Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)
Situasi ini berkaitan dengan dinamika internasional, termasuk blokade Selat Hormuz yang memengaruhi distribusi kapal tanker minyak menuju Eropa. Kondisi tersebut ikut menekan pasokan energi di kawasan tersebut.
Lufthansa mengatakan kepada Die Welt bahwa semakin lama blokade berlangsung, pasokan bahan bakar jet akan semakin tertekan hingga memicu lonjakan harga lebih dari 100 persen di beberapa wilayah. CEO Ryanair Michael O’Leary juga memperingatkan risiko gangguan pasokan di Eropa pada Mei dan Juni jika konflik Iran berlanjut, meski ketersediaan saat ini masih aman hingga akhir Mei dan potensi pembatalan penerbangan musim panas tetap terbuka.
Euronews melaporkan Italia memiliki cadangan pasokan hingga sekitar tujuh bulan, tetapi rantai distribusi di Eropa dinilai masih rentan. Koresponden perjalanan The Independent, Simon Calder, mencatat maskapai besar dari Inggris dan Irlandia menilai stok cukup hingga akhir April, sementara Departemen Keamanan Energi dan Net Zero Inggris menyebut pasokan jet fuel terus masuk dari India, Amerika Serikat, dan Belanda.
Air New Zealand juga menyesuaikan operasinya dengan memangkas jaringan domestik untuk Mei dan Juni akibat tingginya biaya bahan bakar. Secara keseluruhan, langkah pembatasan ini dilakukan untuk mengelola cadangan yang menipis akibat lonjakan permintaan dan tekanan geopolitik, dengan pemantauan berlanjut terhadap pasokan dari berbagai sumber alternatif.