlah yang tidak setuju tetap lebih besar dibandingkan yang mendukung.

Temuan ini muncul di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap kebijakan luar negeri Indonesia, terutama setelah eskalasi konflik di Timur Tengah.

Sorotan terhadap BoP juga semakin menguat seiring dengan keterlibatan Amerika Serikat dan Israel dalam konflik regional yang memicu berbagai respons dari masyarakat Indonesia.

2. Isu pengiriman pasukan perdamaian ke Gaza ikut disorot

Sekelompok masyarakat menggelar aksi terkait Board of Peace dan Agreement Reciprocal Trade Amerika Serikat (AS) di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2026). (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

Selain keanggotaan di BoP, survei ini juga mengukur opini publik terkait rencana pengiriman 8.000 prajurit Indonesia ke Gaza dalam misi Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force/ISF).

Hasilnya menunjukkan tingkat penolakan juga cukup signifikan. Sebanyak 36 persen responden menyatakan tidak setuju dan 8,9 persen sangat tidak setuju, sehingga total penolakan mencapai 44,9 persen.

Sementara itu, dukungan terhadap rencana tersebut tercatat sebesar 28,1 persen yang sangat setuju dan 5,7 persen yang setuju. Sisanya berada di posisi netral atau tidak memberikan jawaban.

Burhanuddin menegaskan, dukungan terhadap kebijakan ini masih berada di bawah angka penolakan. “Yang menyatakan setuju kebijakan pemerintah tersebut itu kurang lebih 33-34 persen, sebagian besar menyatakan tidak setuju meskipun ketidaksetujuannya tidak mencapai 50 persen plus tapi masih lebih banyak yang menyatakan tidak setuju ketimbang setuju,” ujarnya.

3. Board of Peace kontroversial

Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump dalam penandatanganan Board of Peace Charter. (Dok. The White House)

Keanggotaan Indonesia dalam BoP menjadi perhatian publik, terutama setelah meningkatnya konflik di Timur Tengah sejak akhir Februari 2026. Desakan agar Indonesia keluar dari forum tersebut juga muncul dari berbagai pihak.

Mantan Menteri Luar Negeri RI, Marty Natalegawa menilai pemerintah memiliki beberapa opsi dalam merespons situasi. Langkah pertama adalah menjaga jarak dari konflik yang terjadi. “Paling tidak, kita bisa bilang bahwa apa yang sedang bergulir di Iran ini tidak ada kaitannya dengan BoP,” ujarnya dalam wawancara dengan IDN Times beberapa waktu lalu.

Langkah berikutnya adalah menunda partisipasi hingga situasi menjadi lebih jelas. “Kedua adalah kita pause. Kita jeda kegiatan kita di BOP pending resolution dari ini,” katanya.

Sementara opsi terakhir adalah keluar dari BoP. Namun, langkah ini dinilai sebagai pilihan paling ekstrem yang harus dipertimbangkan secara matang.

“Yang ketiga itu paling ekstrem adalah keluar,” kata Marty.

Ia juga menekankan pentingnya parameter yang jelas dalam menentukan kepentingan nasional. “Teman-teman di Kemlu harus sudah ada benchmark-nya. Bagaimana kita mendefinisikan kepentingan nasional kita,” ujarnya.

Bagi Marty, keputusan terkait BoP tidak hanya soal keanggotaan, tetapi juga menyangkut arah besar diplomasi Indonesia ke depan.

Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto menegaskan, keikutsertaan Indonesia dalam BoP bertujuan untuk mendukung kemerdekaan Palestina melalui solusi dua negara.

“Jika kami berada di dalamnya (BoP), kami masih bisa memengaruhi dan bekerja menuju solusi jangka panjang, yang menurut kami adalah Palestina merdeka, solusi dua negara,” kata Prabowo.

Ia juga menyatakan Indonesia siap keluar dari BoP jika dinilai tidak lagi sejalan dengan prinsip nasional. Selain itu, rencana pengiriman pasukan ke Gaza saat ini ditangguhkan seiring meningkatnya eskalasi konflik di kawasan.

“Saya menjalankan perjuangan bangsa Indonesia dari dulu. Kita selalu membela kemerdekaan Palestina,” kata Prabowo.

Editorial Team