Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Dua Kapal Perang AS Disebut Lewati Selat Hormuz
Kapal USS Frank E. Peterson (Commander Naval Sea Systems Command/Huntington Ingalls Industries, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Dua kapal perusak rudal AS, USS Frank E. Peterson dan USS Michael Murphy, melintasi Selat Hormuz untuk operasi pembersihan ranjau laut yang diduga ditanam IRGC demi membuka jalur pelayaran aman.
  • Pemerintah Iran membantah klaim AS soal perlintasan kapal perang tersebut dan menegaskan seluruh aktivitas di Selat Hormuz berada di bawah kendali militernya, dengan ancaman tindakan tegas bagi kapal asing tanpa izin.
  • Delegasi AS dan Iran menggelar pertemuan bersejarah di Islamabad membahas isu nuklir, aset beku, serta situasi Israel-Lebanon, sementara kendali atas Selat Hormuz menjadi topik utama negosiasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times Amerika Serikat (AS) menyatakan dua kapal perusak rudalnya telah melintasi Selat Hormuz. Komando Pusat AS (CENTCOM) pada Sabtu (11/4/2026) menyebut USS Frank E. Peterson dan USS Michael Murphy sudah melewati perairan itu sebelum melanjutkan operasi di Teluk Arab.

Operasi tersebut diarahkan untuk menyingkirkan ranjau laut yang disebut ditanam Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC). CENTCOM juga menjelaskan langkah ini dilakukan guna membuka rute pelayaran yang dinilai aman bagi aktivitas maritim.

Gambaran mengenai tujuan operasi ini disampaikan langsung oleh Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper.

“Hari ini, kami memulai proses membangun jalur baru, dan kami akan membagikan jalur aman ini dengan industri maritim segera untuk mendorong aliran perdagangan yang bebas,” kata Cooper, dikutip France 24.

1. Selat Hormuz menjadi jalur vital distribusi energi dunia

Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Selat Hormuz dikenal sebagai jalur laut sempit dengan peran strategis bagi perdagangan global. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia melintas di kawasan ini, termasuk distribusi pupuk dan berbagai komoditas komersial lainnya.

Iran menutup akses selat bagi sebagian besar kapal setelah serangan AS-Israel dimulai 28 Februari 2026. Hanya kapal yang sudah memperoleh izin sebelumnya yang tetap dapat melintas di perairan tersebut.

Dampak dari penutupan ini terasa luas terhadap distribusi logistik. Pengiriman barang komersial dan militer mengalami hambatan besar, sementara harga bahan bakar global ikut melonjak.

2. Iran bantah klaim AS soal perlintasan kapal militer

ilustrasi bendera iran (pexels.com/aboodi vesakaran)

Pihak Iran segera menolak pernyataan dari AS terkait perlintasan kapal perang tersebut. Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran menegaskan klaim itu tidak benar dan menyebut seluruh aktivitas pelayaran berada di bawah kendali Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran.

Komando Angkatan Laut IRGC juga mengeluarkan peringatan keras terhadap kapal militer asing. Mereka menegaskan tindakan tegas akan diambil jika ada kapal yang mencoba melintas tanpa izin, dan hanya kapal sipil dengan syarat tertentu yang diperbolehkan melintas.

Penjelasan tambahan disampaikan Direktur Jenderal Institut Stabilitas Strategis Asia Selatan yang berbasis di Pakistan, Maria Sultan, dalam wawancara televisi terkait kondisi di lapangan.

“Jadi pahami, [jika] Iran tidak memberikan perlintasan aman, mustahil bagi armada militer Amerika untuk bergerak bebas di Selat Hormuz,” katanya kepada Al Jazeera.

3. Negosiasi AS dan Iran berlangsung di Islamabad

Bendera Pakistan (pexels.com/Talha Riaz)

Situasi ini berlangsung bersamaan dengan pertemuan langsung antara delegasi AS dan Iran di Islamabad, Pakistan. Pihak AS diwakili Wakil Presiden JD Vance, sedangkan delegasi Iran dipimpin ketua parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf.

Pertemuan tersebut menjadi kontak tingkat tinggi pertama sejak Revolusi Islam Iran 1979. Dialog ini digelar setelah kedua negara menyepakati gencatan senjata awal yang telah diumumkan sebelumnya.

Meski telah ada kesepakatan awal, sejumlah isu penting masih menjadi perdebatan antara kedua pihak. Topik yang dibahas mencakup program nuklir Iran, pencairan aset Iran yang dibekukan, serta posisi aksi Israel di Lebanon dalam kerangka gencatan senjata.

Di sisi lain, pejabat Iran menyebut terdapat pemahaman agar Israel menghentikan serangan di Beirut dan wilayah sekitarnya meski belum diumumkan secara resmi. Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim News Agency, melaporkan bahwa kendali atas Selat Hormuz menjadi salah satu isu utama dalam perundingan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team