Houthi Ancam Beri Respons Menyakitkan jika AS Ikut Perang Yaman

- Houthi mengancam respons cepat dan menyakitkan terhadap kepentingan AS di kawasan jika Washington terlibat perang Yaman, serta menyebut fasilitas minyak dan bandara Saudi sebagai target.
- Wacana keterlibatan AS muncul setelah serangan di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, yang menurut otoritas Saudi menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai 309 lainnya.
- Serangan dan pencegatan rudal berlanjut di Riyadh serta Khamis Mushait, mengganggu penerbangan internasional; PBB mendesak kedua pihak mundur untuk mencegah penderitaan berkelanjutan.
Jakarta, IDN Times - Seorang pejabat kelompok Houthi memperingatkan Amerika Serikat bahwa Washington akan menerima respons yang menyakitkan jika ikut campur dalam perang di Yaman. Peringatan tersebut disampaikan menyusul laporan bahwa Arab Saudi telah meminta bantuan Washington untuk menghadapi Houthi di tengah rentetan serangan yang terus berulang.
Peringatan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan untuk bergabung dalam serangan Arab Saudi terhadap Houthi menyusul insiden di Bandara Internasional King Khalid. Menanggapi pernyataan tersebut pada Senin (12/10/2026), perwakilan biro politik Houthi menegaskan siap menargetkan seluruh kepentingan AS di kawasan secara cepat jika Washington terlibat dalam agresi.
1. Houthi ancam serang kepentingan AS dan fasilitas minyak Saudi

ilustrasi kilang minyak (pexels.com/Ali Mucci) Anggota biro politik Houthi, Mohammed Al Bukhaiti, menyampaikan sikap kelompoknya dalam sebuah wawancara dengan kantor berita AFP. Dia menyatakan bahwa pihaknya tidak akan menunda keputusan untuk membalas jika Washington terlibat dalam pertempuran. "Jika AS terlibat dalam agresi terhadap Yaman, kami tidak akan ragu-ragu mengambil keputusan untuk merespons, melainkan akan ada respons yang cepat dan menyakitkan yang menargetkan AS dan seluruh kepentingannya di kawasan," ujar Al Bukhaiti.
Selain memperingatkan pihak AS, Al Bukhaiti turut meminta seluruh pegawai dan pekerja di fasilitas minyak serta bandara Arab Saudi untuk menjauhi area tersebut. Dia menegaskan bahwa lokasi-lokasi itu kini telah menjadi target yang sah bagi kelompok Houthi. Menurut Al Bukhaiti, kampanye serangan ini bertujuan menyampaikan pesan kepada Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman bahwa dia tidak lagi bisa melancarkan agresi terhadap Yaman dari posisi yang aman.
2. Donald Trump pertimbangkan opsi ikut dalam serangan Arab Saudi

Presiden AS Donald Trump (Marc Nozell from Merrimack, New Hampshire, USA, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons) Wacana keterlibatan AS mencuat setelah Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dihantam serangan pada Sabtu (10/10/2026). Dilansir Arab Times Online, serangan pada akhir pekan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 12 orang serta melukai 309 orang menurut otoritas Saudi, disusul insiden lanjutan pada hari berikutnya yang menewaskan seorang warga Pakistan dan melukai 11 orang. Gempuran di bandara ibu kota itu tercatat sebagai serangan paling mematikan di wilayah daratan Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Presiden AS Donald Trump menyatakan serangan ke bandara tersebut tidak dapat diterima dan menyebut pihaknya akan melihat kemungkinan bergabung dalam serangan Arab Saudi. Trump juga menyampaikan rencananya untuk berbicara langsung dengan pemimpin de facto kerajaan, Putra Mahkota Mohammed bin Salman. "Houthi bertindak sangat buruk. Mereka bertindak sangat buruk. Tidak baik," tutur Trump pada Senin (12/10/2026).
3. Serangan baru sasar bandara dan ganggu penerbangan internasional

Pesawat ERJ-170 Saudi Arabian Airlines di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh (DearEdward from New York, NY, USA, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons) Suasana tegang berlanjut hingga Senin malam saat ledakan kembali terdengar di Riyadh setelah koalisi pimpinan Saudi mencegat sebuah rudal Houthi, sementara kelompok tersebut mengklaim kembali menargetkan bandara. Koalisi juga mengumumkan telah mencegat dan menghancurkan dua rudal balistik menuju Khamis Mushait, sementara Houthi mengaku menyerang pangkalan di kota tersebut menggunakan pesawat nirawak. Peringatan bahaya udara dari pemerintah yang berbunyi kencang di ponsel warga bahkan sempat menunda sepak mula pertandingan antara klub Uzbekistan Neftchi Fergana melawan Al Nassr.
Operasional Bandara Internasional King Khalid masih ditangguhkan pada Senin akibat rentetan serangan tersebut. Maskapai Etihad Airways membatalkan seluruh penerbangan ke dan dari Riyadh hingga pekan depan serta menangguhkan penerbangan ke Dammam dan Jeddah. Sementara itu, Gulf Air membatalkan penerbangan hingga Sabtu, dan operator penerbangan AS Delta menunda peluncuran rute langsung Atlanta-Riyadh yang semula dijadwalkan pada 23 Oktober 2026.
Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman menyatakan peristiwa beberapa pekan terakhir telah menguji ketahanan infrastruktur, lembaga, dan rakyat kerajaan sehingga membutuhkan respons yang sama seriusnya. Terkait eskalasi yang terjadi, Kepala Hak Asasi Manusia PBB Volker Turk mengaku sangat terpukul oleh serangan berulang ke wilayah Saudi dan mendesak kedua pihak untuk mundur demi mencegah penderitaan tanpa akhir. Sementara itu, analis keamanan Universitas Ottawa Thomas Juneau menilai wilayah Arab Saudi terlalu luas sehingga mustahil bagi mereka untuk mempertahankan diri secara konsisten.






















