Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Demo Pecah di Kampus Iran, Ribuan Mahasiswa Turun ke Jalan
ilustrasi protes di Iran (unsplash.com/Nk Ni)
  • Ribuan mahasiswa di berbagai universitas Iran turun ke jalan memprotes rezim, memicu bentrokan dengan kelompok Basij pro-pemerintah dan meningkatkan ketegangan di kampus.
  • Kerusuhan terjadi bersamaan dengan ancaman serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran, sementara negosiasi nuklir antara kedua negara masih direncanakan berlangsung di Swiss.
  • Pemerintah Iran memperketat pengawasan internet untuk membatasi media sosial asing, di tengah meningkatnya jumlah korban tewas dan penangkapan massal akibat gelombang protes nasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDNTimes- Protes antipemerintah kembali meletus di berbagai universitas besar di Iran pada hari pertama pembukaan semester baru. Menurut laporan Al Jazeera, ribuan mahasiswa turun ke jalan di ibu kota Teheran dan kota Mashhad pada Minggu (22/2/2026) untuk menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap rezim.

Aksi protes ini menandai gelombang unjuk rasa pertama sejak aparat keamanan melakukan tindakan keras terhadap demonstran pada Januari lalu. Ketegangan semakin meningkat menyusul adanya bentrokan fisik antara mahasiswa dengan kelompok loyalis negara.

1. Terjadi bentrokan antarmahasiswa di area kampus

ilustrasi unjuk rasa (unsplash.com/Vlad Tchompalov)

Unjuk rasa terjadi di institusi pendidikan terkemuka seperti Universitas Teheran, Universitas Teknologi Sharif, dan Universitas Amirkabir. Demonstran mengenakan pakaian hitam sebagai bentuk duka cita bagi para korban yang tewas dalam unjuk rasa sebelumnya. Mereka meneriakkan berbagai slogan seperti tuntutan kebebasan dan kecaman terhadap rezim yang dianggap otoriter.

Aksi tersebut berujung pada bentrokan yang melibatkan mahasiswa pro-pemerintah dari organisasi Basij. Kelompok loyalis yang didukung oleh aparat keamanan ini berkumpul di kampus untuk membakar bendera Amerika Serikat (AS) dan Israel. Mereka balas meneriakkan dukungan untuk Pemimpin Agung Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Media pemerintah Iran melaporkan bahwa anggota Basij diserang oleh demonstran. Namun, berbagai rekaman video yang beredar luas di media sosial justru menunjukkan kelompok Basij yang menyerang mahasiswa. Pasukan keamanan bersenjata lengkap juga dikerahkan untuk mengamankan jalan-jalan di area luar kampus.

Wakil urusan sosial Universitas Teheran, Hossein Goldansaz, mengakui adanya aksi protes tersebut kepada kantor berita Mehr. Ia memperingatkan agar tindakan para mahasiswa ini tidak memicu bentrokan.

“Slogan-slogan radikal hanya akan membuang waktu mahasiswa, dan mahasiswa harus sangat berhati-hati agar tidak berujung pada kekerasan” ujar Hossein Goldansaz, dilansir The New York Times.

2. Bayang-bayang ancaman perang Amerika Serikat

Presiden AS, Donald Trump (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Kembalinya kerusuhan ini bertepatan dengan ancaman serangan militer dari AS. Presiden Donald Trump mengaku sedang mempertimbangkan serangan militer terbatas terhadap fasilitas di Iran. Militer AS telah mengerahkan puluhan kapal perang, jet tempur, dan pesawat pengintai ke kawasan Timur Tengah.

Utusan khusus AS, Steve Witkoff, mengungkap, Trump mempertanyakan alasan Iran yang belum menyerah di bawah tekanan tersebut. AS dan sekutu Eropanya menuduh Iran sedang bergerak menuju pengembangan senjata nuklir. Namun, pemerintah Iran secara konsisten membantah tuduhan adanya program senjata pemusnah massal.

Meskipun eskalasi militer meningkat, negosiasi antara Washington dan Teheran mengenai program nuklir dijadwalkan akan dilanjutkan di Swiss. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan peluang untuk mencapai kesepakatan diplomatik masih terbuka. Iran dilaporkan bersedia mengencerkan cadangan uranium mereka sebagai bagian dari kesepakatan.

Situasi geopolitik ini menambah beban bagi masyarakat sipil Iran yang telah menderita akibat krisis ekonomi. Banyak warga Iran yang mulai menimbun makanan kaleng dan menyusun rencana evakuasi ke daerah terpencil.

3. Pemerintah Iran tingkatkan pengawasan ruang internet

ilustrasi bendera Iran. (unsplash.com/sina drakhshani)

Di tengah gelombang protes terbaru, pemerintah Iran kembali memperketat kendali atas akses informasi dan komunikasi digital. Kepala intelijen Korps Pengawal Revolusi Islam, Majid Khademi, mengonfirmasi adanya upaya untuk memperkuat pengawasan ruang internet Iran. Inisiatif ini bertujuan untuk membatasi platform media sosial asing dengan dalih perlindungan warga.

Protes pada bulan Januari sebelumnya bermula dari krisis ekonomi dan berkembang menjadi gerakan nasional berskala besar. Pemerintah Iran mengklaim lebih dari 3 ribu orang tewas akibat ulah demonstran bersenjata yang didukung asing. Sementara itu, kelompok hak asasi manusia HRANA memverifikasi sedikitnya 7 ribu kematian selama unjuk rasa berlangsung.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan jumlah korban tewas warga sipil bisa mencapai lebih dari 20 ribu orang. Puluhan ribu orang yang mencakup demonstran dan pelajar juga telah ditangkap oleh aparat keamanan Iran. Banyak warga Iran yang mengadakan acara duka cita untuk mengenang 40 hari sejak kematian orang tua dan kerabat mereka.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team