Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Demo Tolak Imigran di Belanda Ricuh, 24 Orang Ditangkap
Ilustrasi demonstrasi (magnific.com/magnific)
  • Sekitar 500 demonstran sayap kanan menolak kebijakan imigrasi di Den Haag; aksi di Malieveld berubah ricuh dengan serangan terhadap aparat, yel antisemitisme, salam Nazi, dan spanduk rasialis.
  • Polisi antihuru-hara membubarkan massa memakai pentungan, pasukan berkuda, anjing pelacak, serta meriam air setelah izin pawai dicabut karena demonstran menolak melepas penutup wajah.
  • Sedikitnya 24 orang ditangkap atas dugaan pelanggaran ketertiban, perusakan, dan kepemilikan senjata ilegal; pemerintah mengecam aksi tersebut, sementara polisi melanjutkan penyelidikan termasuk intimidasi terhadap jurnalis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Polisi antihuru-hara bentrok dengan sekitar 500 demonstran sayap kanan di pusat kota Den Haag, Belanda, pada Sabtu (19/9/2026). Unjuk rasa menolak kebijakan imigrasi ini berujung ricuh setelah massa bertindak anarkis di ruang publik.

Aparat keamanan langsung mengambil tindakan tegas guna membubarkan kerumunan yang melanggar ketertiban umum tersebut. Situasi perlahan mulai kondusif setelah kepolisian setempat berhasil meredam kerusuhan.

1. Demo tolak imigran berujung ricuh

Aksi protes di kawasan Malieveld ini digagas oleh kelompok sayap kanan Wij Zijn Het Volk. Massa yang menolak kebijakan suaka ini menyerang aparat menggunakan kembang api dan benda tumpul di lokasi demonstrasi.

Sejumlah demonstran juga secara terbuka meneriakkan yel-yel antisemitisme, melakukan salam Nazi, dan membentangkan spanduk rasialis. Mereka berdalih lonjakan pengungsi telah mengancam kedaulatan negara.

"Kami benar-benar kehilangan negara ini akibat migrasi massal," kata Thijs Jansen, seorang mekanik yang ikut demo, dilansir DW.

2. Polisi kerahkan meriam air dan pasukan berkuda

Menghadapi eskalasi kekerasan, polisi antihuru-hara memukul mundur massa menggunakan pentungan. Pasukan berkuda dan anjing pelacak juga diturunkan guna memecah konsentrasi kerumunan yang makin beringas.

Pemerintah kota langsung mencabut izin pawai lantaran massa menolak melepas penutup wajah. Polisi akhirnya mengerahkan kendaraan water cannon atau meriam air untuk mendesak perusuh ke arah stasiun kereta utama hingga situasi terkendali.

"Oleh karena itu, kami membatalkan pawai dan hanya mengizinkan demonstrasi di Malieveld. Saat kekerasan berlanjut, kita harus segera menghentikannya," ujar Penjabat Wali Kota Den Haag, Richard de Mos.

3. Puluhan perusuh ditangkap dan dikecam pemerintah

Polisi telah menangkap setidaknya 24 orang yang terbukti menyerang petugas di lapangan. Para pelaku kini dijerat dengan berbagai pasal, mulai dari pelanggaran ketertiban umum, perusakan fasilitas, hingga kepemilikan senjata ilegal.

Aksi ekstremis ini memicu kecaman keras dari pemerintah karena dinilai mencederai pilar demokrasi. Polisi menegaskan penyelidikan terus berjalan untuk menindak seluruh pelaku, termasuk mereka yang mengintimidasi jurnalis di lokasi peliputan.

"Pemandangan serupa kembali terjadi dengan adanya salam ala Hitler, slogan antisemitisme, dan kekerasan terhadap polisi. Tindakan yang sangat tegas harus segera diambil," kata Menteri Kehakiman dan Keamanan Belanda, David van Weel.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article