Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Dibantu China, Houthi Disebut Bakal Bangun Sistem Rudal Canggih
potret sistem rudal (unsplash.com/Gabor Szuts)
  • Think tank Conflict Armament Research melaporkan China diduga akan memasok suku cadang bagi Houthi untuk mengembangkan sistem rudal balistik canggih.
  • Houthi disebut ingin membuat versi terbaru rudal Iran Kheibar Shekan, yang berjangkauan hingga 2.000 kilometer dan membutuhkan komponen serta desain sangat spesifik.
  • Laporan muncul saat konflik Houthi dengan Arab Saudi dan Yaman meningkat, setelah serangan ke Bandara King Khalid menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Milisi Houthi dikabarkan akan membangun sistem rudal balistik canggih dengan bantuan dari China. Kabar tersebut disampaikan oleh lembaga think tank asal Inggris yang sering melacak aliran senjata di zona perang di seluruh dunia, Conflict Armament Research, berdasarkan hasil investigasi yang mereka lakukan pada Rabu (14/10/2026). 

Dalam laporannya, Conflict Armament Research menjelaskan, China akan menyediakan suku cadang untuk membantu Houthi mengembangkan sistem rudal balistik canggih mereka. Sistem rudal tersebut diprediksi akan digunakan oleh Houthi untuk meningkatkan serangan ke Arab Saudi dan Yaman. 

1. Houthi akan membangun sistem rudal yang sama dengan Iran

potret rudal Iran (unsplash.com/Moslem Daneshzadeh)

Conflict Armament Research menambahkan, Houthi akan membangun sistem rudal balistik yang sama dengan Iran. Houthi akan membuat versi terbaru dari The Kheibar Shekan, sistem rudal balistik yang sering digunakan Iran ketika berperang. Sistem tersebut dikabarkan bisa menjangkau serangan sejauh hingga 2.000 kilometer.  

"Ambisi lokal Houthi untuk memproduksi komponen melampaui apa yang diasumsikan sebelumnya. Jenis komponen ini sangat spesifik dan memproduksinya akan membutuhkan informasi desain yang terkait dengan rudal tersebut," kata Fabian Hinz, seorang analis senior di Conflict Armament Research, seperti dilansir The New Arab.

2. China belum memberi klarifikasi hingga saat ini

potret bendera China (pexels.com/Hao Liang)

Sejumlah media sudah berupaya menghubungi Kedutaan Besar China yang ada di Washington D.C., Amerika Serikat (AS), untuk meminta keterangan soal kabar ini. Namun, mereka belum memberikan respons apa pun. Pemerintah pusat China di Beijing juga belum memberikan tanggapan. 

Terlepas dari kabar tersebut, China memang sering disebut membantu Iran dan sejumlah milisi di Timur Tengah untuk berperang. Namun, Negeri Tirai Bambu selalu menampik. China mengatakan tidak pernah membantu pihak mana pun di Timur Tengah untuk berperang. Sebab, mereka juga mengecam peperangan yang kini sedang terjadi di kawasan tersebut, seperti perang antara AS dan Iran, Israel dan Palestina, serta perang antara Israel dan Hizbullah di Lebanon.  

3. Perang antara Houthi dengan Arab Saudi dan Yaman semakin intens

ilustrasi perang (unsplash.com/Saifee Art)

Kabar ini muncul di tengah situasi perang antara Houthi dengan Arab Saudi dan Yaman yang semakin intens. Sebab, dalam beberapa hari terakhir, milisi tersebut semakin sering bertukar serangan dengan Riyadh dan Sanaa. 

Pada Selasa (13/10/2026) lalu, Arab Saudi dikabarkan melakukan serangan ke Sanaa, Ibu Kota Yaman yang kini dikuasai oleh Houthi. Serangan tersebut merupakan balasan karena Houthi telah menyerang Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Sabtu (10/10/2026) pekan lalu. Serangan tersebut menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article