Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Hizbullah Desak Lebanon Batalkan Rencana Dialog dengan Israel
pemimpin Hizbullah Naim Qassem (al-vefagh.com, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
  • Hizbullah menolak rencana dialog Lebanon-Israel di Washington, menilai negosiasi itu hanya akan menguntungkan Israel dan melemahkan posisi mereka.
  • Pemerintah Lebanon fokus pada gencatan senjata, sementara Israel menargetkan pelucutan senjata Hizbullah dan perjanjian damai jangka panjang.
  • Pasukan Israel mengepung kota Bint Jbeil, menyebabkan ribuan korban jiwa dan lebih dari sejuta warga Lebanon mengungsi akibat serangan berkelanjutan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, mendesak pemerintah Lebanon membatalkan rencana pertemuan dengan Israel. Pertemuan perwakilan kedua negara tersebut dijadwalkan berlangsung di Washington, Amerika Serikat (AS), pada Selasa (14/4/2026) untuk membahas potensi negosiasi langsung antara Lebanon dan Israel di tengah konflik yang memanas.

Pihak Hizbullah menolak rencana negosiasi langsung dengan musuh mereka tersebut. Mereka menilai pembicaraan itu tidak akan menghasilkan solusi yang adil dan hanya akan menjadi konsesi yang menguntungkan Israel.

1. Hizbullah anggap perundingan sebagai taktik pelucutan senjata

tentara Hizbullah saat latihan militer (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Qassem menganggap rencana pertemuan itu sebagai taktik yang dirancang untuk melemahkan posisi kelompoknya. Israel dinilai hanya memanfaatkan dialog tersebut untuk menekan dan pada akhirnya melucuti senjata Hizbullah.

"Israel dengan jelas menyatakan bahwa tujuan negosiasi ini adalah untuk melucuti senjata Hizbullah. Kami tidak akan beristirahat, berhenti atau menyerah," tegas Qassem, dilansir Al Jazeera.

Qassem bahkan menuduh pemerintah Lebanon telah menusuk kelompoknya dari belakang. Tudingan ini muncul setelah Beirut menyatakan aktivitas militer Hizbullah sebagai tindakan ilegal pada awal perang.

Ratusan pendukung Hizbullah juga turun ke jalan menggelar protes untuk menentang rencana pembicaraan dengan Israel. Mereka menuduh Perdana Menteri (PM) Lebanon, Nawaf Salam, telah mengkhianati perjuangan rakyat.

2. Israel ingin kesepakatan jangka panjang

PM Israel Benjamin Netanyahu (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Pemerintah Lebanon menjadikan gencatan senjata sebagai prioritas saat ini. PM Salam berulang kali menegaskan komitmennya untuk segera menghentikan pertempuran dan menuntut penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon.

Namun, Israel lebih memilih untuk berfokus pada pembicaraan damai formal untuk mengakhiri perselisihan selama puluhan tahun.

"Kami menginginkan pembongkaran senjata Hizbullah. Kami juga menginginkan perjanjian perdamaian sejati yang akan bertahan dari generasi ke generasi," kata Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu, dilansir Euronews.

Netanyahu menyatakan pasukannya masih memiliki banyak hal yang harus diselesaikan di lapangan. Target utama operasi militer mereka saat ini adalah menciptakan zona keamanan di perbatasan selatan Lebanon.

3. Pasukan Israel kepung kota Bint Jbeil

tentara Israel di Lebanon selatan. (wikimedia/IDF Spokesperson's Unit)

Pasukan darat Israel mengklaim telah mengepung kota Bint Jbeil di kawasan selatan Lebanon. Kota ini merupakan salah satu titik strategis yang diperebutkan dalam pertempuran tersebut.

Di sisi lain, pejuang Hizbullah menolak mundur dan terus memberikan perlawanan. Mereka mengklaim telah melancarkan serangkaian serangan untuk memukul mundur pasukan Israel di wilayah Bint Jbeil.

Serangan udara dan invasi Israel tercatat telah menewaskan sedikitnya 2.055 orang di Lebanon sejak awal Maret. Angka ini mencakup 165 anak-anak dan 80 tenaga medis.

Fasilitas kesehatan darurat dan kendaraan evakuasi Palang Merah juga tidak luput dari gempuran militer Israel. Selain itu, lebih dari 1,2 juta warga Lebanon terpaksa mengungsi demi mencari tempat yang aman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team