Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Fakta-fakta Selat Hormuz, Jalur Perdagangan Minyak Dunia yang Ditutup Iran
Ilustrasi Selat Hormuz (commons.wikimedia.org/Hossein Zohrevand)

  • Selat Hormuz adalah jalur vital bagi sepertiga pasokan minyak dunia, dapat memicu kekhawatiran harga energi global dan ketegangan politik di berbagai belahan dunia.

  • Lebar Selat Hormuz hanya 33 kilometer, tetapi menjadi titik pertemuan minyak paling signifikan di dunia dengan 20 juta barel minyak harian mengalir melalui selat ini.

  • Jalur pelayaran Selat Hormuz hanya dapat dilewati oleh kapal supertanker, penutupan selat akan merugikan China dan negara-negara Asia lainnya yang bergantung pada minyak mentah dan gas alam yang dikirim melalui jalur air tersebut.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Garda Revolusi Iran mengumumkan pada hari Sabtu (28/2) bahwa Selat Hormuz telah ditutup untuk navigasi internasional hingga pemberitahuan lebih lanjut, menyatakan bahwa keputusan tersebut diambil sebagai tanggapan terhadap apa yang mereka sebut sebagai "serangan AS dan Israel" yang menargetkan wilayah Iran dalam beberapa jam terakhir.

1. Karakteristik Selat Hormuz

Selat adalah jalur air sempit yang sering kali memisahkan dua daratan dan menghubungkan dua perairan besar, seperti laut atau samudra. Selat terjadi secara alami. Selat Hormuz sendiri memiliki lebar 35 hingga 60 mil (55 hingga 95 kilometer) dan memisahkan Iran (utara) dari Semenanjung Arab (selatan). Selat ini memiliki pulau Qeshm (Qishm), Hormuz, dan Hengām (Henjām). 

Karena aliran minyaknya yang tinggi, Selat Hormuz adalah titik pertemuan minyak yang paling signifikan di dunia. Oleh karena itu, pengaruh geografis atas pengiriman global memberi Iran kapasitas untuk menyebabkan guncangan di pasar minyak, menaikkan harga minyak dan mendorong inflasi.

Secara geografis, Selat Hormuz berada di antara Iran (utara) dan Oman (selatan). Iran memiliki posisi strategis karena garis pantainya menghadap langsung jalur pelayaran. Armada militer Iran dan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) rutin berpatroli di wilayah tersebut.

Di sisi lain, Amerika Serikat dan sekutunya juga menjaga kehadiran militer untuk memastikan kebebasan navigasi, biasanya melalui Armada Kelima AS yang berbasis di Bahrain.

Di balik bentang perairan sempit yang memisahkan Teluk Persia dan Teluk Oman, Selat Hormuz menyimpan peran strategis yang besar dalam peta geopolitik dunia. Meskipun lebarnya hanya sekitar 33 kilometer di titik tersempit, selat ini menjadi jalur vital bagi sepertiga pasokan minyak dunia yang diangkut lewat laut.

Artinya, apa pun yang terjadi di Selat Hormuz; baik ketegangan militer, insiden kapal, hingga kebijakan ekspor, dapat mengguncang harga energi global dan memicu kekhawatiran di berbagai belahan dunia.

Tak hanya kaya secara strategis, wilayah ini juga menyimpan fakta-fakta menarik yang jarang diketahui publik. Mulai dari pentingnya selat ini bagi ekonomi global, sampai ketegangan politik yang kerap memanas antara negara-negara yang berbatasan langsung dengannya seperti Iran, Uni Emirat Arab, dan Oman.

2. Jalur perdagangan minyak

Strait of Hormuz menjadi jalur utama pengiriman minyak mentah dari kawasan Teluk Persia ke pasar global. Iran menguasai sisi utara selat tersebut, sehingga memiliki posisi strategis dalam setiap dinamika keamanan di wilayah itu.

Berdasarkan data U.S. Energy Information Administration (EIA), sekitar 20 juta barel minyak per hari, setara hampir seperlima konsumsi global—melewati Selat Hormuz. Volume tersebut menjadikannya salah satu titik paling krusial dalam perdagangan energi dunia.

Karena lebarnya relatif sempit dan jalur pelayarannya terbatas, selat ini rentan terhadap serangan militer, sabotase, maupun ancaman penutupan. Setiap ketegangan di kawasan tersebut hampir selalu berdampak langsung pada harga minyak dan stabilitas ekonomi global.

3. Jalur pelayaran yang sempit

Dalam hal pengangkutan minyak, Selat Hormuz sebenarnya jauh lebih sempit daripada lebar resminya yang hanya 21 mil. Jalur pelayarannya hanya dapat dilewati oleh kapal supertanker, selebar sekitar dua mil di setiap arah, mengharuskan kapal-kapal tersebut melewati perairan teritorial Iran dan Oman.

Oleh sebab itu penutupan Selat Hormuz akan sangat merugikan bagi China dan negara-negara Asia lainnya yang bergantung pada minyak mentah dan gas alam yang dikirim melalui jalur air tersebut. EIA memperkirakan bahwa 84 persen dari minyak mentah dan 83 persen dari gas alam cair yang bergerak melalui Selat Hormuz tahun lalu masuk ke pasar-pasar Asia.

China, pembeli terbesar minyak Iran, memasok 5,4 juta barel per hari melalui jalur tersebut pada kuartal pertama tahun ini, sementara India dan Korea Selatan mengimpor 2,1 juta dan 1,7 juta barel per hari. Sebagai perbandingan, Amerika Serikat dan Eropa mengimpor hanya 400.000 sampai 500.000 barel per hari, masing-masing, pada periode yang sama.

Meskipun ada infrastruktur pipa alternatif, namun infrastruktur ini tidak terlalu luas. Hanya 4,2 juta barel per hari minyak mentah yang dapat dialihkan melalui jalur darat. Jumlah ini hanya sebagian kecil dari volume harian normal yang melewati Selat Hormuz.

Sebagai salah satu jalur energi terpenting di dunia, Selat Hormuz terus berada dalam sorotan setiap kali ketegangan geopolitik meningkat. Awal 2026, peringatan dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) kepada kapal-kapal yang melintas sempat memicu gangguan pelayaran, meski belum ada deklarasi resmi penutupan permanen dari pemerintah Iran. Mengingat sekitar 20 juta barel minyak per hari, hampir seperlima pasokan global menurut U.S. Energy Information Administration (EIA), melewati jalur sempit tersebut, setiap ancaman di kawasan ini selalu berdampak langsung pada harga energi dan stabilitas ekonomi global.

Editorial Team