Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dino Djalal: 3 Reality Check Kebijakan Luar Negeri RI, Kurangi Exposure ke Trump
Founder FPCI Dino Patti Djalal membuka CIFP 2025. (IDN Times/Marcheilla Ariesta).
  • Dino Patti Djalal menilai pemerintah perlu evaluasi serius arah politik luar negeri agar tetap relevan di tengah dinamika global dan menjaga kredibilitas diplomasi Indonesia.
  • Ia menyoroti tiga reality check: fokus kembali ke Asia Tenggara, penyesuaian hubungan dengan Amerika Serikat, serta peningkatan kualitas praktik diplomasi yang lebih substansial.
  • Dino menegaskan pentingnya reposisi strategi luar negeri dengan menyadari keterbatasan pengaruh Indonesia dan memperkuat peran sebagai mesin utama ASEAN, bukan sekadar simbol kekuatan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
12 April 2026

Dino Patti Djalal melalui video yang diunggah di media sosial FPCI menyampaikan tiga 'reality check' bagi kebijakan luar negeri Indonesia. Ia menilai pemerintah perlu segera melakukan evaluasi sejak pecahnya konflik global terbaru untuk menjaga kredibilitas diplomasi.

kini

Pernyataan Dino menjadi sorotan dalam diskusi kebijakan luar negeri Indonesia, menekankan perlunya reposisi strategi dan pembenahan praktik diplomasi agar tetap relevan di tengah dinamika geopolitik global.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Dino Patti Djalal menyampaikan tiga “reality check” bagi pemerintah Indonesia untuk mengevaluasi arah kebijakan luar negeri di tengah situasi geopolitik global yang semakin kompleks.
  • Who?
    Pernyataan disampaikan oleh Dino Patti Djalal, pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), melalui video yang diunggah di media sosial organisasi tersebut.
  • Where?
    Pernyataan ini disampaikan dari Jakarta dan disebarkan melalui platform media sosial FPCI, menjangkau publik dan kalangan pemerhati kebijakan luar negeri.
  • When?
    Pernyataan Dino Patti Djalal dikutip pada Minggu, 12 April 2026, saat ia menyoroti dinamika politik luar negeri Indonesia pascakonflik global terbaru.
  • Why?
    Dino menilai evaluasi diperlukan agar diplomasi Indonesia tetap kredibel, efektif, serta mampu beradaptasi dengan perubahan cepat dalam persaingan geopolitik internasional.
  • How?
    Dino mengusulkan fokus pada Asia Tenggara, penyesuaian hubungan dengan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump, serta pembenahan praktik diplomasi agar lebih substansial dan profesional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Dino Patti Djalal bilang Indonesia harus mikir lagi soal cara berteman sama negara lain. Katanya dunia sekarang ribut dan susah, jadi Indonesia perlu hati-hati. Dia mau Indonesia fokus dulu ke Asia Tenggara, jaga hubungan baik sama Amerika, dan bikin kerja diplomasi lebih bagus. Sekarang pemerintah diminta perbaiki itu semua supaya kuat di dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Pernyataan Dino Patti Djalal menunjukkan kepedulian terhadap ketahanan dan kredibilitas diplomasi Indonesia di tengah perubahan global. Dengan menekankan perlunya fokus pada kawasan, penyesuaian hubungan internasional, dan peningkatan profesionalisme diplomasi, pandangannya mencerminkan optimisme bahwa melalui evaluasi yang matang, Indonesia dapat memperkuat peran strategisnya secara realistis dan substansial di kancah regional maupun global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, mengingatkan pemerintah Indonesia untuk melakukan evaluasi serius terhadap arah politik luar negeri di tengah dinamika global yang semakin kompleks. Ia menilai, meskipun gencatan senjata di sejumlah konflik internasional memberi ruang jeda, Indonesia tetap perlu melakukan penyesuaian strategi.

Menurut Dino, ada tiga ‘reality check’ yang harus segera dilakukan pemerintah sejak pecahnya konflik global terbaru. Ia menilai langkah ini penting untuk menjaga kredibilitas dan efektivitas diplomasi Indonesia di kancah internasional.

“Terlepas dari gencatan senjata sementara ini, ada 3 reality check yang perlu dilakukan pemerintah Indonesia semenjak pecahnya perang ini,” ujar Dino dalam video yang diunggah di sosial media FPCI, dikutip MInggu (12/4/2026).

Ia menekankan, tanpa evaluasi yang tepat, posisi Indonesia bisa melemah di tengah persaingan geopolitik global yang semakin tajam.

1. Fokus pada kawasan, hubungan global, dan gaya diplomasi

Founder FPCI Dino Patti Djalal. (IDN Times/Marcheilla Ariesta)

Reality check pertama, menurut Dino, adalah pentingnya Indonesia kembali fokus pada kawasan Asia Tenggara sebagai prioritas utama diplomasi.

Reality check kedua menyangkut hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat, khususnya dengan Presiden Donald Trump. Dino menilai perlu ada penyesuaian pendekatan agar tidak merugikan kepentingan nasional.

Sementara reality check ketiga adalah perlunya perbaikan dalam praktik diplomasi Indonesia agar lebih matang, strategis, dan tidak sekadar mengejar visibilitas.

“Diplomasi bebas aktif Indonesia harus mencerminkan kelihaian, kehati-hatian, dan juga kematangan,” ujarnya.

Ia menambahkan, diplomasi Indonesia seharusnya lebih menekankan substansi dibandingkan pencitraan. “Diplomasi yang lebih mementingkan bobot berbanding optik,” kata Dino.

2. Pentingnya reposisi di tengah geopolitik global

potret bendera Iran yang rusak (unsplash.com/Javad Esmaeili)

Dino juga menyoroti keterbatasan Indonesia dalam memengaruhi konflik besar di luar kawasan. Menurutnya, Indonesia tidak bisa terlalu jauh masuk ke konflik geopolitik Timur Tengah.

“Dalam perang Amerika, Israel, Iran, Indonesia tidak bisa berbuat banyak,” ujarnya.

Ia menekankan, setiap negara memiliki wilayah pengaruh masing-masing. Karena itu, Indonesia dinilai perlu melakukan “rekalibrasi” strategi dengan memprioritaskan kawasan sendiri.

“Kita harus menyadari keterbatasan Indonesia dalam dunia internasional,” kata Dino.

Menurutnya, langkah ini penting agar Indonesia tetap relevan dan efektif dalam memainkan peran diplomatiknya.

3. Tiga pesan utama untuk pemerintah

Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump dalam penandatanganan Board of Peace Charter. (Dok. The White House)

Di akhir pernyataannya, Dino merangkum tiga pesan utama yang ia tujukan kepada pemerintah Indonesia. “Intinya Indonesia tidak perlu menjadi macan ASEAN, tapi Indonesia sangat perlu menjadi mesin ASEAN,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya penyesuaian hubungan dengan Amerika Serikat serta perbaikan praktik diplomasi.

“Satu, urus kandang kita di Asia Tenggara. Dua, kurangi exposure terhadap Presiden Trump, dan tiga, benahi praktek diplomasi secara profesional,” tutupnya.

Editorial Team