ilustrasi unjuk rasa (unsplash.com/Vlad Tchompalov)
Unjuk rasa terjadi di institusi pendidikan terkemuka seperti Universitas Teheran, Universitas Teknologi Sharif, dan Universitas Amirkabir. Demonstran mengenakan pakaian hitam sebagai bentuk duka cita bagi para korban yang tewas dalam unjuk rasa sebelumnya. Mereka meneriakkan berbagai slogan seperti tuntutan kebebasan dan kecaman terhadap rezim yang dianggap otoriter.
Aksi tersebut berujung pada bentrokan yang melibatkan mahasiswa pro-pemerintah dari organisasi Basij. Kelompok loyalis yang didukung oleh aparat keamanan ini berkumpul di kampus untuk membakar bendera Amerika Serikat (AS) dan Israel. Mereka balas meneriakkan dukungan untuk Pemimpin Agung Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa anggota Basij diserang oleh demonstran. Namun, berbagai rekaman video yang beredar luas di media sosial justru menunjukkan kelompok Basij yang menyerang mahasiswa. Pasukan keamanan bersenjata lengkap juga dikerahkan untuk mengamankan jalan-jalan di area luar kampus.
Wakil urusan sosial Universitas Teheran, Hossein Goldansaz, mengakui adanya aksi protes tersebut kepada kantor berita Mehr. Ia memperingatkan agar tindakan para mahasiswa ini tidak memicu bentrokan.
“Slogan-slogan radikal hanya akan membuang waktu mahasiswa, dan mahasiswa harus sangat berhati-hati agar tidak berujung pada kekerasan” ujar Hossein Goldansaz, dilansir The New York Times.